Connect with us

SEKITAR KITA

Dinas Pertanian Yakin Apel Batu Takkan Punah

Diterbitkan

||

Manajemen pengelolaan lahan dituding sebagai salah satu sebab turunnya produktivitas apel di Kota Batu.

Memontum Kota Batu – Keluhan petani apel akibat hama atau penyakit ‘mata ayam’ yang menjadikan buah membusuk, tidak dipungkiri Kepala Dinas Pertanian Kota Batu, Sugeng Pramono. Karena itu, pihaknya tengah melakukan langkah strategis dengan merevitalisasi tanaman apel petani.

Misalnya, dengan memberikan bantuan pupuk organik padat dan pupuk organik cair serta bantuan bibit untuk peremajaan. Sebab, rata-rata usia pohon apel yang ada sudah lebih dari 20 tahun, kurang optimal.

Dijelaskan Sugeng, bahwa produktivitas apel di Kota Batu, tidak seperti pada tahun 80an. Yang mana, pada masa itu Kota Batu tidak ramai seperti sekarang dan suhunya pun masih sejuk dan sangat cocok untuk tanaman apel.

“Kalau dahulu, bisa 30 ton sampai 40 ton per hektarnya. Sekarang, sudah tidak bisa. Paling banyak 10 ton sampai 15 ton. Memang benar mengalami penurunan, karena tidak hanya iklim, tapi juga masalah lahan yang kurang bahan nutrisi,” paparnya.

Namun sekarang, memang sangat berbeda. Karena, banyak faktor penyebab turunnya produktivitas apel. Gagalnya peningkatan produksi panen, juga karena petani tidak memiliki manajemen pengelolaan lahan yang baik. Akibatnya, pengelolaan lahan tidak maksimal. Sehingga produksi apel ikut berimbas.

Selain itu, Sugeng mengatakan, lahan pertanian apel di Kota Batu, banyak yang tidak bersih. Banyak buah apel membusuk di tanah sehingga menjadi sumber munculnya hama. Belakangan, penyuluh pertanian mengimbau agar buah-buahan yang gagal panen dikubur bersama larutan zat kimia.

“Artinya, pemeliharaan kurang diperhatikan oleh mereka, akibatnya lima tahun belakangan ini jadi masalah,” kata Sugeng.

Pemerintah Kota Batu sendiri, mengadakan revitalisasi lahan apel di Kecamatan Bumiaji. Melalui Dinas Pertanian, Pemkot Batu menaruh perhatian kepada enam desa yang ada Kecamatan Bumiaji agar pertanian apel bisa selamat.

Enam desa itu terdiri atas Desa Bulukerto, Bumiaji, Giripurno, Punten, Sumbergondo, dan Tulungrejo. Sedangkan untuk Desa, Sumberbrantas, Gunungsari dan Pandanrejo.

“Beberapa waktu lalu kami secara serentak bersama Wakil Wali Kota dan seluruh SKPD yang ada di Pemkot Batu melakukan penyemprotan untuk memberantas hama tersebut. Untuk bahan penyemprotan itu, kami juga memberikan bantuan berupa pestisida,” katanya.

Menanggapi merosotnya produktifitas hasil pertanian apel di Kota Batu. Dirinya sangat yakin apel Kota Batu, tidak akan mengalami kepunahan. Itu karena, saat ini pihaknya betul-betul konsen dalam perbaikan pertanian apel Kota Batu.

Bahkan, kata dia, permasalahan merosotnya produktifitas apel ini sudah mendapatkan perhatian dari pusat. Yang mana, pemerintah pusat telah menggembar-gemborkan semua produk buah-buahan harus murni dari dalam negeri.

“Terkait perbaikan apel ini kami juga telah memasukkan proposal yang ditujukan kepada pemerintah pusat. Yang berisikan permasalahan-permasalahan terkait apel Kota Batu. Serta terkait masalah pasar dan masih banyak lagi,” ungkapnya.

Menanggapi permasalah yang disebabkan karena terus meruginya para petani apel, dirinya menjelaskan, jika setiap melakukan usaha itu pasti ada naik turunnya. Apalagi dalam bidang pertanian holtikultura.

Baca Juga: Penyakit Mata Ayam Petani Apel Batu Butuh Solusi, Bukan Keyakinan

Menurutnya, kerugian itu hanya terjadi pada satu kali panen saja pertahun. Karena untuk panen apel ini, dalam setahun bisa dua kali panen.

“Untuk mengatasi masa sulit ini. Pihaknya juga telah membuat demplot di tiga titik yang dikhususkan untuk pertanian apel. Dari masing-masing titik itu, memiliki luas 2000 meter persegi. Titik itu ada di Desa Tulungrejo, Sumbergondo dan Bukukerto. Yang di gunakan sebagai percontohan,” lanjutnya. (bir/cw2/sit)

Lanjutkan Membaca
Advertisement
klik untuk berkomentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *