Connect with us

Pendidikan

SMKN 1 Boyolangu Minta Sumbangan Wali Murid

Diterbitkan

||

Kepala SMKN 1 Boyolangu, Arik Eko Lestari Spd.
Kepala SMKN 1 Boyolangu, Arik Eko Lestari Spd.

Alasan untuk Bangun Areal Parkir, Telan Biaya Miliaran

Memontum Tulungagung – Sejumlah wali murid Kelas X SMKN 1 Boyolangu, Kabupaten Tulungagung, mengeluh. Penyebabnya, ada permintaan sumbangan untuk pembangunan parkir dua lantai, dari pihak sekolah.

Sementara biaya pembangunan lahan parkir sendiri, mencapai miliaran rupiah. Sedangkan dana tersebut, menurut wali murid akan ditanggung seluruhnya oleh siswa baru yang jumlahnya sekitar 800 murid.

“Sekarang ini lagi pandemi Corona. Kok dimintai sumbangan sampai Rp 1,5 juta,” keluh salah seorang wali murid, yang enggan namanya disebutkan.

Dilanjutkan wali murid perempuan tersebut, sebelum permintaan sumbangan itu diberikan ke wali murid, awalnya seluruh wali murid siswa baru diajak rapat dengan pihak sekolah dan komite sekolah. Kemudian, mereka diberi tahu jika sekolah butuh lahan parkir.

“Biaya pembangunan tempat parkir itu, dibebankan ke wali murid kelas X,” imbuhnya.

Ditambahkannya, agar wali murid tidak merasa terbebani, wakil kepala sekolah mengatakan bahwa wali murid boleh mencicil selama satu semester alias enam bulan.

“Juga dikatakan, bahwa siswa SMA dan sederajat, tidak lagi bayar SPP. Makanya, diminta bayar sumbangan,” ucap wanita paruh baya tersebut.

Saat itu, ujarnya, wali murid merasa tidak berkutik. Masalahnya, anak mereka baru diterima di sekolah tersebut. “Jika mereka keberatan, khawatirnya si anak akan dikucilkan,” tambahnya.

Salah satu wali murid lainnya, pun juga sempat bertanya, apa ada rencana anggaran belanja (RAB) untuk pembangunan tempat parkir tersebut. Lalu, dijawab pihak sekolah, jika RAB belum dibuat. Angka miliaran rupiah itu, hanya perkiraan saja.

“Inikan aneh. Masa mau bangun tempat parkir miliaran rupiah, hanya kira-kira,” ucap wali murid lain yang berstatus sebagai PNS itu.

Yang lebih aneh, menurut wali murid pria itu, adalah kuitansi pembayaran. Harusnya, yang menerima duit yang bertanda tangan di kuitansi. Ini malah sebaliknya, justru wali murid yang malah bertanda tangan. “Lucukan. Ini kuitansi model apa?,” kata pria tersebut bertanya.

Kepala SMKN 1 Boyolangu, Arik Eko Lestari Spd, membenarkan jika pihaknya meminta sumbangan ke wali murid kelas X, dengan alasan untuk pembangunan tempat parkir. Nominalnya, sebesar Rp 1,5 juta. Namun, pihaknya juga memberi keringanan bagi yang tidak mampu.

“Ada yang hanya bayar Rp 300 ribu. Bahkan, ada yang Rp 0,” kata Arik seraya menambahkan, bahwa yang dilakukan sekolah adalah sumbangan untuk murid yang mampu. Sementara yang tidak mampu, tidak memberi sumbangan.

Pegiat Pendidikan Tulungagung, Susetyo Nugroho, justru mengaku gerah dengan informasi itu. Menurutnya, pihak sekolah sudah tidak mengindakan program Tis Tas Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa. Di mana, dalam program tersebut, Gubernur menyatakan bahwa sekolah SMK dan SMA di Jawa Timur adalah Gratis.

“Jika meminta sejumlah uang, apa pun alasannya, berarti sekolah tersebut sudah berani mengabaikan intruksi gubernur selaku Kepala Daerah. Ini tentu memprihatinkan, bayangkan saja, sekelas gubernur saja tidak digubris,” kata Yoyok.

Tidak hanya sekolah, lanjut Yoyok, seharusnya Kacabdin Provinsi Jawa Timur di Tulungagung, harus ikut bertanggungjawab. Karena, ada pembiaran sehingga seakan-akan mendukung kebijakan sekolah.

“Kacabdin Tulungagung yakni Bapak Solikin, harus ikut bertanggung jawab. Karena beliau sebagai perpanjangan tangan Dinas Provinsi Jawa Timur,” ujarnya. (and/sit)

Lanjutkan Membaca
Advertisement
klik untuk berkomentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *