Connect with us

SEKITAR KITA

Malang Performance Art Kritik Pembangunan Kayutangan Heritage Lewat Teatrikal

Diterbitkan

||

Malang Performance Art Kritik Pembangunan Kayutangan Heritage Lewat Teatrikal

Memontum Kota Malang – Malang Performance Art (Mapac) sampaikan kritik untuk Wali Kota Malang, Sutiaji, Senin (22/02) tadi. Aksi kritik melalui seni teatrikal itu, dilakukan di seputaran kawasan Kayutangan Heritage atau perempatan BCA Kayutangan di Jalan Basuki Rahmad, Kota Malang.

Usut punya usut, seniman berikan kritik pada Sutiaji, terkait dengan pembangunan Kayutangan Heritage.

“Ini selebrasi karena tanggal 22 Februari pembangunan di Kayutangan Heritage sudah selesai kontraknya. Harusnya semua sudah bagus sesuai dengan rencana tapi ternyata menimbulkan masalah yang lain,” ungkap salah satu seniman yang melakukan teatrikal, Braga Ariya.

Baca: Sikapi Ketidakpuasan Netizen Terhadap Kayutangan Heritage, Wali Kota Angkat Bicara

Permasalahan yang dimaksud, seperti banjir yang pernah terjadi di kawasan ini, dan adanya kemacetan. Padahal, menurut pihaknya, tujuan membangun kawasan ini adalah untuk membangun ekonomi dan memunculkan kembali budaya yang ada di Kota Malang.

“Tapi ternyata menimbulkan masalah dan ekspektasi tidak sesuai dengan realita,” singkatnya.

Baginya, jika mengusung heritage harus ramah pedestrian dan tidak ada lagi parkir di sembarang tempat. Namun pada kenyataannya apa yang tersaji tak memiliki perbedaan signifikan.

Berkaitan dengan arti dari properti yang dibawa saat teatrikal, Braga mengatakan memiliki makna tersendiri.

Baca Juga: Dewan Anggap Pembangunan Koridor Heritage Kayutangan Salah Manajemen

“Rekan saya, Soge Ahmad, lebih mengarah pada bagaimana dia merespon apa yang sebenarnya terjadi, dimana pernah dipublish oleh pak Sutiaji pakek surat cinta. Bahwa siapapun boleh merespon apapun hasil kinerja Pemkot, boleh dikritik dengan cara apapun tanpa SARA,” jelasnya.

Lanjutnya, bunga yang dibawa mengarah pada surat cinta Sutiaji. Sedangkan tanah dan masker adalah bentuk kritikan untuk Hutan Kota Malabar yang berasa tidak memiliki fungsi apapun.

“Pada intinya kita mengkritik kinerja Pemkot dengan seni,” tambahnya. (cw1/ed2)

Lanjutkan Membaca
Advertisement
klik untuk berkomentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *