Connect with us

Pendidikan

Mahasiswa UMM Lakukan Unjuk Rasa, Tuntut Penurunan SPP

Diterbitkan

||

Mahasiswa UMM Lakukan Unjuk Rasa, Tuntut Penurunan SPP

Memontum Kota Malang – Puluhan mahasiswa menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung Rektorat Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Selasa (16/2) pagi.

Sejumlah mahasiswa yang berkumpul di Kampus 3 UMM itu, tengah menyerukan aksi penurunan Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP).

Baca: Terkait Penutupan Giant MOG, Ini Kata Pakar Ekonomi

Salah seorang peserta demo, Dani Rahman, mengatakan bahwa aksi ini didasari pada tidak adanya penurunan uang SPP selama perkuliahan online.

“Karena selama pandemi perkuliahan dilakukan secara online, maka kami menuntut pemotongan SPP 50 persen. Juga, pembebasan pembayaran SPP untuk mahasiswa yang sudah tidak mengambil mata kuliah,” ungkapnya.

Disamping itu, dirinya mengatakan, karena kondisi belum kondusif, dimohon agar peningkatan biaya SPP 5 persen per tahun, ditiadakan sementara.

“Selain itu, mohon juga ringankan biaya magang selama pandemi,” keluhnya.

Tidak hanya itu, dirinya bersama puluhan mahasiswa UMM lain, juga menuntut adanya perpanjangan masa pembayaran SPP.

Tuntutan pengembalian 50 persen uang P2KK dan Pesmaba Mahasiswa Baru, pun juga dilontarkan dalam aksi unjuk rasa itu.

“Dikarenakan para mahasiswa baru tidak melaksanakan P2KK (Program Pembentukan Kepribadian dan Kepemimpinan), secara offline dan tidak semuanya para mahasiswa baru melaksanakan Pesmaba (Pengenalan Studi Mahasiswa Baru) secara offline,” imbuhnya.

Baca Juga: Hastag Ajorji Dianggap Wali Kota Malang Sebagai Bentuk Kritis Warganet

Lanjut Dani, para mahasiswa yang tergabung dalam MAGER (Aliansi Mahasiswa Bergerak) itu, juga meminta penghentian uang parkir masjid untuk mahasiswa UMM.

Dikarenakan, itu termasuk fasilitas dari uang SPP yang mahasiswa bayarkan. Sedang tuntutan terakhir adalah pihak kampus harus memberikan efektifitas pembelajaran selama pandemi.

“Banyak dari mahasiwa yang terdampak berat dari pandemi Covid-19. Namun, masih tetap dituntut membayar penuh tanpa diimbangi dengan fasilitas yang sepadan. Kami pun menanyakan, kemana uang yang telah kami bayar ? Tidak ada perkuliahan dan kami juga tidak menggunakan fasilitas kampus, seperti kelas, listrik, air, laboratorium, maupun penunjang lainnya,” paparnya. (cw1/sit)

Lanjutkan Membaca
Advertisement
klik untuk berkomentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *