Connect with us

SEKITAR KITA

Kayu di Kawasan 3,3 Hektare Ditebang Perhutani

Diterbitkan

||

Kayu yang ditebang Perhutani di kawasan Alas Burno.
Kayu yang ditebang Perhutani di kawasan Alas Burno.

Berdalih Peremajaan dan Sesuai Surat Tebang

Memontum Lumajang – Sejumlah kayu di kawasan di kawasan Alas Burno Hutan Damaran area Wisata Siti Sundari, Kabupaten Lumajang, ditebang pihak Perhutani. Penebangan secara besar-besaran itu, berlangsung di sekitar 1 hektare lebih, kawasan tersebut.

Asper Perhutani Wilayah Senduro, Lesmana, ketika dikonfirmasi terkait penebangan hutan, mengatakan bahwa penebangan yang dilakukan sudah sesuai prosedur. Tujuan penebangan, dimaksudkan untuk dilakukan peremajaan. Jadi, setelah dilakukan penebangan, akan dilakukan penanaman kembali di kawasan yang sama.

“Insya Allah, akan kembali ditanami kembali. Sistem silvikltur Perhutani, tebang habis permudaan buatan. Artinya, tebang – tanam. Sesuai dengan surat Perintah Tebang di 3,3 hektare,” katanya singkat.

Mensikapi hal itu, justru memunculkan kekhawatiran tersendiri. Dengan pertimbangan, penebangan pohon-pohon yang berukuran besar, akan memiliki dampak pada lingkungan.

“Akibat penebangan hutan, kita khawatir banyak pengaruh terhadap lingkungan kita. Seperti pasokan air, akan berkurang dan juga bisa mengakibatkan longsor. Apalagi daerah itu merupakan kawasan pegunungan,” ungkap Ketua Lanusa Lumajang, Decky Agung Setyobudi SE, kepada Memontum.com, Kamis (5/11) pagi.

Menurut Decky, kerusakan hutan dibanding upaya perbaikannya, sangat jauh dari harapan. Dikhawatirkan, yang terjadi malah hutan kian merana. Fungsi-fungsinya juga luruh. Padahal, fungsi itu untuk menjaga bumi agar berumur panjang. Pihaknya berencana akan mempertanyakan hal itu pada Perhutani.

“Fakta di lapangan, hutan kita semakin habis. Meluasnya kerusakan itu lantaran kurangnya pengawasan. Saya curiga, itu akan dijadikan ‘sesuatu’ karena yang ditebang persis di samping kawasan Siti Sundari. Hutan kok malah digunduli, bukannya harus dijaga,” terangnya.

Lebih lanjut dirinya menerangkan, secara harfiah, hutan memiliki fungsi orologis untuk mencegah erosi. Hutan juga berfungsi klimatologis atau mengatur iklim agar stabil. Jika tidak ada hutan, bisa saja bumi kehilangan sumber mata air dan mengalami kekeringan. Sekarang ini, hal itu sudah dirasakan. Apalagi bila musim hujan sering terjadi bencana banjir dan longsor dimana – mana.

“Harusnya pengembalian fungsi hutan sudah menjadi harga yang tidak dapat ditawar lagi. Recovery hutan membutuhkan waktu tak singkat dan harus terus dijaga berkelanjutan. Bukan sekadar tanam lalu dibiarkan begitu saja,” tegasnya. (adi/sit)

Lanjutkan Membaca
Advertisement
klik untuk berkomentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *