Connect with us

KREATIF MASYARAKAT

Kelurahan Tunjungsekar Sulap Limbah Diapers Jadi Sandal hingga Lampu

Diterbitkan

||

Emalia Rohayati menunjukkan hasil kerajinan yang terbuat dari limbah popok (diapers).
Emalia Rohayati menunjukkan hasil kerajinan yang terbuat dari limbah popok (diapers).

Memontum Kota Malang – Warga Kelurahan Tunjungsekar RW 01, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, bersama-sama melakukan upaya peduli lingkungan. Cara yang dilakukan cukup unik, yakni dengan merubah limbah popok (diapers) menjadi barang-barang yang bermanfaat dan memiliki nilai jual.

Kegiatan tersebut, bermula dari terbentuknya kampung STBM (Sanitasi Total Berbasis Masyarakat) pada bulan September 2020. Di mana, kampung STBM tersebut memiliki 5 pilar yang salah satunya adalah mengolah limbah atau sampah rumah tangga.

Salah satu penggerak kampung STBM, Emalia Rohayati, mengatakan bahwa alasan memilih untuk mengolah diapers adalah banyaknya limbah diapers di kawasan tersebut. “Di sini jumlah balitanya ada sekitar 148 dan itu lumayan banyak. Jadi, kita berpikir untuk membuat sesuatu yang berbeda tapi tetap bermanfaat,” ujar Emalia kepada Memontum.com, Sabtu (14/11) tadi.

Emalia menjelaskan, bahwa setelah pampers dicuci bersih dengan detergen, nantinya akan dibuat dan dibentuk untuk membuat barang-barang bermanfaat. Barang-barang itu, diantaranya adalah sandal, lampu, pot bunga dan masih banyak lagi.

“Proses pembuatannya sendiri tidak lama, mencuci dan menjemur kalau cuacanya cerah ya sehari selesai. Terus dibentuk, memerlukan waktu 1 sampai dua hari. Yang lama itu, mungkin membuat lampu, karena harus memilin dulu baru ditempel,” jelas Ibu Hendro, sapaan akrabnya di kampung.

Sejauh ini, tambahnya, masyarakat mendapat pembinaan dan pelatihan dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang, di tiap minggunya. “Ada pelatihan setiap hari Jumat dan Sabtu. Alhamdulillahnya, warga malah berebut untuk mengikuti pelatihan,” tuturnya dengan bangga.

Saat ini, kata Emalia, barang-barang tersebut baru dijual di lingkungan sekitar dan secara online, belum secara luas atau sampai mengadakan pameran.

“Saat ini masih sekitar wilayah sini dan online. Kalau online baru lewat facebook, atau wa, sedangkan akun instagram kampung STBM nanti akan dibuatkan. Rencana juga akan mengikuti pameran tapi masih didaftarkan ke Dinkoperindag,” imbuhnya.

Hasil dari pengolahan limbah tersebut, lanjut Emalia, dilakukan sistem tabung. Yang artinya, dari warga, oleh warga dan kembali untuk warga. Dirinya juga masih terus berupaya untuk mengajak warga RT lain untuk ikut kegiatan tersebut.

“Alhamdulillah, sudah banyak yang ikut. Dari 11 RT sudah hampir 80 persennya, ikut serta. Saya masih melakukan pendekatan kepada ketua RT masing-masing,” katanya.

Dirinya berharap, kedepannya kampung STBM di Kelurahan Tunjungsekar, dapat berkembang dan dikenal masyarakat luas. “Semoga bisa segera mengikuti pameran-pameran. Sehingga, akan semakin membuat semangat lagi untuk peduli lingkungan,” pungkasnya. (mg1/sit)