Connect with us

KREATIF MASYARAKAT

Krecek Rebung Khas Pasrujambe Lumajang, Rebung Berasa Seperti Daging

Diterbitkan

||

Krecek Rebung Khas Pasrujambe Lumajang, Rebung Berasa Seperti Daging
Sajian kuliner krecek rebung khas Pasrujambe.

Memontum Lumajang – Berbahan dasar bambu muda pilihan. Warga Dusun Krajan, Desa Pasrujambe, Kecamatan Pasrujambe, Kabupaten Lumajang, Lukman, mampu membuat Krecek Rebung berasa seperti daging.

Menurut Lukman, butuh keseriusan yang tidak mudah, dalam mengolah krecek rebung. Ada beberapa hal yang harus dilakukan, hingga membuat bambu muda tersebut menjadi krecek rebung yang bagus.

Baca: Korban Persetubuhan Anak di Bawah Umur Surati Kapolri, Berharap Keadilan Dari Laporan ke Polres Lumajang

“Sebelum dimasak, bahan baku terlebih dahulu direbus hingga lunak. Untuk durasi waktunya, bisa kurang lebih sekitar 2-3 jam. Kemudian, dipotong beberapa bagian kecil lalu ditusuk seperti sate. Setelah itu, barulah proses pengasapan menggunakan cara tradisional. Rebung ditaruh di atas tumang (tungku), waktu yang dibutuhkan dalam proses pengasapan sekitar 1-2 bulan, sampai warnanya terlihat hitam pekat,” ungkapnya, Senin (08/02) tadi.

Masih menurut Lukman, memasak rebung yang sudah jadi, juga perlu waktu cukup lama. Rebung terlebih dahulu direndam selama satu hari.

Kemudian, direbus dengan air mendidih selama dua hingga tiga jam, hingga bertekstur lunak. dan proses memasak bisa dengan bumbu sesuai selera.

“Biasanya, masyarakat sekitar menyajikan Krecek Rebung dengan santan yang diolah dengan bumbu opor. Sebagai pelengkap, Krecek Rebung dihidangkan bersama dengan lontong, sambal petis, bubuk kedelai dan telur goreng,” terangnya.

Baca Juga: Eks Lokalisasi Dolog Jadi Pilot Project Kampung Anggur Lumajang

Ditambahkan Lukman, makanan ini sejak lama telah menjadi menu andalan masyarakat Pasrujambe dan sekitarnya.

Meskipun makanan Krecek Rebung tersebut juga bisa ditemui di daerah lain. Namun, Krecek Rebung di Lumajang, memiliki cita rasa yang berbeda. Sangat khas dan tidak bisa ditemukan dimanapun.

“Karena proses pengolahannya menggunakan pengasapan tradisional bukan dijemur seperti rebung yang ada di daerah lainnya,” paparnya. (adi/sit)

Lanjutkan Membaca
Advertisement
klik untuk berkomentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *