Connect with us

SEKITAR KITA

Kota Malang Kini Miliki Pasar Kesenian Payung

Diterbitkan

||

Kota Malang Kini Miliki Pasar Kesenian Payung

Memontum Kota Malang – Kepala Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kota Malang, Ida Ayu Made Wahyuni, bersama Karya Bumi Ngalam (Kabunga) meresmikan Pasar Payung Kutho Malang.

Peresmian yang dihelat Sabtu (20/2) tadi, berlokasi di Kampung Wisata Payung, Jalan LA Sucipto, Kelurahan Pandanwangi, Kecamatan Blimbing.

“Hari ini kita diundang oleh Kabunga, untuk mewarnai kegiatan penempatan Pasar Payung, di rumah sang maestro payung, Mbah Mun. Sebetulnya, 7 tahun yang lalu kita sudah menggagas hal ini, dan sekarang oleh Kabunga dibangkitkan kembali,” ungkapnya.

Di mata Ida, sosok Mbah Mun sendiri merupakan satu-satunya maestro payung di Indonesia dan memiliki hubungan erat dengan para pengrajin payung di Solo.

“Para seniman di Solo itu sangat membantu memperkuat keberadaan payungnya Mbah Mun. Ketika ada pameran dan Mbah Mun nggak mampu, mesti Solo yang support kita,” cerita Ida.

Baca Juga: Sanggar Seni Kampung Adakan Pelatihan Seni Terapan Bertema Payung

Berkaitan dengan kegiatan yang difasilitasi oleh Kabunga ini, diharapkan Ida, mampu menjadi embrio pengembangan produksi kesenian payung di Kota Malang. Dirinya mencetuskan adanya kerjasama dengan pihak Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kota Malang untuk sosialisasi dan pemasarannya.

“Anak-anak sekolah diberikan workshop tentang kesenian payung. Kemudian, kita lombakan dan mungkin penilaian dari sisi kerapian payungnya. Setelah itu kita adakan suatu tari payung sehingga ini bisa berkembang. Karena kalau tidak seperti itu linknya, saya rasa akan stagnan hanya menunggu pesanan yang belum tentu intens penjualannya,” tegas Ida.

Ketua Kabunga, Yuyun Sulastri, mengatakan selanjutnya akan ada perkembangan bertahap tiap minggunya. Mulai dari pemasangan rak untuk display sampai dengan penyelenggaraan pemeran.

“Setiap minggu akan terus-menerus bertahap dan tempatnya akan terus di sini tidak akan berpindah. Mungkin pameran bisa diselenggarakan dimana-mana, tapi untuk lokasi Pasar Payung tetap disini,” jelasnya.

Wanita yang akrab disapa Yuyun itu menjelaskan, bahwa lokasi Pasar Payung, harus dekat dengan sang maestronya. Supaya ketika wisatawan yang datang ke Kota Malang, mereka tahu bahwa ada Pasar Payung yang selokasi dengan maestro.

“Kalau terbangun di tempat lain, misal di Dewan Kesenian Malang (DKM) atau di Dinas Kebudayaan nanti akan hilang maestronya. Kalau di sini mereka akan tahu proses pembuatannya,” tambah Yuyun.

Penjualan berbagai karya payung dan pernak-perniknya pun dilakukan secara offline dan online. Berbagai platform sosial media, seperti Instagram dan Bigo Live akan menjadi sarana penjualan online dengan harga yang beragam.

“Harganya macam-macam, untuk souvenir mulai Rp 10 ribu. Payung mbah Mun yang kertas seharga Rp 35 ribu sampai Rp 50 ribu, kalau lukis kombinasi dibandrol Rp 50 ribu sampai Rp 300 ribu,” jelasnya.

Karya yang nampak terpajang di Pasar Payung, nantinya pun tak hanya buah tangan Mbah Mun saja. Pasalnya, seluruh warga kampung sudah mulai bisa membuat karya seni maupun pernak-pernik bertemakan payung. Seperti masker, gantungan kunci, bahkan sampai coklat berbentuk payung. (cw1/sit)

Lanjutkan Membaca
Advertisement
klik untuk berkomentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *