Connect with us

Hukum & Kriminal

Gagal Curi Motor, Curanmor Amatiran Terekam CCTV

Diterbitkan

||

Pelaku saat mencoba mencuri motor korban. (ist)

Memontum Kota Malang – Pelaku Curanmor gagal melakukan aksinya saat mencuri motor Honda Beat milik M Soleh (39) warga Jl Satria Barat, Kelurahan Balearjosari, Kecamatan Blimbing, Kota Malang, Senin (14/9/2020) siang. Aksi tersebut terekam CCTV dan sempat viral di media sosial Facebook.

Dalam rekaman CCTV itu pelaku tampak kesulitan membobol rumah kontak saat motor dalam kondisi terkunci stang stir kanan. Bahkan anak mata kunci T miliknya patah. Karena kesulitan, pelaku akhirnya kabur tanpa membawa barang jarahan.

Informasi Memontum.com bahwa sebelum kejadian, motor milik Soleh diparkir di teras rumah. Saat itu motor parkir dalam kondisi terkunci stang stir ke arah kanan. Karena merasa aman, Soleh dan istrinya meninggalkan motor tersebut untuk bersih-bersih rumah.

Diduga setelah motor tidak terjaga, muncul pelaku melakukan aksinya. Dilihat dari rekaman CCTV, kejadian sekitar pukul 09.30. Dalam rekaman berdurasi 65 detik tersebut, pelaku seperti menyamar sebagai pemulung dengan membawa karung.

Pelaku tampak berjalan kaki menuju ke lokasi hingga mendapati motor milik korban. Selanjutnya pelaku memastikan kondisi aman dengan melihat kondisi sekitar.  Setelah itu, dia baru merusak rumah kontak dengan kunci T. Pelaku tampak kesulitan karena kunci stang stir ke arah kanan. Pelaku selanjutnya kabur dengan berjalan kaki.

“Korban mengetahuinya sekitar pukul 13.00, saat hendak menggunakan motor tersebut. Stang motor tidak dalam kondisi terkunci. Ada besi menancap di rumah kontak. Setelah dicek di kamera CCTV diketahui kalau ada pelaku yang mencoba mencuri motornya. Saya tidak tahu apakah sudah dilaporkan ke polisi atau tidak, tapi tadi informasinya motor sudah dibawa ke bengkel,” ujar Jayanti, tetangga korban. (gie)

 

Hukum & Kriminal

Dugaan Korupsi RPH Kota Malang, Kejaksaan Periksa 14 Saksi

Diterbitkan

||

Kasi Pidsus Kejaksaan Negeri Kota Malang Dino Kriesmiardi SH MH. (gie)
Kasi Pidsus Kejaksaan Negeri Kota Malang Dino Kriesmiardi SH MH. (gie)

Memontum Kota Malang – Petugas Pidsus Kejaksaan Negeri Kota Malang terus melakukan penyelidikan dan penyidikan kasus dugaan korupsi penggemukan hewan Rumah Potong Hewan (RPH) Kota Malang kisaran Tahun 2017-2018. Bahkan hingga Senin (19/10/2020), sebanyak 14 saksi telah menjalani pemeriksaan.

Kasi Pidsus Kejaksaan Negeri Kota Malang Dino Kriesmiardi SH MH mengatakan bahwa hingga saat ini pihaknya sudah melakukan pemeriksaan sebanyak 14 orang.

“Saat ini kami dan tim penyidik telah melakukan pemeriksaan 14 orang saksi. Kami juga sudah berkoordinasi dengan BPKP (Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan) perwakilan Provinsi Jawa Timur di Surabaya, terkait perhitungan kerugian negera. Kami akan segera ekpos bersama BPKP,” ujar Dino.

Saat ini jumlah kerugian belum bisa dipastikan. Namun Dino mengatakan kalau kerugian ada dikisaran lebih dari Rp 1 miliar. ” Ini terkait kerjasama penggemukan hewan dan pemotongan hewan ternak. Kerugiannya lebih dari Rp 1 miliar,” ujar Dino.

Adapun pihak yang sudah diperiksa 8 orang dari RPH, 2 dari BPKAD, 3 orang dari badan pengawas RPH, dan 1 dari Dinas Pertanian.

“Kemungkinan saksi bisa bertambah. Nanti saksi yang sudah diperiksa juga ada yang akan kita panggil ulang untuk pendalaman pemeriksaan. Juga nanti ada saksi ahli. Saksi ahli dari BPKP terkait perhitungan kerugian negara. Dinamika proses penyidikan, alat bukti akan terus kita gali. Saat ini sudah ada alat bukti diantaranya dokumen penyertaan modal, permohonan pengajuan proposal, proses pencairan dan perjanjian penggemukan sapi,” ujar Dino.

BACA: Dugaan Korupsi RPH Kota Malang 2018, Soal Penggemukan Sapi

Seperti yang diberitakan sebelumnya, pihak kejaksaan Negeri Kota Malang telah membidik salah satu Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Kota Malang. Bahkan pihaknya hingga Rabu (10/6) siang, telah memeriksa 5 orang untuk diklarifikasi terkait dugaan kasus korupsi menimbulkan kerugian pihak Pemkot Malang senilai kisaran Rp 2,5 miliar.

Saat ini kejaksaan masih mengumpulkan data dan keterangan terkait permasalahan ini. Sebab diduga kasus ini terjadi antara Tahun 2017-2018. (gie)

 

 

Lanjutkan Membaca

Hukum & Kriminal

Imingi-imingi Jimat, Warga Menganti Berbuat Cabul

Diterbitkan

||

PENCABULAN: Tersangka pencabulan, Moh Khodar (53) warga Menganti Gresik dan Kalvin Kristianto (18) warga Waru, Sidoarjo digelandang petugas Satuan Reskrim, Polresta Sidoarjo, Jumat (16/10/2020).
PENCABULAN: Tersangka pencabulan, Moh Khodar (53) warga Menganti Gresik dan Kalvin Kristianto (18) warga Waru, Sidoarjo digelandang petugas Satuan Reskrim, Polresta Sidoarjo, Jumat (16/10/2020).

Memontum Sidoarjo – Dua tersangka kasus pencabulan berhasil ditangkap Satuan Reskrim Polresta Sidoarjo. Kedua tersangka berhasil dibekuk petugas atas dua kasus pencabulan anak di bawah umur.

Kasat Reskrim Polresta Sidoarjo AKP Ambuka Yudha mengatakan tersangka Moh Khodar (53) warga Menganti Gresik dan tersangka Kalvin Kristianto (18) warga Kecamatan Waru, Sidoarjo terlibat dalam aksi pencabulan itu. Menurutnya, dalam dua kasus pencabulan ini modus pelaku memaksa korban untuk minum minuman keras.

Kemudian tersangka mengajak korban pergi ke bangunan kosong yang tidak jauh dari tempat minum miras itu hingga terjadi aksi pencabulan.

“Kasusnya masih sama pencabulan. Modusnya tersangka memberi korban sebuah sikep (jimat) berupa cambuk kecil yang terbuat dari tembaga,” ujarnya, Jumat (16/10/2020).

Ambuka menjelaskan saat memberikan jimat itu, tersangka berkata jika jimat tersebut sebagai penjaga korban. Alasannya, di dalam jimat itu ada penunggunya (makhluk halus). Seketika korban disuruh menyimpan dan membawanya kemana pun korban pergi. “Tak berselang lama, korban merasakan pusing dan terjadilah pencabulan,” tegasnya.

Sementara kata Ambuka kasus penangkapan terhadap tersangka dilakukan tak lama setelah adanya laporan dari pihak keluarga korban. Para tersangka dijerat Pasal 81 dan atau Pasal 82 UU RI No 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas UURI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. “Ancaman hukumannya penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan paling singkat 3 (tiga) tahun dan atau denda paling banyak Rp 300 juta dan paling sedikit Rp 60 juta,” tandasnya. (wan/syn)

 

 

 

Lanjutkan Membaca
Advertisement

Terpopuler