Connect with us

SEKITAR KITA

KBIH Pamekasan Pertanyakan Rencana CJH di Vaksin Covid-19

Diterbitkan

||

Ketua DPD FK KBIH Kab Pamekasan, HM Loeqman Al-Hakim. (Memontum.com/Slamet Readi)

Memontum Pamekasan – Calon jamaah haji (CJH) Pamekasan, belakangan ini resah. Penyebabnya, suntik vaksin yang rencananya akan diterapkan kepada CJH, masih belum jelas asal muasalnya.  Bahkan, belakangan isu berkembang di masyarakat, bahwa vaksin Covid-19 akan diuji-cobakan kepada CJH.

CJH khawatir, vaksin Covid-19 diujicobakan kepada CJH yang hendak melaksanakan haji dan umroh. Sebab, saat ini ada intruksi dari kesehatan haji dan umroh, untuk musim haji 2020 segera melakukan suntik vaksin meningitis MM.

Padahal, persiapan administrasi seperti paspor dan jumlah kouta haji yang akan berangkat serta pendataan jamaah haji, juga masih belum jelas. Semestinya, pendataan itu dilakukan terlebih dahulu, sebelum suntik vaksin meningitis MM dilakukan.

Ketua dewan pengurus daerah (DPD) Forum Komunikasi Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umroh (KBIH) Pamekasan, HM Loeqman Al-Hakim, mengaku perlu menindaklanjuti imbauan tersebut. Sebab, penerapan vaksin bagian dari cara untuk divaksin Covid-19, ramai dikalangan calon jamaah.

“Kenapa harus memulai lebih awal. Sementara, kepastian pemberangkatan CJH 2020 ke 2021, belum tertata baik. Kok sekarang, seuruh jamaah harus di vaksin,” ujarnya heran.

Mantan Sekretaris Dispora Pamekasan itu menambahkan, penyelenggara kesehatan haji dan umroh, perlu mensosialisasikan yang pasti. Seperti, paspor dan identitas lain.

“(Vaksinasi dilakukan) kalau sudah diketahui 2021, Covid-19 hilang dan (CJH) berangkat. Sehingga, tidak memunculkan persepsi negatif masyarakat. Belum apa apa, sudah di vaksin,” ujarnya.

Ada beberapa jamaah, tambahnya, yang mengerti resiko vaksin. Makanya, perlu ada penjelasan, vaksin yang mana yang akan diberlakukan kepada jamaah haji.

Merujuk pada pelaksanaan vaksin tahun-tahun sebelumnya, vaksinasi itu terpusat antara Kementerian Agama dengan Kesehatan. Ada juga, tambahan biomitrik dari Kerajaan Arab Saudi, agar tidak antre panjang di imigrasi.

“Ini belum apa-apa, sudah ada permintaan untuk dilakukan vaksin. Ini perlu dijelaskan dahulu. Vaksin Covid-19 dengan meningitis itu rancu,” paparnya.

Pria yang juga Ketua KONI Pamekasan itu mengaku khawatir, jamaah haji dianggap sebagai pasar. Atau, sasaran penjualan vaksin.

“Itu bisa saja menyelam sambil minum air. Jamaah haji kalau tidak selektif, kritis (bahaya),” paparnya.

Lagipula, tambahnya, CJH belum tahu resikonya vaksin yang akan diberlakukan nanti. Sebab, uji cobanya belum final. Bagaimana vaksin yang standart menurut ISO, SNI.

“Belum apa-apa sudah didesak. Ini orang curiga. Kementrian wajib hadir. Jangan diberlakukan dahulu, sehingga biar tidak gagal dalam pelaksanaannya. Setelah dilaksanakan di sana (Arab Saudi), ternyata tidak perlu,” khawatirnya.

Loeqman meminta, pihak terkait untuk menyatakan sikap. Misalnya, 2021 CJH berangkat dengan kouta 2020. Kalau tidak, CJH tidak akan mendapatkan kepastian. “Biasanya jamaah haji jadi sasaran ketidak pastian. Spekulasinya tinggi,” keluhnya.

Kepala Seksi (Kasi) PHU Kankemenag Pamekasan, Innani Mukarromah, mengatakan bahwa saat ini belum ada surat mengenai aturan tersebut. “Tidak ada surat resmi tentang itu (Suntik Vaksin, red),” ujarnya singkat.

Terkait kuota jamaah haji, Nanik mengaku, CJH yang gagal berangkat pada tahun 2020 berkisar 987 orang. Salah satu kendalanya, adanya kebijakan dari pemerintah Arab Saudi yang menyetop proses ibadah haji berkaitan dengan pandemi global Covid-19.

“Sesuai dengan KMA 494 tentang pembatalan keberangkatan haji, dari tahun 2020 ke 2021, jadi istilahnya itu, yang tahun 2020 itu bergeser ke 2021,” ungkapnya.

Nanik menjelaskan, dalam pelaksanaan Haji pada tahun 2021, saat ini masih dilakukan kajian terhadap tiga opsi mendasar untuk pelaksanaannya.

Diantaranya, untuk yang tertunda pada tahun 2020 bisa diberangkatkan 100 persen kuota yang ditentukan, bisa diberangkatkan 50 persen, dan bisa tidak diberangkatkan sama sekali.

Kondisi itu, tergantung dari kebijakan pemerintah Arab Saudi. Tujuannya, guna pencegahan dan penekanan penyebaran Covid-19. “Harapan kami semua, mudah-mudahan Covid-19, cepat berakhir,” urainya. (adi/sit)

Lanjutkan Membaca
Advertisement
klik untuk berkomentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *