Connect with us

Politik

PDI Perjuangan Resmi Pecat Yusuf Widyatmoko

Diterbitkan

||

Lanjutkan Membaca
Advertisement
klik untuk berkomentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Politik

Lathifah Serang Pertanyaan ke Bupati Petahanan

Diterbitkan

||

oleh

Paket data gratis, kemana ?

Memontum Malang – Calon Bupati Malang dari Paslon nomor urut 2, Lathifah Shohib, menyerang pertanyaan ke Calon Bupati Petahanan, Sanusi, dalam debat publik pertama Pilbup Malang 2020, Jumat (30/10) malam. Dalam debat tersebut, Lathifah menilai Sanusi selama menjadi Bupati Malang, tidak merealisasikan program pendidikan secara daring selama masa pandemi Covid-19.

Hal tersebut, Lathifah katakan saat menanggapi paparan Sanusi, terkait bagaimana cara dan program SanDi saat memberikan solusi kegiatan belajar mengajar secara daring. “Sekarang saya melihat, masih banyak sekali anak-anak yang tidak memiliki paket data. Mereka masih kesusahan untuk belajar secara daring. Apalagi handphone (HP), juga masih bergantian, belum juga saat dipakai orang tuanya untuk bekerja,” ujar Lathifah.

Selain itu, Lathifah juga mempertanyakan, bagaimana program pemberian paket internet gratis yang hingga saat ini tidak kunjung dijalankan oleh Pemerintah Kabupaten Malang. “Ini sebenarnya membuat para siswa dan guru kesusahan. Untuk membeli paket data saja susah dimasa pandemi Covid-19 ini,” tambahnya.

Sementara itu, Sanusi menjawab dengan sanggahan yang menjelaskan, bahwa waktu itu dirinya menjabat sebagai Plt.
“Kalau saya jadi bupati, semua masalah selesai dan akan saya gratiskan,” tutup Lathifa. (riz/sit)

Lanjutkan Membaca

Politik

Malang Jejeg Sayangkan Durasi Debat

Diterbitkan

||

oleh

Anggap seperti kucing dalam karung

Memontum Malang – Debat yang di adakan KPU Kabupaten Malang, di ruang Rapat Paripurna DPRD Kabupaten Malang, pada Jumat (30/10) tadi, dinilai Paslon nomor urut 3, yakni Malang Jejeg merasa kurang memuaskan dan tidak mendalam. Bahkan, Paslon ini menilai, bedat yang dilakukan tidak ubahnya menilai kucing dalam karung.
“Dengan waktu semenit, itu belum bisa mendalami jawaban dari masing-masing paslon. Tapi ya mau gimana, kalau negara hanya menyediakan waktu segitu,” ujar Heri Cahyono, Jumat (30/10) seusai pelaksanaan debat Paslon.

Dalam debat ini, lanjut Sam HC, seharunya diberi durasi yang berlebih untuk memberikan kesempatan tik tok antar Paslon. “Kalau kayak gini, kayak kucing dalam karung,” tambahnya.
Sam HC, sapaan akrab dari Heri Cahyono, menyebutkan waktu yang ideal seharusnya sekitar 5 hingga 10 menit. Waktu tersebut, bisa memberikan keleluasaan kepada setiap Paslon, untuk bisa menyampaikan pendapat, pandangan dan saling melempar argumen. Bukan justru diberikan waktu hanya semenit.

“Seharusnya, bagaimana masyarakat bisa menilai figur seseorang dengan jelas, ya bukannya setengah-setengah seperti ini. Kita bisa melakukan bantahan, argumen dan penyampaian pendapat. Kalau seperti ini, Paslon ditanya dan Paslon menjawab, bisa tidak nyambung atau belum selesai langsung di cut. Artinya, debat ini tidak banyak yang bisa tersampaikan,” ujarnya tidak puas. (riz/sit)

Lanjutkan Membaca
Advertisement KPPS
Advertisement KPPS
Advertisement KPPS
Advertisement KPPS
Advertisement

Terpopuler