Connect with us

Lumajang

Perhutani Tebang Sonokeling Hutan Candipuro

Diterbitkan

||

Bekas penebanngan pohon sonokeling di hutan Desa Sumber Rejo, Kecamatan Candipuro.
Bekas penebanngan Pohon Sonokeling di hutan Desa Sumber Rejo, Kecamatan Candipuro.

Sumber Mata Air Dilaporkan Mengalami Penurunan

Memontum Lumajang – Sejumlah Pohon Sonokeling yang berada di hutan Desa Sumber Rejo, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang, telah ditebangi oleh Perhutani. Akibat penebangan secara besar-besaran itu, menyebabkan menurunnya debit sumber mata air.

Warga Dusun Krajan, Desa Sumber Rejo, Mbah Priyo (60), mengatakan kalau warga setempat kini mulai kesulitan air. Diduga, penyebabnya adalah dari Kayu Sonokeling di hutan daerahnya, ditebangi oleh Perhutani. Sehingga, berdampak pada pasokan air.

“Sebelum ditebang tidak ada masalah, tetapi setelah ada penebangan secara besar-besaran, banyak sumber mata air menurun drastis. Seperti sumber pitek misalnya, sekarang ini debit airnya sudah tidak sebesar dulu. Akibatnya, kami masyarakat Dusun Sumber Rejo, Dusun Krajan dan Dusun Bulak Manggis, sulit mendapatkan air. Padahal, ini sudah memasuki musim hujan. Jadi, bagaimana nanti di musim kemarau,” ungkap Mbah Priyo, Kamis (19/11) tadi.

Asper KRPH Candipuro, BKPH Pasirian, SKPH Lumajang, Subur, ketika akan dikonfirmasi di kantornya untuk dimintai penjelasan terkait penebangan Pohon Sonokeling di wilayahnya, sedang tidak ada di tempat. Sementara ketika nomor teleponnya dihubungi via telepon, belum memberikan jawaban.

Pegiat Lingkungan Lumajang, Arsyad Subekti, ketika meninjau langsung area hutan tersebut, merasa kaget melihat kondisi hutan di Desa Sumber Rejo. Itu karena, hutan tersebut kini sebagian terlihat gundul. Hanya menyisakan tonggak-tonggak Kayu Sonokeling pasca ditebang.

Mensikapi kondisi itu, Arsyad menjelaskan, bahwa Uni Internasional untuk Konservasi Alam IUCN sudah menetapkan bahwa Kayu Sonokeling sebagai kayu langka dan terancam punah. Kayu Sonokeling masuk kategori apendiks 2, sehingga peredaran Kayu Sonokeling lebih diperketat dibandingkan dengan kayu jenis lainnya.

“Saya heran, kenapa Kayu Sonokeling di Candipuro, justru ditebangi. Bukan hanya yang pohonnya besar, tapi juga yang kecil juga ditebang,” ujarnya.

Ditambahkan Arsyad, walau pun Perhutani sudah punya dasar aturan dalam melakukan penebangangan hutan, pihaknya mengingatkan bahwa ada beberapa hal yang perlu menjadi dipertimbangkan sebelum penebangan dilakukan.

“Selain bisa berdampak banjir, yang setiap saat bisa terjadi. Penebangan pepohonan besar juga bisa menyebabkan kekeringan. Apalagi, ini pohon yang kecil juga ditebangi. Kalau alasan prosedur, masa pohon yang masih kecil ditebang juga. Padahal saat musim penghujan seperti ini, air yang diserap oleh pohon sangat berguna untuk menyimpan air dan mengantisipasi bencana banjir,” ungkapnya.

Arsyad meminta, agar Perhutani tidak sekadar mementingkan diri sendiri. Tetapi juga harus memikirkan masyarakat sekitar hutan yang membutuhkan sumber mata air untuk keberlangsungan hidup.

“Perhutani jangan hanya pikirkan profit, sementara masyarakat sekitar diabaikan. Kalau sudah tidak ada lagi pepohonan besar karena ditebang seperti sekarang, maka tidak ada lagi cadangan air yang disimpan,” terangnya. (adi/sit)