Connect with us

Politik

Gedung DPRD Kota Malang Akan Diperbaiki untuk Aksesibilitas Difabel

Diterbitkan

||

Gedung DPRD Kota Malang Akan Diperbaiki untuk Aksesibilitas Difabel

Memontum Kota Malang – Akhir-akhir ini Gedung DPRD Kota Malang sering kedatangan komunitas dan pemerhati disabilitas.

Seperti agenda bimbingan teknis (bimtek) dan seminar disabilitas yang berlangsung pada Februari lalu, hingga audiensi tim pemantau dan monitoring hasil Musrenbang disabilitas yang berlangsung Senin (01/03) kemarin.

Dari serangkaian agenda disabilitas di Gedung DPRD Kota Malang, ternyata menimbulkan beberapa kritik untuk Ketua DPRD Kota Malang, I Made Rian Diana Kartika. Pria yang akrab disapa Made itu, mengatakan bahwa Gedung DPRD, dirasa kurang diakses oleh mereka.

“Saya memang mengizinkan teman-teman disabilitas mengadakan kegiatan di sini. Mau acara apa pun, boleh. Tapi ternyata, dari giat yang berlangsung akhir-akhir ini di Gedung DPRD, saya mendapat kritik,” ungkapnya, Selasa (02/03) tadi.

Kritikan tersebut, tambah Made, berkaitan dengan infrastruktur di dalam gedung yang kurang ramah dengan disabilitas.

Seperti pintu masuk di depan maupun belakang, yang tidak memiliki bidang miring. Sehingga, membuat tunadaksa kesulitan untuk masuk.

Tidak hanya itu, tombol lift terkesan sangat tinggi bagi penyandang dwarfisme atau disabilitas dengan tubuh tidak normal.

“Oleh karena itu, kami akan melakukan pembenahan gedung ini dengan melibatkan disabilitas dalam prosesnya. Karena kami sangat mendukung, Kota Malang yang ramah disabilitas. Jadi harus banyak infrastruktur yang mampu diakses oleh masyarakat berkebutuhan khusus,” tegasnya.

BACA JUGA: Ketua DPRD Terima Audiensi Disabilitas, Berharap Malang Ramah Difabel Bukan Sekedar Slogan

Pembangunan yang melibatkan disabilitas, bagi politikus dari PDIP ini, sangat diperlukan. Terlebih dalam Musrenbang Tematik Disabilitas disebutkan bahwa prioritas Kota Malang yang berkaitan dengan disabilitas adalah aksesibilitas.

“Tadi juga ada yang menyarankan bahwa pembangunan fasilitas umum di Kota Malang harus melibatkan disabilitas. Seperti di trotoar bagaimana pembangunan guiding blocknya harus tepat, lalu berkaitan dengan naik turunnya trotoar juga jangan terlalu tinggi,” tambahnya.

Berbagai kritik yang diterima, dianggap Made sesuatu yang positif. Karena tak hanya mendapat kritik, dirinya juga menerima saran yang membangun.

“Karena pada dasarnya kita sama-sama ingin mewujudkan Malang Kota Inklusi. Jadi saya sangat terbuka dengan berbagai saran bahkan kritik. Itu bisa menjadi masukkan untuk berkontribusi dalam menentukan arah kebijakan pemerintah,” jelasnya. (cw1/ed2)

Lanjutkan Membaca
Advertisement
klik untuk berkomentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *