Connect with us

KREATIF MASYARAKAT

Jelang Imlek, Orderan Lampion Lesu

Diterbitkan

||

Jelang Imlek, Orderan Lampion Lesu
Penurunan order lampion pada Imlek tahun ini berkisar 10 sampai 25 persen.

Memontum Kota Malang – Pandemi Covid-19 berimbas pada segala sektor. Tidak terkecuali, saat di masa perayaan Imlek.

Penjualan lampion yang biasanya bergairah, bahkan mampu terbang tinggi, kini turut lesu seiring pandemi Covid-19.

Seperti yang diceritakan salah satu pegawai di Pengusaha Lampion, Said, yang terletak di Jalan Juanda, Kelurahan Jodipan, Kecamatan Blimbing.

Baca: Selama PPKM Mikro, Pemkot Malang Upayakan Bantuan Hibah Rp 500 ribu Per RT

Tidak hanya masalah penjualan, yang turut terdampak pandemi. Namun, orderan lampion, pun beberapa urung karena Covid-19.

“Ada yang sudah deal orderan, tapi batal karena pihak pemesan tidak bisa bikin event. Lumayan banyak, sekitar 3000-an lampion pesanan yang dibatalkan,” ujarnya, Kamis (11/02) tadi.

Ditambahkan Said, dari orderan pun menurun meski tidak begitu signifikan. “Penurunan ada, tapi tidak begitu banyak. Sekitar 10 sampai 25 persen lah, untuk penurunannya dibandingkan saat Imlek tahun lalu,” ungkapnya.

Walaupun ada penurunan, industri lampion di Kota Malang, masih bisa bertahan. Karena sehari-hari di luar Imlek dan perayaan hari besar lain, pesanan masih ada.

“Sehari-hari non Imlek pasti ada pesanan, ya rata-rata per hari 125 buah yang kami produksi. Entah buat restauran, even dan hiasan rumah. Malah yang banyak dari luar kota, Malang ada tapi nggak banyak,” terangnya.

Lampion yang dirinya buat bersama 5 karyawan lainnya itu, dibanderol mulai Rp 18ribu sampai 20 ribu untuk diameter 20cm.

Hal senada, pun diungkapkan pemilik Cempaka Lampion, Ahmad Samsyudin. Selama pandemi ini pesanan lampion di tempatnya yang berlokasi di Jalan Juanda Gang V, Kelurahan Jodipan, Kecamatan Blimbing, menurun cukup drastis.

“Tahun kemarin biasanya sampai nolak-nolak, karena perbulan pesanan bisa sampai lima ribu pesanan. Tapi sekarang cuma sekitar seribu sampai seribu lima ratusan, itu sudah bagus banget,” terangnya.

Pemesan lampionnya pun paling banyak dari Jakarta, Surabaya, hingga Bandung. Sedangkan di Malang sendiri, pesanan hanya untuk dekorasi restoran ataupun pernikahan.

“Pas Imlek itu biasanya yang dipesan bentuk bola, kapsul dan oval. Untuk luar kota saya sering kirim ke Jakarta, Surabaya dan Bandung. Kalau Malang sendiri paling buat kafe, resto atau nikahan dan nominalnya memang kecil,” paparnya.

Baca Juga: Sanggar Seni Kampung Adakan Pelatihan Seni Terapan Bertema Payung

Untuk harga sendiri, diakuinya saat ini dia menaikkan harga sebanyak Rp 5 ribu. Normalnya dulu sekitar Rp 25 ribu untuk lampion termurah, sekarang menjadi Rp 30 ribu. “Harga bahannya naik sekarang,” singkatnya.

Disamping itu, pria yang akrab disapa Ahmad ini, menegaskan walau pesanannya menurun drastis, dirinya tetap mempertahankan 17 karyawannya. Bahkan sempat dirinya menjadi tukang parkir dan menggadaikan mobilnya ketika awal pandemi, selama 7 bulan nihil pesanan.

“Saya berprinsip, dengan usaha ini bisa membantu dan memberdayakan warga kampung saya. Yang paling terpenting adalah kekompakan dan tetap mau bersama-sama dalam kondisi apapun. Kalau rugi itu gapapa, penting karyawan saya masih bisa kerja,” paparnya. (cw1/sit)

Lanjutkan Membaca
Advertisement
klik untuk berkomentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *