Connect with us

KREATIF MASYARAKAT

Artworker Lokal yang Tembus Hingga Chinatown Market

Diterbitkan

||

Michael Evan.
Michael Evan.

Memontum Malang – Michael Evan (27) sudah mencintai seni rupa sejak kecil. Dari awal, dirinya suka sekali untuk merespon apa yang ada di sekitarnya, dengan menuangkan apa yang dia lihat dan dengar, dalam bentuk gambar.

“Buat saya, seni itu bebas. Aku bisa menuangkan apapun yang aku lihat dan dengar, lalu aku cerna ke dalam pikiran dan aku ilustrasikan dalam bentuk gambar,” ujar Evan, Minggu (11/10) tadi.

Evan mengungkapkan, kesulitan dalam berkarya ini adalah mendapat apresiasi. Namun, untuk menangani kesulitan tersebut, membuatnya semakin getol dan terpacu dalam menghasilkan sebuah karya yang dapat dilirik oleh khalayak luas.

“Dapet apresiasi itu sulit. Tapi, itu yang memacu aku hingga di titik sekarang. Saya bisa mendapatkan sebuah apresiasi yang dimana bisa berkolaborasi dengan brand besar dari U.S yang berfokus ngebootleg, yakni Chinatown Market di tahun 2018 lalu,” tambahnya.

Evan yang menggeluti dunia profesional sebagai Artworker mulai tahun 2012, juga berterimakasih kepada komunitasnya. Yakni, Penahitam, yang sudah membimbing dan mengajaknya untuk lebih bisa berkembang dengan baik dalam dunia seni rupa.

“Sejak aku masuk Penahitam, mereka selalu mendukung dan tak membatasi apa pun yang aku tuangkan. Seperti motto mereka berkarya, berbagi, berteman dan bersenang-senang,” ungkapnya.

Evan juga berharap, untuk para seniman Malang, terlebih para anak muda tak menginginkan adanya jarak dan idealisme bagi para pelaku seni di Malang. “Sebagai pelaku seni, kita semua bisa bersama jangan terkotak-kotak. Apapun itu, bisa disinergikan dan di pertemukan kok,” tutupnya. (riz/sit)

 

 

Lanjutkan Membaca
Advertisement
klik untuk berkomentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

KREATIF MASYARAKAT

Bisnis Thrift Shop Semakin Menjanjikan

Diterbitkan

||

Pengusaha bisnis thrif Shop sangat diuntungkan berkat kampanye Reduse, Re-use dan Recycle (3R).
Pengusaha bisnis thrif Shop sangat diuntungkan berkat kampanye Reduse, Re-use dan Recycle (3R).

Memontum Malang – Campaign Reduse, Re-use dan Recycle (3R) terus digaung dan kembangkan. Hal itu pula, yang menjadi salah satu strategi untuk bisnis Thrift Shop (Pakaian Second).

Sekarang, bisnis Thrift Shop memang sudah banyak berubah. Di mana, pada jaman dulu hanya segelintir orang yang mau berbisnis Thrift Shop dengan sedikit peminat (Segmented).

“Aku mulai merambah di dunia Thrifting ini sejak 2006 an. Namun, baru merasakan hasilnya di 3-4 tahun terakhir ini. Karena, memang beda dengan dahulu-dahulu. Artinya, kalau dahulu orang tahunua merk yang mahal dan asli. Tapi kalau sekarang, banyak penjual pakaian second yang tua-tua itu, sudah paham mana merk dan mana yang original,” ujar salah satu Owner In Vaults, Teddy Agustiawan, Rabu (28/10) tadi.

Dirinya mengungkapkan, bisnis thrifting di beberapa tahun belakangan, saat ini sangat menjanjikan. Karena, memang banyak pebisnis yang menggaungkan campaign Reduse, Re-use dan Recycle (3R) dan itu sangat berhasil.

“Kan semakin tahun pencemaran limbah hingga Global Warming, sangat terlihat sekali. Jadi, dari campaign tersebut selain kita berbisnis kita juga ingin mengingatkan kepada para anak-anak muda agar perduli kepada lingkungan. Ya walau pun, itu seakan-akan seperti gimmick agar bisnis kita sukses, tapi kita tetap berikan hal positif disitu,” tambahnya.

