Connect with us

SEKITAR KITA

Harga Cabai Lokal di Trenggalek Tembus Rp 85 ribu Per Kilo

Diterbitkan

||

Seorang pedagang di pasar basah Trenggalek yang menjual komoditas cabai.

Memontum Trenggalek – Memasuki pertengahan Januari 2021, harga komoditas cabai di pasar tradisional Kabupaten Trenggalek merangkak naik. Tak sedikit, pembeli menyiasati lonjakan harga ini dengan mengurangi jumlah pembelian dari biasanya.

Seperti yang terlihat di pasar basah Kabupaten Trenggalek, minat pembeli akan cabai lokal tampak menurun. Kebanyakan mereka memilih untuk beralih ke cabai impor kering yang harganya jauh lebih murah.

“Pokoknya sejak harga cabai di atas Rp 80 ribu, banyak pembeli yang memilih membeli cabai impor kering. Mungkin karena harganya yang lebih murah,” ucap Siti Fatimah, salah satu pedagang saat dikonfirmasi Kamis (14/01/2021) sore.

Sampai saat ini, permintaan cabai lokal di Trenggalek mengalami penurunan. Karena harga cabai kecil masih Rp 85ribu per kilogram. Bahkan, wanita berhijab ini mengaku hanya mengambil stok sedikit untuk komoditas cabai, baik lokal maupun impor. “Ya, ditakutkan kalau ambil stok banyak, sewaktu-waktu harga cabai kembali normal,” imbuhnya.

Disingung soal harga cabai impor, Siti menyebut masih dikisaran Rp 75ribu per kilogram. Dan untuk harga cabai lokal juga masih terus berubah-ubah setiap harinya. “Kalau cabe impor kebanyakan dicari para pemilik warung makan. Selain lebih murah, jika cabe dihaluskan bisa awet dan tidak gampang basi. Bahkan rasanya pun lebih pedas,” terang Siti.

Akan tetapi, lanjut Siti, ibu-ibu rumah tangga malah jarang yang membeli cabai impor. Mereka tetap membeli cabai lokal, hanya saja dengan jumlah yang lebih sedikit.

Cabai impor sendiri memiliki bentuk hampir menyerupai cabai merah besar, hanya lebih pendek ukurannya. Dan untuk pengolahannya pun juga butuh penanganan ektra.

Cabai harus direbus beberapa menit sebelum digunakan untuk masakan. “Meski para pemilil warung makan beralih ke cabe impor, namun mereka juga masih menambahkan cabe lokal dengan komposisi 3:1. Jadi tidak semuanya memakai cabe impor,” pungkasnya. (mil/ono)

Lanjutkan Membaca
Advertisement
klik untuk berkomentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *