Connect with us

Berita Nasional

Tumbuhkan Jiwa Entrepreneurship Generasi Muda Melalui Budidaya Lele Sistem Bioflok

Diterbitkan

||

Tumbuhkan Jiwa Entrepreneurship Generasi Muda Melalui Budidaya Lele Sistim Bioflok

Memontum Jakarta – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB), terus mengajak masyarakat untuk budidaya lele sistem bioflok.

Tidak terkecuali, untuk generasi muda yang salah satunya santri di Pondok Pesantren (Ponpes) Darussolihin Tebu Ireng 12 Tulang Bawang Barat.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, dalam keterangannya di Jakarta, mengatakan sebagaimana Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, menyatakan bahwa perikanan budidaya merupakan penopang ketahanan pangan. Sehingga, perlu digerakkan sebagai aspek pembangunan ekonomi daerah di tengah pandemi saat ini.

Terutama untuk para generasi muda seperti santri yang ada di Ponpes Darussolihin Tebu Ireng 12 Tulang Bawang Barat, dalam rangka melahirkan usahawan atau entrepreneurship baru.

Slamet menambahkan, salah satu budidaya berkelanjutan yaitu budidaya lele sistem bioflok, Karena berbagai keunggulan teknologi budidaya ikan sistem bioflok, menjadikan sistem ini salah satu primadona di Kalangan masyarakat.

Pasalnya, budidaya ikan sistem bioflok merupakan teknologi yang memicu peningkatan produktivitas perikanan budidaya, yang secara otomatis juga menghadirkan peluang untuk menjangkau masyarakat yang lebih banyak.

Penerapan teknologi bioflok semakin maju di masyarakat dengan adanya inovasi dan kreativitas dari pembudidaya untuk mengembangkan teknologi ini lebih jauh.

Slamet mengajak pula pelaku usaha budidaya untuk terus mengedepankan prinsip keberlanjutan dalam kegiatan budidaya ikan, baik dari segi lingkungan social, maupun dari segi ekonomi atau usahanya.

“Oleh karenanya, saya sangat mengapresiasi dengan budidaya lele sistem bioflok yang dilakukan Ponpes Darussolihin Tebu Ireng 12 Tulang Bawang Barat. Selain dikonsumsi santri untuk meningkatkan kecerdasan, juga menumbuhkan jiwa entrepreneur para santri sebagai bekal masa depannya. Sehingga, ketika tamat dari pesantren bisa secara mandiri memenuhi kebutuhan pangan sekaligus usaha melalui budidaya lele sistem bioflok,” ujar Slamet, Jumat (26/02) tadi.

Kepala Balai Perikanan Budidaya Air Tawar Sungai Gelam, Boyun Handoyo, menambahkan Ponpes Darussolihin Tebu Ireng 12 Tulang Bawang Barat merupakan salah satu pondok pesantren yang menerima program bantuan dari DJPB KKP untuk budidaya lele sistem bioflok.

Harapannya, dengan adanya bantuan ikan sistem bioflok ini, Pondok Pesantren dapat meningkatkan gizi bagi santri-santrinya melalui peningkatan konsumsi ikan dari hasil kegiatan budidaya sistem bioflok.

Selain itu, tujuan kegiatan ini juga dapat menjadi inkubator bisnis usaha budidaya ikan yang berkelanjutan di Pesantren. Disamping itu juga, dapat menjadi ajang untuk regenerasi pelaku budidaya dengan membimbing para santri untuk praktek langsung budidaya ikan lele.

“Saya pribadi sangat mengapresiasi dengan Ponpes Darussolihin Tebu Ireng dengan bantuan sarana dan prasarana budidaya lele sistem bioflok yang kami berikan pada tahun 2020. Dan sekarang sudah bisa menghasilkan omzet sebanyak Rp 28 juta dan hasilnya untuk pembelian benih ikan, induk lele dan penambahan kolam induk lele, kolam pemijahan dan pendederan. Sehingga usaha budidaya lele sistem biofloknya bisa berkelanjutan dan bisa mandiri kedepannya,” ujar Boyun.

Baca juga: 2 Juta PTK Non-PNS Disiapkan BSU Rp 3,6 Triliun

Sementara itu, Pengasuh Ponpes Darussolihin Tebu Ireng 12 Tulang Bawang Barat, Wahyudin Thohir menyebut, Ponpes Darussholihin selain sebagai pusat pendidikan keagamaan, telah berkembang menjadi pondok pesantren entrepreneur. Dimana, juga menyediakan lingkungan praktik bagi berkembangnya jiwa entrepreuneur bagi para santri.

“Ponpes Darussholihin berada di area lahan sekitar 20 hektar, memiliki potensi lahan dan sumber daya manusia yang mendukung dalam mengimplementasikan ekonomi pesantren bidang budidaya perikanan untuk meningkatkan ketahanan pangan dan penigkatan gizi santri, serta mengembangkan jiwa wirausaha santri. Harapannya setelah mereka lulus dari pondok, bisa diimplementasikan sendiri di daerahnya masing-masing,” kata Wahyudin.

Tidak lupa, Wahyudin mewakili Ponpes Darussolihin Tebu Ireng 12 Tulang Bawang Barat mengucapkan terima kasih kepada KKP melalui BPBAT Sungai Gelam atas bantuan sarana dan prasarana budidaya lele sistem bioflok dan pendampingan teknologinya.

“Ke depan, saya sangat optimistis bahwa budidaya lele bioflok ini menjanjikan keuntungan dan meningkatkan kesejahteraan Ponpes. Serta mampu membangun jiwa entrepreneurship para santri di pondoknya,” tutur Wahyudin.

Wahyudin menambahkan, hasil panen dari budidaya lele sistem bioflok di Ponpes Darussholihin Tebu Ireng 12 ini, dijual kepada pengepul ikan. Juga dipesan oleh Poklahsar melalui UMK Perikanan ‘Naura corner’. Selain dijual Lele hasil panen bioflok di Ponpes Darussholihin dijadikan bahan baku untuk produksi olahan lele oleh ‘Naura corner’.

Dengan mengusung konsep zero waste, yang memanfaatkan seluruh bagian dari lele menjadi berbagai produk olahan. Diantaranya, daging untuk pembuatan kerupuk dan kemplang lele. Sedangkan, kepala kulit dan duri diolah menjadi Kerupuk tulang lele. Hal ini membuktikan, bahwa ikan lele hasil budidaya bioflok sangat bersih dan tentunya rasanya lebih manis dan enak. (hms/kkp/aye)

Lanjutkan Membaca
Advertisement
klik untuk berkomentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *