Connect with us

Hukum & Kriminal

Sugeng Divonis Hukuman Mati, Pihak Kuasa Hukum Belum Ajukan PK

Diterbitkan

||

Sugeng Santoso. (dokumen gie)

Memontum Kota Malang – Terkait vonis Hukuman mati Sugeng Santoso (49) warga Jl Jodipan Gang III, Kota Malang, pihaknya hingga Selasa (15/9/2020) sore, belum mengajukan Peninjauan Kembali (PK) maupun Grasi. Iwan Kuswardi SH MH, ketua tim kuasa hukum Sugeng saat dikonfirmasi Memontum.com melalui ponselnya menjelaskan bahwa sampai saat ini pihaknya belum mendapatkan salinan putusan Mahkamah Agung (MA). “Saya belum berkomentar apa alasan Mahkamah Agung memperberat hukuman Sugeng menjadi pidana mati,” ujar Iwan Kuswardi.

Pihaknya merasa prihatin dengan putusan MA tersebut. “Dalam hati kecil saya sebagai seorang Advokat, hanya bisa prihatin saja dengan putusan MA tersebut. Bagaimana memberikan pertimbangan hukum terhadap alat bukti Visum et Repertum yang kesimpulannya berbunyi jenazah dipotong post mortem,” ujar Iwan.

Pihaknya akan mendatangi Sugeng terkait putusan MA ini. ” Kalau rencananya tim penasehat hukum akan mengajukan upaya hukum. Namun semua ini tergantung pada Sugeng. Kalau dia menerima putusan tersebut tim penasehat hukum tidak bisa bisa apa-apa,” ujar Iwan.

Dia menambahkan bahwa harusnya hasil Visum et Repertum menjadi bukti akurat yang harus dipertimbangkan. ” Visum menjadi bukti yang akurat untuk menentukan penyebab kematian seseorang. Dalam kasus Sugeng kesimpulan Visum et Repertum berbunyi jenasah dipotong post mortem artinya jenasah meninggal lebih dahulu baru dipotong-potong oleh Sugeng. Bukan meninggal karena dipotong oleh Sugeng,” ujar Iwan kembali menegaskan terkait hasil visum korban.

Ditambahkan pula kejiwaan Sugeng juga kembali dipertanyakan. “Persoalan menjadi rumit karena kejiwaan Sugeng sama sekali tidiak dilakukan pemeriksaan apakah Sugeng termasuk orang yang normal sehingga bisa mempertanggung jawabkan perbuatan pidana atau sebaliknya,” ujar Iwan.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, mayat perempuan korban pembunuhan ditemukan di lantai 2 Pasar Besar Kota Malang Jl Pasar Besar, Kota Malang, Selasa (14/5/2019) pukul 13.30. Sepasang kaki dan sepasang tangan ditemukan di bawah tangga, badan ditemukan di kamar mandi dan kepala ditemukan dalam bungkus kresek hitam di bawah tangga.

Petugas Polsekta Klojen dan Polres Malang Kota terus melakukan penyelidikan dan membawa potongan tubuh korban ke kamar mayat RSSA Malang. Kondisi Mrs X belum bisa dikenali dikarenakan kondisinya sudah membusuk. Diperkirakan umur wanita tersebut kisaran 30 tahun.

Informasi Memontum.com menyebutkan bahwa lokasi kejadian lantai 2 Pasar Besar Kota Malang adalah bekas bangunan Matahari Plaza. Sejak Matahari Plaza berpindah, lokasi tersebut tidak terawat dan tampak kotor. Petugas Polres Malang Kota akhirnya berhasil menangkap pelaku mutilasi Pasar Besar, pada Rabu (15/5/2019) sore. Pelaku bernama Sugeng (49) warga Jodipan, Kecamatan Blimbing, Kota Malang.

Dia ditangkap saat sedang tiduran di depan area Persemayaman Panca Budi Jl Laksamana Martadinata. Kepada petugas, Sugeng sempat berbohong kalau korban sudah terlebih dahulu meninggal baru 3 hari kemudian dimutilasi atas bisikan-bisikan gaib.

Tersangka pembunuhan dan mutilasi, Sugeng Santoso pada Senin (20/5/2019) siang, akhirnya dirilis di Polres Malang Kota. Ternyata, korban tewas akibat dibunuh Sugeng dengan cara digorok setelah menolak diajak bersetubuh.

Bahkan sebelum digorok, korban sempat kritis karena pendarahan hebat pada anus dan kelaminya. Hal itu setelah Sugeng memasukan kepalan tangannya ke kelamin dan anus korban. Untuk menghentikan pendarahan itu, Sugeng kemudian menyumpal anus korban dengan kain dan melakban kelamin korban.

Tak kalah sadis, Sugeng mentato kaki korban menggunakan jarum sol sepatu , saat korban dalam kondisi pingsan akibat pendarahan.Dari hasil pengembangan dan penyelidikan petugas, bahwa pertemuan Sugeng dengan korban terjadi pada 7 Mei 2019 di Jl Laksamana Martadinata. Sugeng didakwa Pasal 340 KUHP dan Pasal 338 KUHP. Selama persidangan, Sugeng mengaku tidak membunuh korban. Dia mengaku memutilasi korban setelah korban meninggal karena sakit.

BACA JUGA: Putusan MA, Sugeng Divonis Hukuman Mati

Sugeng Santoso akhirnya divonis hukuman mati. Vonis Mahkamah Agung (MA) ini lebih berat dari Kasasi Jaksa Penuntut Umum (JPU) yakni hukuman seumur hidup. Kepala Kejaksaan Negeri Kota Malang Andi Darmawangsa SH MH, saat bertemu Memontum.com pada Senin (14/9/2020) siang mengatakan bahwa putusan MA ini sudah diterima Kejaksaan Negeri Kota Malang pada Jumat (11/9/2020) .

“Putusannya hukuman mati. Awalnya kita menuntut penjara seumur hidup. Kemudian pada Rabu (26/2/2020) Pengadilan Negeri (PN) Kota Malang memutus 20 tahun penjara. Kemudian putusan Pengadilan Tinggi (PT) Surabaya menguatkan putusan PN Kota Malang dengan hukuman 20 tahun penjara. Selanjutnya kami melakukan kasasi hingga putusan MA memberikan vonis kepada Sugeng dengan hukuman mati. Majelis Hakim Dr H Andi Abu Ayyub Saleh SH MH memvonis Sugeng pada 27 Agustus 2020,” ujar Andi Darmawangsa. (gie)

Lanjutkan Membaca
Advertisement
klik untuk berkomentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hukum & Kriminal

Dugaan Korupsi RPH Kota Malang, Kejaksaan Periksa 14 Saksi

Diterbitkan

||

Kasi Pidsus Kejaksaan Negeri Kota Malang Dino Kriesmiardi SH MH. (gie)
Kasi Pidsus Kejaksaan Negeri Kota Malang Dino Kriesmiardi SH MH. (gie)

Memontum Kota Malang – Petugas Pidsus Kejaksaan Negeri Kota Malang terus melakukan penyelidikan dan penyidikan kasus dugaan korupsi penggemukan hewan Rumah Potong Hewan (RPH) Kota Malang kisaran Tahun 2017-2018. Bahkan hingga Senin (19/10/2020), sebanyak 14 saksi telah menjalani pemeriksaan.

Kasi Pidsus Kejaksaan Negeri Kota Malang Dino Kriesmiardi SH MH mengatakan bahwa hingga saat ini pihaknya sudah melakukan pemeriksaan sebanyak 14 orang.

“Saat ini kami dan tim penyidik telah melakukan pemeriksaan 14 orang saksi. Kami juga sudah berkoordinasi dengan BPKP (Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan) perwakilan Provinsi Jawa Timur di Surabaya, terkait perhitungan kerugian negera. Kami akan segera ekpos bersama BPKP,” ujar Dino.

Saat ini jumlah kerugian belum bisa dipastikan. Namun Dino mengatakan kalau kerugian ada dikisaran lebih dari Rp 1 miliar. ” Ini terkait kerjasama penggemukan hewan dan pemotongan hewan ternak. Kerugiannya lebih dari Rp 1 miliar,” ujar Dino.

Adapun pihak yang sudah diperiksa 8 orang dari RPH, 2 dari BPKAD, 3 orang dari badan pengawas RPH, dan 1 dari Dinas Pertanian.

“Kemungkinan saksi bisa bertambah. Nanti saksi yang sudah diperiksa juga ada yang akan kita panggil ulang untuk pendalaman pemeriksaan. Juga nanti ada saksi ahli. Saksi ahli dari BPKP terkait perhitungan kerugian negara. Dinamika proses penyidikan, alat bukti akan terus kita gali. Saat ini sudah ada alat bukti diantaranya dokumen penyertaan modal, permohonan pengajuan proposal, proses pencairan dan perjanjian penggemukan sapi,” ujar Dino.

BACA: Dugaan Korupsi RPH Kota Malang 2018, Soal Penggemukan Sapi

Seperti yang diberitakan sebelumnya, pihak kejaksaan Negeri Kota Malang telah membidik salah satu Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Kota Malang. Bahkan pihaknya hingga Rabu (10/6) siang, telah memeriksa 5 orang untuk diklarifikasi terkait dugaan kasus korupsi menimbulkan kerugian pihak Pemkot Malang senilai kisaran Rp 2,5 miliar.

Saat ini kejaksaan masih mengumpulkan data dan keterangan terkait permasalahan ini. Sebab diduga kasus ini terjadi antara Tahun 2017-2018. (gie)

 

 

Lanjutkan Membaca

Hukum & Kriminal

Imingi-imingi Jimat, Warga Menganti Berbuat Cabul

Diterbitkan

||

PENCABULAN: Tersangka pencabulan, Moh Khodar (53) warga Menganti Gresik dan Kalvin Kristianto (18) warga Waru, Sidoarjo digelandang petugas Satuan Reskrim, Polresta Sidoarjo, Jumat (16/10/2020).
PENCABULAN: Tersangka pencabulan, Moh Khodar (53) warga Menganti Gresik dan Kalvin Kristianto (18) warga Waru, Sidoarjo digelandang petugas Satuan Reskrim, Polresta Sidoarjo, Jumat (16/10/2020).

Memontum Sidoarjo – Dua tersangka kasus pencabulan berhasil ditangkap Satuan Reskrim Polresta Sidoarjo. Kedua tersangka berhasil dibekuk petugas atas dua kasus pencabulan anak di bawah umur.

Kasat Reskrim Polresta Sidoarjo AKP Ambuka Yudha mengatakan tersangka Moh Khodar (53) warga Menganti Gresik dan tersangka Kalvin Kristianto (18) warga Kecamatan Waru, Sidoarjo terlibat dalam aksi pencabulan itu. Menurutnya, dalam dua kasus pencabulan ini modus pelaku memaksa korban untuk minum minuman keras.

Kemudian tersangka mengajak korban pergi ke bangunan kosong yang tidak jauh dari tempat minum miras itu hingga terjadi aksi pencabulan.

“Kasusnya masih sama pencabulan. Modusnya tersangka memberi korban sebuah sikep (jimat) berupa cambuk kecil yang terbuat dari tembaga,” ujarnya, Jumat (16/10/2020).

Ambuka menjelaskan saat memberikan jimat itu, tersangka berkata jika jimat tersebut sebagai penjaga korban. Alasannya, di dalam jimat itu ada penunggunya (makhluk halus). Seketika korban disuruh menyimpan dan membawanya kemana pun korban pergi. “Tak berselang lama, korban merasakan pusing dan terjadilah pencabulan,” tegasnya.

Sementara kata Ambuka kasus penangkapan terhadap tersangka dilakukan tak lama setelah adanya laporan dari pihak keluarga korban. Para tersangka dijerat Pasal 81 dan atau Pasal 82 UU RI No 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas UURI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. “Ancaman hukumannya penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan paling singkat 3 (tiga) tahun dan atau denda paling banyak Rp 300 juta dan paling sedikit Rp 60 juta,” tandasnya. (wan/syn)

 

 

 

Lanjutkan Membaca
Advertisement

Terpopuler