Connect with us

Berita Headline

Pohon Beringin Tumbang, Pemeliharaan Sarpras Alun-alun Lumajang Jadi Sorotan

Diterbitkan

||

Memontum Lumajang – Tumbangnya Pohon Beringin di Alun-alun Lumajang, menyisakan sejumlah sorotan. Maklum, akibat tumbangnya pohon yang menjadi ikon Lumajang, siapa sangka juga merusak program pengelolaan ruang terbuka hijau.

Dari data yang diperoleh, pada 8 Juli hingga 5 September 2020, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Lumajang, mengalokasikan dana sebesar Rp 99,400 juta, untuk nama pekerjaan pemeliharaan sarana dan prasarana (Sarpras) Alun-alun Lumajang.

Sementara pekerjaan yang dilakukan, yakni merubah kolam renang yang berada di sekitar Pohon Beringin yang sudah tumbang, menjadi taman kota.

Kabid Ruang Terbuka Hijau DLH Kabupaten Lumajang, Gunawan, saat diwawancarai melalui telepon mengatakan, dahulu awalnya adalah sebuah kolam di sekitar Beringin. Namun, sekarang kolam tersebut dirubah menjadi taman kota.

“Perubahan kolam menjadi taman kota ini, harus menggunakan alat berat atau tidak bisa dilakukan secara manual,” katanya, pada Selasa (19/01) tadi.

Kemudian, tambahnya, mengambilan kabel-kabel yang digunakan untuk lampu elektrical. Setelah itu, kemudian diurug atau digali, juga pengambilan batu piring, untuk selanjutnya ditimbun.

“Kemudian, diganti dengan tanah subur. Kami juga melakukan pembelian rumput jenis Gajah Mini,” terang Gunawan.

Pegiat Lingkungan Lumajang, Arsyad Subekti, saat dikonfirmasi memontum.com pada Selasa (19/01) tadi, mengaku kaget jika penanaman rumput di bawah Pohon Beringin, nilai anggarannya hampir Rp 100 juta. Dengan alasan, nilai luasan yang dikerjakan tidak seberapa.

“Lha iya, kok mahal sekali. Logikanya, harga rumput itu per meter berapa, kok sampai segitu mahalnya. Tanyakan ke dinas, mas. Digunakan apa saja, uang itu,” ujarnya. (ryk/adi/sit)

Lanjutkan Membaca
Advertisement
klik untuk berkomentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *