Connect with us

Kabar Desa

Ritual Nyadar, Penghormatan Mbah Anggasuto Sang Penemu dan Pencipta Garam

Diterbitkan

||

Pelaksanaan ritual nyadar sebagai penghormatan terhadap Mbah atau Syekh Anggasuto sebagai salah seorang penemu sekaligus pencipta garam pertama di Indonesia.
Pelaksanaan ritual nyadar sebagai penghormatan terhadap Mbah atau Syekh Anggasuto sebagai salah seorang penemu sekaligus pencipta garam pertama di Indonesia.

Sumenep Memontum – Upacara adat nyadar oleh warga Desa Pinggir Papas sebenarnya sebagai bukti atau bentuk penghormatan oleh anak cucu kepada jasa-jasa leluhurnya bernama Mbah Anggasuto yang ada di Desa Pinggir Papas, Kecamatan Saronggi, Kabupaten Sumenep.

Upacara tersebut rutin digelar setiap tahun di Desa Kebundadap Barat, Kecamatan Saronggi sekaligus sebagai tasyakuran petani garam.

Menurut Ibnu Fajar, salah seorang warga Pinggir Papas, acara ritual nyadar itu biasanya dilakukan di sekitar Agustus. Hal itu sebagai penghormatan terhadap Mbah atau Syekh Anggasuto sebagai salah seorang penemu sekaligus pencipta garam pertama di Indonesia. Beliau telah menginspirasi pembuatan garam pertama kali.

“Kenapa Mbah Anggasuto berjalan di pinggir pantai? Mungkin dia ingin bersemedi bagaimana bisa menciptakan kehidupan yang baik bagi masyarakat atau anak cucunya nanti. Sehingga ia berjalan di pantai akhirnya telapak kakinya ini membekas di tanah. Lalu bekas itu menjadi buih putih garam kristal, maka dari itulah, garam di Madura diciptakan,” terang Ibnu.

Selain nyekar atau Nyadar ke Asta/bujuk Mbah Anggasuto, juga sekaligus nyadar terhadap Mbah/Syekh Kabasa, Mbah/Syekh Dukun, Nyai Kabasa dan Nyai Bangsa. Ziarah berupa nyadar sekaligus mendoakan agar warga Desa Giirpapas dan Marengan dan sekitarnya menjadi makmur atas garam ini.

Menurut Ibnu, warga biasanya berbondong-bondong dengan membawa makanan yang disimpan dalam panjang (semacam tumpeng). Panjang itu terbuat dari anyaman bambu dan hanya digunakan ketika nyadar.

Sebanyak 700 panjang berisi makanan diletakkan berjejer di sebelah selatan Asta. Tidak hanya bawa panjang, tapi juga bawa kembang tujuh rupa untuk ditaburkan di makam di Asta tersebut.

“Setiap tahun itu dilakukan nadar 3 kali ritual nyadar sebenarnya. Namun yang dilakukan ritualnya yakni ke makam Kebundadap Barat dilakukan 2 kali Nyadar atau Nyadar pertama dan Nyadar kedua. Untuk Nyadar yang ketiga itu dilakukan di Pinggir Papas, yang tempatnya di Bujuk/Asta Cokop. Kenapa, karena ketua adat yang dari Mbah Anggasuto itu pasti ngumpul di Bujuk Cokop,” ungkapnya. (adv/edo)