Connect with us

SEKITAR KITA

Begini Teknis Pelayanan Vaksinasi Sinovac di Puskesmas Malang

Diterbitkan

||

Persiapan vaksinasi telah dilakukan secara optimal oleh pihak Puskesmas Janti, Kecamatan Sukun.

Memontum Kota Malang – Pelaksanaan vaksinasi akan dilaksanakan oleh tiap Puskesmas di Kota Malang. Bahkan, ke 16 puskesmas sudah mengirimkan dua (tenaga kesehatan) Nakesnya untuk menjalani pelatihan sebagai vaksinator.

Seperti Puskesmas Janti, Kecamatan Sukun, contohnya sudah mengantongi mekanisme pelayanan vaksinasi. Kepala Puskesmas Janti, Endang Listyowati, S. Kep., Ns. MM.,Kes, mengatakan bahwa teknis vaksinasi sudah dirancang oleh pihaknya.

“Selain rencana lokasi vaksinasi yang nantinya akan terpisah dengan layanan umum biasa, kami sudah menyiapkan mekanisme pelaksanaannya. Itu hasil dari pelatihan tenaga kesehatan (nakes) kami berkaitan dengan vaksinasi Sinovac,” ungkapnya.

Dijelaskan Endang, akan ada empat meja yang disiapkan untuk vaksinasi. Pertama meja pendaftaran, kemudian meja screening, selanjutnya meja vaksinator, dan yang terakhir adalah meja evaluasi.

“Sesuai arahan dari pusat, sasaran vaksinasi sehari 30 orang. Pelaksanaan seminggu 2 kali, insyaallah di hari Selasa dan Rabu,” paparnya.

Berkaitan dengan 4 meja vaksinasi, Ketua Tim Pelaksana Vaksinasi, Kartika Ekapaksi, AMD., membeberkan bahwa tidak harus nakes yang bertugas di keempat meja tersebut. “Meja pertama pendaftaran itu bisa non-nakes, seperti administrasi. Kedua, screening itu harus nakes, dokter atau perawat, selanjutnya meja vaksinator juga harus nakes yang berwenang memberikan vaksin.

Terakhir, meja evaluasi bisa tenaga kesehatan lainnya seperti nutritionist atau sanitarian,” paparnya.

Ketika pasien datang, lanjut Kartika, di meja pertama harus menunjukkan undangan elektronik vaksinasi. Kemudian menuju meja dua untuk screening, dimana akan diberi 16 indikator pertanyaan dari BPJS (Badan Pelaksana Jaminan Sosial) yang berhubungan dengan penyakit penyerta atau kondisi khusus calon penerima vaksin.

“Saat pasien datang dilihat juga kondisi klinisnya, seperti tekanan darah, suhu, dan nadi. Tidak semua datang langsung divaksin,” imbuhnya.

Berdasarkan keterangan Kartika, selama ini vaksinasi atau imunisasi pada umumnya memiliki 2 gejala, ringan dan sedang. Gejala ringan mencangkup pusing, demam, nyeri, atau bengkak di area bekas suntikan. Sedangkan gejala berat bisa sampai sesak nafas, pingsan, bahkan kejang-kejang. “Gejala atau efek samping itu muncul karena pasien alergi terhadap salah satu komponen vaksin,” pungkasnya.

Oleh karena itu setelah proses vaksinasi ada meja evaluasi, berfungsi untuk menunggu reaksi vaksin terhadap tubuh pasien. Pasien tidak boleh minggalkan puskesmas hingga 30 menit setelah vaksinasi. “Setelah itu baru mendapat kartu vaksinasi dan boleh pulang,” katanya.

Jika terjadi reaksi atau gejala berat, diakui Kartika pihaknya sudah siap sedia shock anaphylactic kit. “Kita setiap pelaksanaan imunisasi atau vaksinasi di posyandu, puskesmas, saat BIAS (Bulan Imunisasi Anak Sekolah) sedia shock anaphylactic kit untuk antisipasi pasien yang menunjukkan gejala berat setelah mendapat vaksin. Begitu juga nanti ketika vaksinasi Sinovac, kita juga pasti sudah sediakan shock anaphylactic kit untuk jaga-jaga. Tapi selama ini alhamdulillah, shock anaphylactic kit kami tidak pernah terpakai dan jangan sampai lah,” jelasnya.

Rencana di Puskesmas Janti sendiri akan dilaksanakan 2 sesi untuk vaksinasi sinovac. Sesi 1 pukul 08.30-09.30 dan sesi 2 pukul 10.00-11.30.

“Ada imbauan dari Kemenkes supaya pelaksanaan vaksinasi sinovac ini tidak mengganggu layanan di puskesmas pada umumnya,” tutupnya. (cw1/ed2)

Lanjutkan Membaca
Advertisement
klik untuk berkomentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *