Connect with us

Politik

Kader Senior dan Aktivis ProMeg Siap Menangkan Eri- Armudji

Diterbitkan

||

DEKLARASI - Sejumlah kader senior PDI Perjuangan dan aktivis Promeg menggelar deklarasi pemenangan pasangan Eri Cahyadi - Armuji
DEKLARASI: Sejumlah kader senior PDI Perjuangan dan aktivis Promeg menggelar deklarasi pemenangan pasangan Eri Cahyadi - Armuji.

Bentuk Posko “Banteng Lawas”

Memontum Surabaya – Kader-kader senior PDI Perjuangan dan aktivis Pro-Mega di Kota Surabaya semakin menyatu dalam gerakan pemenangan Calon Wali Kota Eri Cahyadi dan Calon Wakil Wali Kota Armudji. Mereka menggerakkan ”Posko Banteng Lawas” dan menggalang suara untuk memenangkan Eri-Armudji.

Deklarasi ”Posko Banteng Lawas” dilakukan Kamis (22/10), dipimpin oleh Saleh Ismail Mukadar, ketua DPC PDI Perjuangan Surabaya 2005-2010 dan karib dari mantan Wali Kota Surabaya yang kini menjadi anggota DPR RI dari PDI Perjuangan,  Bambang DH.

Ketua DPC PDI Perjuangan Surabaya Adi Sutarwijono mengatakan, kehadiran para kader senior membuat gerak pemenangan Eri-Armudji kian melaju kencang. ”Beliau-beliau adalah pejuang partai, bahkan sejak era Orde Baru di mana Ibu Megawati Soekarnoputri dikuyo-kuyo oleh rezim. Beliau-beliau kenyang pengalaman dan punya akar yang kuat. Tentu ini semakin memperkencang gerak pemenangan Mas Eri dan Cak Armudji, yang tak lain adalah kemenangan rakyat,” ujarnya.

Adi memaparkan, para ”banteng lawas” mempunyai pengaruh di kalangan Sukarnois, rakyat kecil, dan kaum nasionalis. ”Kerja gotong royong memastikan bahwa kekuatan rakyat, wong cilik di kampung-kampung, akan mampu mengalahkan kekuatan politik yang mengandalkan uang dan tradisi transaksional semata dalam Pilkada 9 Desember mendatang,” tegas Adi.

Sementara itu, dalam deklarasi dukungan dari para ”banteng lawas”, Saleh Ismail Mukadar mengatakan, kepentingan wong cilik di Surabaya harus terus dibela.

“Kami turun tidak sekadar untuk memenangkan. Kami semua tergerak karena ingin kepemimpinan PDI Perjuangan di Surabaya terjaga, yaitu kepemimpinan yang pro wong cilik, yang welas asih, yang menjaga kebhinnekaan. Itu semuanya harus dijaga, jangan ada yang merusak,” ujar Saleh. ”Yang namanya banteng, sampai kapan pun ya tetap banteng. Maka kami solid bergerak bersatu,” imbuhnya.

Saleh mengatakan, para ”banteng lawas” terpanggil dan semakin bersemangat karena mendengar ada sejumlah pihak yang ingin meninggalkan wong cilik, rakyat di kampung-kampung, dalam kebijakan pemerintah kota ke depan. Ada pihak yang hanya ingin Surabaya membangun gedung-gedung tinggi dan meninggalkan wong cilik di belakang.

”Banteng harus berjuang sekuat tenaga membela wong cilik. Setiap ada kelompok politik yang alergi kepada wong cilik, saat itulah banteng berdiri di garis terdepan untuk membela wong cilik dan rakyat kebanyakan,” tegas Saleh yang pernah menjabat Ketua DPC PDI Perjuangan Surabaya 2005-2010.

”Platform kerakyatan selama ini telah melandasi kerja saya di Pemkot Surabaya, ke depan ya pasti semakin mengutamakan wong cilik. Sekolah dan berobat tetap gratis. Jangan ada warga susah makan. Ekonomi rakyat dihidupkan. Dan sebagainya, semua berbasis kebutuhan rakyat kecil,” pungkasnya. (ace/ono)