Connect with us

KREATIF MASYARAKAT

Lebih Dekat dengan Batik Sukun

Diterbitkan

||

Nena Bachtiar saat ditemui di rumahnya.
Nena Bachtiar.

Memontum Kota Malang – Motif batik beragam bentuknya. Begitu juga, keberadaan kerajinan batik yang kini tengah dikembangkan di RW 03, Kelurahan/Kecamatan Sukun.

Tidak ingin jauh dari nama kecamatan tempat batik tersebut dikembangkan, makna ‘Sukun’ secara luas, dikembangkan oleh sejumlah warga. Diprakarsai oleh Nena Bachtiar dan diikuti sekitar 15 ibu-ibu di lingkungan Kelurahan Sukun, serta beberapa dari anggota karang taruna, teknik dan cara membatik ditularkan kepada semua.

“Intinya, saya ingin membantu perekonomian untuk ibu-ibu. Caranya, dengan membagi ilmu yakni bagaimana membuat batik,” kata Nena.

Disinggung mengenai ketertarikan warga kepada batik, Nena mengatakan, berawal dari kecintaan mereka kepada budaya Indonesia yang beragam. Kebetulan, salah satunya adalah warisan budaya yakni batik.

“Dari situ, kemudian saya mengajak ibu-ibu untuk ikut pelatihan batik secara mandiri. Selanjutnya, ada dari instansi yang menawarkan untuk mengikuti undangan pelatihan. Hingga akhirnya, saya bersama yang lain melakukan pemberdayaan ke masyarakat sekitar,” terangnya.

Motif Batik Sukun.

Motif Batik Sukun.

Nena menambahkan, seiring perkembangan waktu, motif Sukun pun mulai dikembangkan. Salah satu alasannya, selain pengembangan batik ini dilakukan di Kelurahan Sukun, secara kebetulan di sini juga terdapat banyak Pohon Sukun. Makanya, kemudian masyarakat RW 03, membuat motif Sukun.

“Motifnya bisa daun dari Pohon Sukun, bunga ataupun buah Pohon Sukun. Yang kemudian, motif tersebut menjadi ciri khas dari batik Kelurahan Sukun. Dengan begitu, sesuai dengan nama wilayah pengembangan dari batik motif Sukun,” paparnya.

Perempuan yang memiliki galeri Budaya Nusantara itu juga mengatakan, batik yang dibuat menggunakan berbagai macam teknik. Diantaranya, ada yang menggunakan teknik tangan, cap ataupun campuran. Hal tersebut, menyesuaikan dari keinginan customer atau pemesan.

“Pada dasarnya, kami sebenarnya menggunakan teknis tulis. Lalu kalau seragam, biasanya pakai cap. Tapi, ada juga yang campuran, tulis dan cap. Semua itu dilakukan, untuk memanjakan konsumen,” imbuhnya seraya menambahkan, untuk distribusi penjualan hasil pembuatan masyarakat, sementara dipasarkan di tingkat lokal. (mg1/sit)

 

 

Lanjutkan Membaca
Advertisement
klik untuk berkomentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *