Connect with us

Bondowoso

Satlantas Persempit Penyebaran Virus Corona dengan Sosialisasi

Diterbitkan

||

Sosialisasi Protkes (sam)
Sosialisasi Protkes. (sam)

Memontum Bondowoso – Satlantas Polres Bondowoso terus berupaya mempersempit penyebaran virus Corona dengan melakukan sosialisasi tentang penggunaan masker. Opersai yang digelar di Jl. A. Yani, selasa (13/10/2020) tersebut sasarannya adalah pengendara roda dua dan empat.

Operasi ini bersifat edukasi pentingnya menggunakan masker pada masa pandemi virus Corona. Karena masih banyak warga Bondowoso yang enggan menggunakan masker ketika melakukan aktivitas di luar rumah.

Petugas tidak hanya mengingat pengendara motor dan mobil yang tidak menggunakan masker, tapi juga pentingnya safety riding dan tertib berkendara di jalan raya. “Kami juga mengingatkan pengendara motor dan mobil pentingnya tertib berlalu lintas di jalan. Demi keselamatan kita bersama,” kata Kasat Lantas AKP Didik Sugiarto, SH.

Menurut mantan Kasat Lantas Polres Pamekasan ini, dalam Inpres Nomor 6 Tahun 2020, semua pihak harus terlibat dalam penyempitan menyebarnya Covid 19, termasuk institusi kepolisian. Goal yang ingin dicapai, kata Perwira yang pernah bertugas di Sat Intel Polres Bondowoso ini adalah terciptanya Kamseltibcarlantas. Dengan demikian, angka kecelakaan bisa ditekan.

Didik, sapaannya berharap, warga Bondowoso patuhi seluruh aturan. Baik penggunaan masker maupun berkendara. Karena sampai saat ini belum ada tanda-tanda virus Corona akan berahir. “Protkes (Protokol Kesehatan) harus dijalankan. Menggunakan masker, jaga jarak 1m, cuci tangan dengan menggunakan sabun jangan bosan-bosan dilakukan,” kata Didik menambahkan.

Informasi dari Satpol PP, selama operasi yustisi digelar, ada 1.153 yang melakukan pelanggaran Protkes. Yang dilakukan sejak tanggal 15 September hingga 9 Oktober. (sam/mzm)

 

 

Bondowoso

Mayat Memakai Kateter Ditemukan Membusuk di Selokan Air

Diterbitkan

||

Petugas mengevakuasi mayat.
Petugas mengevakuasi mayat.

Memontum Situbondo – Mayat Mattasan (80), asal RT. 02, RW. 02, Desa Wringin anom, Kecamatan Asembagus, Kabupaten Situbondo. Ditemukan membusuk di saluran air, tepatnya di pinggir jalan Pantura sepanjang jalan raya Banyuputih, Kamis (15/10/2020).

Temuan mayat bernama Mattasan pertama kali diketahui oleh Wahyudi (40), ia curiga dengan bau busuk menyengat dari sebrang jalan rumahnya.

Saat dikroscek sumber bau tersebut oleh Wahyudi, asal Desa Banyuputih, ternyata jasad itu adalah Mattasan, dengan kondisi memprihatinkan, posisi terletang diselokan berbau busuk penuh belatung, lebih ironis korban masih menggunakan Kateter (biasa digunakan pasien untuk membantu mengosongkan kandung kemih), pada alat kelaminnya.

Keterangan Deny ketua RT Desa Setempat, Mattasan memiliki penyakit pada saluran kencing, korban dikerahui saat berjalan selalu menggunakan Kateter dan timba.

“Ini sudah kurang lebih tiga hari tidak diketahui mondar mandir, saya mendapat informasi dari warga kalo Mattasan sudah meninggal, ada kemungkinan ia terjatuh ke selokan tidak diketahui warga dan meninggal,” ungkap Deny.

Korban sebelumnya menempati rumah gubuk di jalan Pantura Banyuputih seorang diri, selama hidupnya sering dibantu warga sekitar dan keluarganya, korban memili menetap dirumah gubuk dipinggir jalan daripada berkumpul dengan keluarganya di Desa Wringin Anom Kecamatan asembagus.

Dari penemuan mayat tersebut, Kapolsek Banyuputih bersama anggota, serta Komandan koramil Banyuputih bersama Babinsa mendatangi lokasi kejadian dan langsung mengevakuasi korban ke ruang Jenasah RSUD Asembagus. Menggunakan ambulance RS Asembagus.

Kapolsek Banyuputih. AKP. Heru Purwanto. SH, membenarkan temuan mayat tersebut. “Sudah kami tangani dan saat ini sudah dievakuasi ke rumah sakit dan keluarga sudah mengetahui kejadian itu, korban meninggal diduga terjatuh ke parit di pinggir jalan Pantura Banyuputih,” kata Kapolsek Banyuputih. (tik/mzm)

 

 

Lanjutkan Membaca

Bondowoso

Disarankan BOP Covid-19 Kecamatan Ditambah

Diterbitkan

||

Drs. H. Harimas, Msi, Asisten 1 Skretariat Pemkab Bondowoso.
Drs. H. Harimas, Msi, Asisten 1 Skretariat Pemkab Bondowoso.

Memontum Bondowoso – Minimnya anggaran BOP (Biaya Operasional) Covid 19 untuk Pemerintah Kecamatan mempengaruhi upaya penyempitan penyebaran Virus Corona. Anggaran tersebut dihitung sesuai dengan jumlah desa

Menurut Drs. H. Harimas, M.Si., Asisten 1 Sekretariat Pemkab Bondowoso, hitungannya 1 Desa Rp 2,5 juta setahun. Jadi kalau di Kecamatan tersebut ada 10 Desa, BOP Covid 19 dijatah Rp 25 juta setahun.

“Menurut saya anggaran sebesar itu kurang. Pasalnya, dalam menjalankan operasi, pihak kecamatan melibatkan instansi samping. Polsek, TNI, dan pihak terkait lainnya,” kata Koordinator Pemerintah Kecamatan ini.

Idealnya, tambah pejabat senior Pemkab Bondowoso ini, hitangannya setiap Desa Rp 5 juta, kalau Rp, 2,5 juta kurang. Mudah-mudahan dalam P-APBD nanti, anggaran tersebut ditambah.

Ditambahkan, kalau anggarannya cukup yang ditambah dalam PAK. Kalau tidak cukup, BOP yang ada itu dimaksimalkan. Sebab, sesuai data yang dirilis Gugus Tugas Covid 19, warga Bondowoso yang terpapar virus Corona terus bertambah.

Camat Curahdami, Dodik Siregar .

Camat Curahdami, Dodik Siregar .

Dikonfirmasi terpisah, Camat Curahdami, Dodik Siregar mengatakan, anggaran Covid 19 cukup. Di Kecamatan Curahdami ada 11 Desa, jadi dapat BOP virus Corona Rp 27,5 juta setahun. “Kalau ditambah kami bersukur. Semakin besar anggaran BOP CoViD 19, hasilnya akan lebih maksimal,” kata mantan Camat Tlogosari.

Sebab, lanjutnya, dalam setiap menjalankan operasi, terutama dalam menyadarkan masyarakat agar tetap menjalankan Protkes (Protokol Kesehatan). “Kami melibatkan kepolisian, TNI, dan pihak lain terkait. Dalam bentuk tim,” tandasnya. (sam/mzm)

 

 

 

Lanjutkan Membaca
Advertisement KPPS
Advertisement KPPS
Advertisement KPPS
Advertisement KPPS
Advertisement

Terpopuler