Connect with us

Hukum & Kriminal

Warga Bali Ditipu Pasutri Asal Batu Rp 667 Juta

Diterbitkan

||

korban didampingi keluarga dan kuasa hukum sesaat setelah dari Satreskrim Polres Batu.

Memontum Kota Batu – Satreskrim Polresta Batu, tengah menangani kasus dugaan penipuan berkedok jual beli masker yang menelan kerugian hingga sekitar Rp 667 juta. Adalah Gusti Ayu Lia Maheswari, warga asal Kabupaten Badung, Provinsi Bali, yang menjadi korban dugaan aksi penipuan. Sementara pelakunya, adalah Pasutri (pasangan suami istri) yakni berinisial TAS dan DB, yang teridentifikasi warga asal Desa Tlekung, Kecamatan Junrejo, Kota Batu.

Kasat Reskrim Polres Batu, AKP Jeifson Sitorus, menjelaskan jika pihaknya sedang memproses kasus dugaan penipuan tersebut. Bahkan, penyidik yang telah melakukan pendalaman, juga sudah mengirim surat pemberitahuan dimulainya penyidikan (SPDP) kepada pasangan suami istri yang dilaporkan korban.

Satu pelaku yakni DB atau istri pelaku TAS, telah diamankan Polresta Batu. Namun, karena yang bersangkutan terkonfirmasi covid seusai menjalani test swab, maka tidak dilakukan penahanan. Sementara TAS, sedangkan dalam pencarian karena kabur dari rumah.

“Terhadap tersangka DB, untuk sementara tidak dilakukan penahanan. Hal itu dilakukan, karena kami lebih memikirkan dampaknya jika dia ditahan,” jelas Jeifson, Jumat (16/10) tadi.

Sementara itu, korban penipuan, I Gusti Ayu Lia Maheswari, menceritakan bahwa kejadian bermula ketika dirinya hendak membeli masker sebanyak 600 karton atau setara 1,2 juta lembar masker, pada Februari lalu. Kemudian, korban dikenalkan oleh temannya kepada ke dua tersangka yang tinggal di Kota Batu. Setelah berkomunikasi, korban sempat ke Batu untuk bertemu dengan tersangka.

“Awalnya saya tidak curiga. Sebab, saya bertemu dengan pelaku di sebuah rumah (mirip kantor) yang ternyata Homestay. Setelah bertemu saya langsung kembali ke Bali. Saya percaya karena ada perjanjian purchase order (PO). Baru setelah itu, saya transfer ke mereka pada 9 Februari lalu,” terangnya.

Setelah itu, tambah Ayu-sapaan korban, dirinya dijanjikan bisa mendapatkan barang pesanannya pada 10 Februari. Hanya saja, saat itu pelaku mengungkapkan ada kendala, sehingga pesanannya tidak bisa datang dan dijanjikan pada 7 Maret.

“Tetapi setelah ditunggu, masker tidak ada kejelasan dan komunikasi terputus. Mereka pun menghilang,” terangnya.

Setelah itu, sejak April korban mencari keberadaan pelaku. Namun, semua alamat yang pernah ia datangi nyatanya hanya rekayasa pelaku. Kantor tersebut, ternyata merupakan home stay yang di sewa pelaku.

“Karena berbulan-bulan tidak ada kejelasan, akhirnya saya memutuskan melaporkan kejadian tersebut kepada Polresta Batu pada 1 Oktober lalu,” terangnya.

Ketika ditanya tujuan membeli masker sebanyak itu, untuk melakukan pengadaan barang bekerjasama dengan teman yang mendapatkan order dari Kedubes Tiongkok. Bukan itu saja, korban mengaku tidak hanya rugi secara materi, namun moril dan psikis akibat perbuatan pelaku.

“Uang yang saya transferkan ke pelaku itu bukan milik saya pribadi. Sebagian milik rekan saya, akibat masalah ini saya tidak bisa kerja. Sementara saya juga harus meninggalkan anak dan sampai-sampai sampai rekan bisnis saya menuduh saya penipu dan melaporkan saya ke pihak kepolisian di Bali,” ujarnya.

Kuasa hukum korban, Sulianto SH, berharap pihak kepolisian bisa segera menindak-lanjuti kasus tersebut karena sudah keluar SPDP dan menyelesaikan kasus hingga tuntas. “Tujuan pendampingan ini, agar pelaku segera ditahan dan suaminya segera dilakukan penangkapan,” tutupnya.(bir/sit)

Lanjutkan Membaca
Advertisement
klik untuk berkomentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hukum & Kriminal

Produksi Dupa Wagir Terbakar

Diterbitkan

||

oleh

Memontum Malang – Gudang Dupa di Dusun Sekar Putih Rt 17 Rw 05, Desa Mendalanwangi, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang, menjadi sasaran amuk si jago merah, Kamis (29/10) malam.

Beruntung, meski menghabiskan tempat produksi dupa, dalam kejadian itu tidak sampai mengakibatkan korban jiwa dan merambat kemana-mana.

“Kejadiannya sekitar pukul 22.05. Untuk memadamkan kobaran api, kami mengerahkan tiga unit mobil pemadam,” kata Kepala PMK Kabupaten Malang, Goly Karyanto, Jum’at (30/10) tadi.

Dari keterangan di lokasi, tempat usaha tersebut milik Sodikin (36) warga setempat. Sementara bangunan yang menjadi tempat produksi, berukuran sekitar 8 meter x 12 meter.

“Yang terbakar hanya di tempat tersebut. Karena barang-barang yang ada mudah terbakar, akibatnya semua isi bangunan habis. Untuk penyebabnya, masih ditangani petugas kepolisian,” ujarnya. (riz/sit)

Lanjutkan Membaca

Hukum & Kriminal

67 Warga Jadi Korban Investasi Bodong

Diterbitkan

||

Korban investasi bodong melaporkan dugaan penipuan oleh salah satu karyawan bank, yang mengaku-ngaku dari Bank Rakyat Indonesia (BRI) Syariah.
Korban investasi bodong melaporkan dugaan penipuan oleh salah satu karyawan bank, yang mengaku-ngaku dari Bank Rakyat Indonesia (BRI) Syariah.

Mengaku Sebagai Pegawai Bank, Janjikan Bunga dan Hadiah

Memontum Malang – Sekitar 67 warga dari Kecamatan Jabung dan Kecamatan Pakis, beramai-ramai mendatangi Mapolsek Pakis, Rabu (28/10) petang. Kedatangan sejumlah warga tersebut, untuk mengadu perkara dugaan penipuan investasi yang menimpanya.

Penipuan tersebut, dilakukan oleh salah satu karyawan bank, yang mengaku-ngaku dari Bank Rakyat Indonesia (BRI) Syariah. Dalam aksinya, terduga pelaki menawarkan deposito berbunga.

Kepala Unit I Tindak Pidana Umum (Tipidum) Satreskrim Polres Malang, Iptu Ronny Margas, menyampaikan bahwa untuk mempermudah penyelidikan, Satreskrim Polres Malang membuka posko pengaduan guna melayani para warga yang tertipu.

Dipilihnya Mapolsek Pakis sebagai tempat penyelidikan, karena lantaran sebagian besar korbannya, adalah warga dari Kecamatan Pakis. “Kami dari Polres Malang, telah melakukan pemeriksaan atas dugaan tindak pidana penipuan tersebut. Sementara, korban yang sudah melapor, tercatat ada sebanyak 67 orang. Jumlah itu, kemungkinan akan terus bertambah dan kami akan menyelidikinya,” ujar Ronny, Kamis (29/10) tadi.

Ronny menambahkan, dengan adanya posko pengaduan atas tindak pidana ini, diharapkan dapat memudahkan warga yang menjadi korban penipuan, untuk mengadu dan melapor. Secara bergantian, seluruh korban nantinya dan sudah dimintai keterangan oleh penyidik.

“Dari pemeriksaan sementara, korban tersebut menyetorkan uang untuk deposito dengan jumlah yang bervariasi. Mulai dari Rp 5 juta hingga ratusan juta. Mereka dijanjikan mendapatkan bunga, yang diantaranya untuk setoran Rp 10 juta perbulan, akan menerima Rp 400 ribu,” tambahnya.

Untuk lebih meyakinkan korban, lanjut Ronny, pelaku ini juga memberikan iming-iming hadiah setelah korban menyetorkan depositonya. “Korban ini diberi iming-iming hadiah mulai dari mulai payung, kipas hingga sepeda motor. Itu sesuai dengan jumlah deposito yang disetorkan,” tambahnya.

Salah seorang korban, yakni Muhammad Alfan Suhudi (29) warga Desa Sidorejo, Kecamatan Jabung, menjelaskan kalau dirinya telah menyetorkan deposito sebesar Rp 20 juta kepada pelaku. “Awalnya, itu istri saya menyetorkan deposit Rp 10 juta. Lalu, setoran itu saya tambahi Rp 10 juta. Saat itu, kami dijanjikan bunga Rp 400 ribu dan ditambah dengan HP merk Vivo,” ungkapnya.

Uang sebesar Rp 20 juta yang disetorkan kepada pelaku tersebut, tambahnya, guna mengikuti program Desposito Faedah yang di tawarkan pelaku.

“Ketika saya menyetor, saya dimintai uang tunai dan langsung diberi kuitansi, HP dan payung. Pelaku dalam setiap kali aksinya, mengatakan kalau dirinya adalahnya karyawan BRI Syariah sebagai Account Officer (AO) di Jalan Kawi. Namun, ketika saya cek ternyata kantornya sudah pindah di Suhat dan karyawan disana mengaku tidak ada yang mengenal pelaku sama sekali,” tutupnya. (riz/sit)

 

 

Lanjutkan Membaca
Advertisement KPPS
Advertisement KPPS
Advertisement KPPS
Advertisement KPPS
Advertisement

Terpopuler