Teddy menyampaikan, untuk range harga yang dipatok dan perbedaan di jaman dulu dan sekarang, sangatlah signifikan. “Kalau dulu, kayak aku beli Levis 501 harganya mungkin cuman Rp 30 ribu. Tapi, kalau sekarang harganya itu bisa sampai Rp 250 ribu lebih, tergantung kondisi. Itu nilai dari untuk pakaian second,” ungkap Teddy.

Bisnis thrift shop sendiri, lanjut Teddy, juga tergantung dari sebuah konsep toko itu sendiri. Terutama trend yang sedang di gandrungi anak-anak muda jaman sekarang.

“Thrift shop ini pasarnya hingga seluruh penjuru dunia. Kalau kita tidak mengkonsep dengan baik dan kita tidak mengikuti arus trend tersebut, kita sebagai pebisnis bakal ketinggalan jauh. Kuncinya, bagaimana kita bisa mempunyai link yang luas, kuat dan bagaimana kita bisa mengikuti arus jaman. Kalau kita gak ngikuti arus, apalagi sebagai pebisnis, mati pasti,” tutupnya. (riz/sit)

 

 

Lanjutkan Membaca

Kota Malang

Berawal dari Solois kini Geluti ‘Sak Celupan’

Diterbitkan

||

Yudi Prata: Saat memeragakan adegan yang berada didalam video klip 'Sak Celupan'.
Yudi Prata: Saat memeragakan adegan yang berada didalam video klip 'Sak Celupan'.

Buat Orang Tertawa Lebih Sulit Daripada Menangis

Memontum Kota Malang – Yudi Prata, yang bernama asli Mika Yuda Pratama, merupakan sosok yang berangkat dari band entertaint di tahun 2009. Meniti karir di tahun 2015, pria kelahiran Kota Malang ini, merupakan seorang penyanyi solois dan sudah mengeluarkan empat single.

“Di tahun 2015 ada ‘Kembali ke Masa Silam’, tahun 2016 ‘Sepanjang Tua’, tahun 2017 ‘Biarkan Misteri’, dan tahun 2020 ‘Seandainya Kau Mengerti’. Iku kabeh (itu semua) mas, gak payu (laku). Bikin video kan gak murah juga mas, subscriber ku aja dari 2015 sampai 2020 cuman 157 subscriber,” ujar Yudi, Minggu (18/10) tadi

Setelah lama menghilang, di penghujung tahun 2020, Yudi muncul dengan kejutan baru yang dapat membuat dirinya semakin dikenal orang dan lebih termotivasi dalam membuat sesuatu yang baru dengan atensi yang lebih.

“Sak Celupan, itu sebenarnya tantangan dari anak-anak. Kenapa gak mengikuti musim Jawa-an, kan Malang terkenal dengan Rock dan Idealisnya. Aku belum bisa kesitu, ya akhirnya aku membuat sesuatu yang lain yakni musik dangdut Jawa-an dengan balutan komedi yang berbeda,” tambahnya.

Yudi mengungkapkan, judul yang sedikit nyeleneh itu memang dibuat sedemikian rupa untuk mengonsep dirinya bagaimana sikap Jenaka yang menurutnya itu ‘Gendeng’ (Gila) itu dapat menguatkan atensi dan membuat dirinya viral.

“Asik yo judul e hahaha. Judul yang menurutku, sebuah kata-kata yang hampir semua orang tahu terutama orang dewasa. Mengarah ke kata-kata yang berkonotasi sedikit ambigu memang. Kan bisa dilihat, konsep komedi patahan itu ada dan aku pakai. Kayak di video klip, tiba-tiba aku bawa galon, tiba-tiba aku bawa gas, yaitu komedi patahan,” tambahnya sambil tertawa.

Akhirnya, lanjut Yudi, judul tersebut di plesetkan dengan materi humor. Karena menurutnya, keinginan menghibur dan memotivasi masyarakat sangat besar.

“Indonesia kan lagi sedih, aku ingin menghibur lewat apa yang memang aku bisa. Karena membuat orang tertawa itu lebih susah dari pada membuat orang sedih,” tutupnya. (riz/sit)

 

 

Lanjutkan Membaca
Advertisement KPPS
Advertisement KPPS
Advertisement KPPS
Advertisement KPPS
Advertisement

Terpopuler