Connect with us

Berita

Petani Tembakau ‘Menjerit’

Diterbitkan

||

Yasid ditengah tembakau (sam)

Memontum BondowosoPetani tembakau menjerit karena harga tembakau turun hingga 25% dibanding tahun-tahun sebelumnya. Sebutan tanaman mas untuk tembakau tidak berlaku lagi. Ditambah lagi sampai saat ini, Pabrik Rokok (PR) yang beroperasi di Bondowoso belum melakukan pembelian terhadap tembakau milik petani. Lengkaplah penderitaan petani tembakau.

Menurut Ketua DPC APTI (Dewan Pimpinan Cabang Asosiasi Petani Tembakau Indonesia) Bondowoso, Mohammad Yasid, hanya sebagian kecil gudang milik PR yang melakukan pembelian tembakau. “Sekarang sudah masa panen tembakau. Kalau hasil panen petani tidak segera dibeli, bisa rugi. Padahal biaya produksinya bukan modal sendiri, hasil pinjaman,” kata Yasid, panggilannya.

Sebetulnya, kata Yasid, sudah ada kemitraan antara petani tembakau dengan PR. Tapi pola kemitraan tersebut tidak bisa mendongkrak harga yang turun hingga 25%. Seakan-akan pola kemitraan tersebut tidak ada manfaatnya. “Kami, tanggal 1 September 2020 mendapat daftar harga tembakau dari PR. Setelah saya bandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, harganya turun hingga 25%,” terangnya.

Riil dilapangan, average atau rata-rata harga tembakau perkilo, sekitar Rp 19.000,00. Walaupun ada juga yang berharga Rp 22.000,00. Dengan harga seperti itu, petani rugi. “Pada tahun sebelumnya, panen pertama harganya mencapai Rp 30.000,00/kg. Sekarang harganya antara Rp 19 ribu hingga Rp 22 ribu,” keluh Yasid sambil garuk-garuk kepala.

Yasid juga mengeluhkan sikap Gudang PR yang pilih-pilih daun tembakau. Sehingga menambah tembakau milik petani yang tidak bisa terjual. “Saya berharap pemerintah membantu petani,” harapnya. (sam/mzm)

 

Lanjutkan Membaca
Advertisement
klik untuk berkomentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *