Connect with us

Blitar

Batal Jadi Polisi, Warga Tepas Kena Kemplang Rp 500 Juta

Diterbitkan

||

Korban saat melaporkan BS dan B ke Mapolres Blitar Kota

Memontum Blitar— Wahyu Putra Wicaksono (28) pemuda asal Desa Tepas Kecamatan Kesamben Kabupaten Blitar, menjadi korban penipuan perekrutan anggota polisi. Dia dijanjikan bisa langsung menjadi anggota polisi asal membayar sejumlah uang sekitar Rp 500 juta. Diduga pelaku atas nama Bonie Setiawan (BS) warga jalan Nias Kota Blitar dan Bambang Suwito (B) warga jalan WR. Supratman Kota Blitar.

 

Wahyu Putra Wicaksono mengaku, kejadian tersebut berawal pada 2015 lalu, dia ditawari dan dijanjikan ke dua pelaku, jika mereka berdua sanggup untuk membantu proses pendaftaran hingga perekrutan korban untuk menjadi anggota kepolisian. Dengan syarat harus membayar sejumlah uang untuk mengurus dokumen-dokumen yang diperlukan. Dia mengaku sudah mengeluarkan uang mencapai Rp 500 juta, namun sampai sekarang korban belum menjadi anggota Polri.

 

“Saya bawa bukti-bukti pembayaran sejumlah uang ke pelaku. Pembayarannya secara bertahap, ada yang tunai, ada yang transfer. Ini ada bukti pembayaran tunai ke pelaku yang bermaterai”, kata Wahyu Putra Wicaksono, Kamis (18/10/2017).

 

Lebih rinci Wahyu mejelaskan, semua berawal ketika Wahyu hendak mendaftar sebagai anggota Brigadir Polisi khusus Penyidik Pembantu pada Juli 2015 lalu. Saat hendak mendaftar, dia ditawari oleh kenalan orangtuanya yaitu B, warga Kota Blitar, mengaku bisa membantu memasukan anggota Polri lewat jalur belakang.

 

“Saya langsung kepincut dengan tawaran B. Selanjutnya B mengenalkan saya dengan BS, juga warga Kota Blitar. BS ini yang mengaku punya jaringan untuk memasukkan menjadi anggota Polri lewat jalur belakang”, ungkap Wahyu.

 

Selanjutnya Wahyu diminta menyiapkan uang tunai Rp 275 juta. Dengan sejumlah uang tersebut, BS menjamin korban bisa diterima menjadi anggota Polri. Untuk memenuhi permintaan BS tersebut, orang tua Wahyu terpaksa menjual sawah miliknya.

 

“Saat memberikan uang kepada BS, juga disaksikan B. Dan B bilang akan tanggungjawab. Saya kenalnya dengan B, makanya kami percaya, dan orangtua saya jual sawah untuk membayar sejumlah uang tersebut”, jelas Wahyu.

 

Setelah membayar Rp. 275 juta, ternyata korban tetap gagal menjadi anggota Polri. Korban mengaku, hanya ikut ujian masuk polisi sampai pantokir di Surabaya. Selanjutnya korban berusaha menghubungi B dan BS lagi. Namun B dan BS menyarankan Wahyu ikut seleksi lagi pada 2016.

 

“Saya bilang ke mereka kalau tahun itu (2015.red), usia saya terakhir untuk daftar polisi. Tapi mereka bilang nanti bisa diatur, saya ikut saran mereka”, tandasnya.

 

Mengikuti arahan B dan BS, pada 2016, korban mengikuti seleksi lagi. Dan koeban diminta membayar lagi sebesar Rp 15 juta untuk perubahan data pribadi. Beberapa waktu kemudian, BS menelepon korban dan mengatakan, jika korban sudah lolos masuk anggota Polri. Bahkan BS mengatakan akan mengantar korban saat mengikuti pendidikan. Namun sebelum berangkat pendidikan, korban dihubungi BS lagi, dan meminta korban agar menyiapkan uang lagi Rp 40 juta. Uang itu katanya untuk menutup anggota di Mabes Polri.

 

“Saya bayar lagi Rp 15 juta dan Rp 40 juta ke BS, tetapi tetap tidak ada panggilan mengikuti pendidikan”, keluh korban,
Kemudian korban, kembali menghubungi B dan BS. Kali ini BS mengatakan, kalau nama korban sudah diblacklist di Polda Jatim. Sehingga korban tidak bisa lagi mendaftar anggota polisi di Polda Jatim.

 

Selanjutnya BS menyarankan agar korban ikut pendaftaran anggota polisi di Kalimantan. Akan tetapi korban harus mengeluarkan sejumlah uang lagi untuk pendaftaran anggota polisi di Kalimantan. Permintaan tersebut masih dituruti korban, namun sampai sekarang korban tetap belum masuk menjadi anggota Polri. Akhirnya, korban sadar menjadi korban penipuan. Selanjutnya dengan didampingi Komite Rakyat Pemberantas Korupsi (KRPK), korban melaporkan kasus tersebut ke Polres Blitar Kota.

 

“Saat mau daftar polisi di Kalimantan, saya membayar lagi ke BS sekitar Rp 200 juta. Itu uang utangan. Kalau ditotal semua, saya sudah mengeluarkan uang Rp 500 juta ke BS. Karena saya merasa tertipu, kasus ini saya laporkan ke polisi”, ungkap Wahyu Putra Wicaksono.

 

Sementara Ketua KRPK, Mohamad Trianto meminta, agar kasus dugaan penipuan dan penggelapan ini, diproses sampai tuntas. Hal ini jelas mencoreng nama baik institusi Polri. Diduga jumlah korban penipuan ini, tidak hanya 1 orang.

 

“Ada 5 orang yang mengadu ke kami dan mengaku telah menjadi korban penipuan oleh pelaku. Masa enak banget mau menjadi anggota kepolisian tidak usah tes segala macem, langsung bayar uang langsung dilantik. Isu yang berkembang dimasyarakat seperti itu”, kata Trianto.

 

Kasat Reskrim Polres Blitar membenarkan pengaduan tersebut. Namun pihaknya menyarankan korban untuk membuat somasi terlebih dulu kepada pelaku, sebanyak 3 kali berturut-turut.

 

“Setelah dilakukan somasi, dan terlapor tetap tidak ada itikad baik, maka korban dipersilakan melapor lagi ke polisi” tandas Heri Sugiono.

 

Ditegaskan Heri, dalam proses rekrutmen anggota Polri tidak dipungut biaya. Kalau ada pihak yang mengiming-imingi dapat membantu memasukkan anggota Polri dengan membayar sejumlah uang, itu dapat dipastikan penipuan.

 

“Kalau ada yang ngiming-ngimini bisa memasukkan menjadi anggota Polri dengan membayar sejumlah uang silakan lapor ke kami. Masyarakat jangan mudah percaya dengan modus penipuan seperti itu”, tegas Kasat Reskrim Polres Blitar Kota. (fjr/yan)

Advertisement
klik untuk berkomentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Blitar

Puluhan Santriwati Ponpes di Blitar Diduga Keracunan Sajian Bakso

Diterbitkan

||

Dari total 94 santriwati yang sakit, 23 diantaranya dibawa ke Puskesmas Nglegok untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut

Memontum Blitar – Puluhan santriwati pondok putri salah satu pesantren di Desa Jiwut, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar diduga mengalami keracunan. Bahkan, sebagian harus menjalani rawat inap di Puskesmas Nglegok.

Kepala Puskesmas Nglegok, Yudia Supradini mengatakan, total ada 94 santriwati yang diduga mengalami keracunan. Mereka mengalami gejala seperti mual, pusing hingga muntah.

“Pemicunya diduga karena makan bakso hari Jumat kemarin. Mereka kemarin sebagain ada yang puasa jadi mereka buka puasa bersama lalu makan bakso. Kemudian tadi pagi sekitar jam 06.00 mulai ada yang sakit perut,” kata Yudia Supradini, Sabtu (14/9/2019).

Lebih lanjut Yudia Supradini menyampaikan, pihak pondok pesantren sebelumnya menghubungi petugas Puskesmas Nglegok untuk memeriksa santriwati yang sakit. Kemudian setelah diperiksa dari total 94 santriwati yang sakit 23 diantaranya dibawa ke Puskesmas untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.

“Pagi tadi kami dipanggil kesana untuk memeriksa santriwati yang sakit. Kemudian kami periksa lalu santriwati yang membutuhkan penanganan lebih lanjut kita bawa ke Puskesmas,” jelasnya.

Yudia menandaskan, saat ini 23 santriwati yang dirawat kondisinya sudah mulai membaik. (jar/yan)

 

Lanjutkan Membaca

Blitar

Gelorakan Cintai Papua, Anggota Polres Blitar Gelar Formasi We Love Papua

Diterbitkan

||

Formasi We Love Papua yang dilakukan anggota Polres Blitar di halaman Mapolres Blitar

Memontum Blitar – Sebagai bentuk cinta NKRI dan cinta Papua, anggota Polres Blitar membentuk formasi barisam “We Love Papua” di halaman Mapolres Blitar, Sabtu pagi (14/09/2019). Kegiatan ini melibatkan 220 anggota Polres Blitar, yang dilakukan secara spontanitas setelah melakukan olahraga senam bersama.

Kapolres Blitar AKBP. M. Anissullah M. Ridha mengatakan, presiden Jokowi menggaungkan untuk cinta kepada NKRI dan cinta Papua. Dalam formasi barisan tersebut anggota polres Blitar mengenakan baju olah raga atas berwarna kuning, dan training hitam serta menggunakan peci berwarna putih sementara Polisi Wanita (Polwan) mengenakan kerudung putih.

“Kegiatan yang dilakukan secara spontanitas setelah melakukan olah raga senam bersama ini, sebagai bentuk cinta NKRI dan cinta Papua,’ kata Anissullah M. Ridha.

Lebih lanjut Anissullah M. Ridha menyampaikan, kegiatan seperti ini akan terus dilakukan oleh Polres Blitar untuk menyebarkan semangat kepada masyarakat untuk cinta kepada Papua.

“Gelora cinta kepada Papua, semangatnya sampai Papua, Indonesia Cinta Papua dan Blitar Cinta Papua,” tandas Anissullah.

Saat di foto menggunakan drone, formasi “We Love Papua” tampak cantik. Gelora cinta Papua akan terus di gaungkan oleh Polres Blitar hingga suasana di Papua kembali kondusif, pasca insident kerusuhan beberapa minggu yang lalu. (jar/yan)

 

Lanjutkan Membaca

Blitar

Penjaringan Bacawali, Anak Samanhudi Gandeng Plt Wali Kota Blitar

Diterbitkan

||

Henry Pradipta Anwar bersama Plt Wali Kota Blitar Santoso mengembalikan formulir pendaftaran Cawali dan Cawawali Kota Blitar 2020 di Kantor DPC PDI Perjuangan Kota Blitar

Memontum Kota Blitar – Henry Pradipta Anwar, anak sukung Wali Kota Blitar nonaktif Samanhudi Anwar mengembalikan formulir penjaringan bakal calon Wali Kota Blitar ke DPC PDI Perjuangan Kota Blitar, Sabtu (14/9/2019). Yang mengejutkan mantan anggota DPRD Kota Blitar ini mengandeng Plt Wali Kota Blitar Santoso sebagai bakal calon wakil wali kota. Padahal sebelumnya, keduanya sendiri-sendiri saat mengambil formulir ke DPC PDIP di Jalan Dr Wahidin Kota Blitar.

“Saya dan Pak Santoso Insyaalah satu paket, saya sebagai bakal calon Wali Kota, Pak Santoso wakil wali kota. Kami satu visi misi meskipun kemarin kita datang mengambil formulis sendiri-sendiri Insyaallah nanti kami satu paket,” kata Henry Pradipta Anwar usai mengembalikan formulir.

Sementara Plt Wali Kota Blitar Santoso mengaku tidak keberatan untuk mendampingi Henry aebagai bakal calon wakil wali kota. Dia mengaku sebagai petugas partai harus siap menjalankan tugas yang diberikan.

“Saya sebagai petugas partai kalau nanti dari DPP menugaskan seperti itu (bacalon wakil wali kota mendampingi Henry) saya mengijuki. Tugas itu harus dipatuhi Insyaallah akan saya jalankan,” tandas Santoso.

Pengembalian formulir Henry dan Santiso ke kantor DPC PDIP Kota Blitar ini sempat mengundang perhatian warga dan para pengendara. Karena ratusan kader dan simpatisan konvoi berjalan kaki dari kediaman Henry di Jalan Kelud menuju kantor DPC PDIP di Jalan Dr Wahidin. (jar/yan)

 

Lanjutkan Membaca
Advertisement

Terpopuler