Connect with us

Pendidikan

Sudah di Zona Kuning, Wali Kota Dewanti Belum Putuskan Sekolah PTM

Diterbitkan

||

Kelak jika PTM diberlakukan setiap kelas berisikan maksimal 15 orang dengan 3 jam pembelajaran.

Memontum Kota Batu – Wali Kota Batu, Hj Dewanti Rumpoko, tidak ingin terburu-buru dalam menerapkan Pembelajaran Tatap Muka (PTM). Sebagai bukti, meski Kota Apel itu kini telah berubah menjadi zona Kuning, namun penerapan sekolah PTM, masih akan dilakukan evaluasi.

Dewanti berpendapat, indikator warna tingkat resiko penularan itu masih didapat Kota Batu, dalam hitungan hari. Sehingga, dirinya tidak ingin memaksakan sebelum mengetahui perkembangan dalam tiga bulan ke depan. Untuk itu, dirinya meminta kepada orang tua agar bersabar.

“Kalau bisa bertahan satu sampai dua bulan atau bahkan bisa masuk zona hijau, maka kami sangat percaya diri. Dan pastinya, akan meminta ke Disdik segera dimulai pembelajaran tatap muka,” kata Dewanti, Jumat (22/01) tadi.

Kedisiplinan masyarakat dalam menjalankan protokol kesehatan, tambahnya, masih menjadi penentu untuk menekan resiko tingkat penularan hingga mencapai zona hijau. Sehingga, status zona kuning yang ditetapkan saat ini, bisa berubah sewaktu-waktu tergantung dengan kedisplinan masyarakat.

“Ini baru beberapa hari, antara kuning ke orange (masih berpotensi naik) tergantung dengan penerapan kedisiplinan protokol kesehatan oleh masyarakat dengan baik atau tidak. Tetapi secara perlahan harus disurvei dan diverifikasi kesiapan pencegahan Covid-19. Serta para guru harus dirapid test,” katanya.

Menurutnya, kondisi di Kota Batu masih beresiko tinggi untuk penyebaran Covid-19. Dirinya berharap, masyarakat tidak terlena ketika Kota Batu berada di zona kuning.

“Jangan mengagung-agungkan zona kuning, bukan berarti terus sembrono tidak memakai masker,” katanya.

Kabid (Kepala Bidang) SMP Dinas Pendidikan Kota Batu, Hariadi, mengungkapkan jika pada sebelumnya pihaknya telah melakukan survei mengukur keinginan wali murid. Dari hasil survei itu, menunjukkan 85 persen wali murid setuju melakukan pembelajaran tatap muka.

“Hingga saat ini sudah ada dua SMP yang mengirimkan proposal kesanggupan itu. Yakni SMP 2 dan 3 Kota Batu. Selain beberapa hal itu, kami juga telah melakukan verifikasi. Seperti apa kesiapan dari setiap sekolah jika melakukan pembelajaran tatap muka,” terangnya.

Dari hasil survei itu, ada beberapa SMP swasta yang belum terpenuhi sarana dan prasarananya. Seperti ketersediaan ruang kelas yang belum mencukupi. Karena ada pembatasan pada setiap kelasnya hanya berisikan maksimal 15 orang. Serta jam pembelajarannya hanya selama 3 jam.

Selama ini, sekolah yang sudah diberikan rekomendasi untuk PTM yakni SDN Gunungsari 04. Dengan pertimbangan daerah tersebut warganya kesulitan mengakses sinyal internet sehingga pembelajaran daring tidak dapat berjalan maksimal.

Selain itu, dalam penerapan sekolah tatap muka ini juga mengikuti peta persebaran Covid-19 di masing-masing desa. Dengan artian apabila dalam suatu desa itu masih berstatus zona merah. Maka secara otomatis pembelajaran tatap muka di salah satu sekolah yang ada di desa itu juga tak bisa dilaksanakan.

“Tak hanya itu, bagi siswa yang di daerah tempatnya tinggal tingkat persebaran tinggi. Contohnya seperti di Tlekung beberapa waktu lalu hingga berujung lockdown. Maka, siswa yang berasal dari daerah beresiko tinggi itu juga tak diperkenankan masuk,” terang Hariadi. (cw2/ed2)

Lanjutkan Membaca
Advertisement
klik untuk berkomentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *