Connect with us

Politik

Nawakalam Gemulo Pertanyakan Kejelasan RTRW Batu ke Komisi C

Diterbitkan

||

Nawakalam Gemulo Pertanyakan Kejelasan RTRW Batu ke Komisi C

Memontum Kota Batu – Hari Air Sedunia dijadikan momen aktivis lingkungan Nawakalam Gemulo, untuk beraudiensi dengan Komisi C DPRD Kota Batu, Senin (15/03) tadi.

Aktivis yang memang dikenal sangat getol mengawal kebijakan pemerintah terkait keseimbangan antara Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dengan pelestarian lingkungan itu, menyoroti perkembangan Kota Batu sebagai salah satu destinasi pariwisata Nasional menjadi daya tarik para investor.

Baik dari sisi bidang perhotelan, tempat wisata maupun permintaan terhadap kawasan hunian termasuk villa.

Hal itu, tentu saja membuat Pemerintah Daerah harus membuat regulasi yang mengatur tentang arah pembangunan ataupun kebijakannya.

Untuk itu, Nawakalam Gemulo beraudiensi dengan DPRD Kota Batu untuk menyampaikan hal tentang kejelasan Rencana Tata Ruang Wilayah yang pernah menjadi pembahasan antara eksekutif dan legislatif.

Baca juga: Komisi B DPRD Batu Berang, Perolehan Pajak Hotel Lebih Rendah dari Pajak Cafe

Mewakili rombongan Nawakalam Gemulo, Aris, menyampaikan mengenai hari air untuk penyelamatan lingkungan. Sejauh mana posisi Perda tata ruang di Kota Batu.

Dirinya ingin tahu dan memastikan bahwa Perda tata ruang ini, benar- benar berpihak pada lingkungan.

“Contoh dari hal kecil saja, bahwa disekitaran sumber mata air yang dahulunya dalam Perda adalah sebagai kawasan lindung setempat. Tetapi diperubahan Perda hari ini, itu tidak bertuliskan lagi kawasan lindung setempat. Ada di poin-poin Perdanya itu. Itulah yang kita berikan masukan kepada para pengambil kebijakan. Agar, selalu memperhatikan nilai ekologis disamping mempertimbangkan nilai ekonomi,” jelas Aris.

Dalam melakukan perubahan Perda tata ruang ini, tambahnya, harus mengedepankan aspek-aspek lingkungan. Karena lingkungan ini adalah sebagai warisan untuk generasi berikutnya.

“Melihat kondisi lingkungan di Batu ? Sampai saat ini, kita tahu sendiri bahwa banyaknya wilayah-wilayah atau kawasan lindung berubah menjadi kawasan-kawasan industri. Itu sangat memprihatinkan. Harapan ke depan, kita mengedepankan nilai ekologis juga, tidak hanya nilai ekonomi saja,” tambahnya.

Sementara itu disinggung mengenai banyaknya kawasan hutan yang juga beralih fungsi sebagai tempat wisata, Nawakalam Gemulo juga menyoroti hal tersebut.

“Menurut kami, pihak Perhutani harus turut menjaga. Kita ingatkan, ketika hal itu menyalahi aspek-aspek lingkungan. Intinya, ketakutan kami jika kondisi lingkungan ini berubah, ketika kita tidak peduli pada lingkungan itu sendiri tentu berbahaya untuk kedepannya,” ujarnya.

Ketua Komisi C DPRD Kota Batu, Khamim Thohari, sangat mengapresiasi Nawakalam Gemulo yang memiliki rasa kepedulian terhadap pelestarian lingkungan di Kota Batu.

“Mereka datang ke kita (Komisi C) untuk diskusi terkait perda RTRW. Yang mana Perda itu, sudah lama nyantol di provinsi. Kami pun tidak akan tinggal diam, kami menanyakan kenapa masih lama? Jawabnya karena urgent faktor pandemi, kemudian banyak daerah-daerah yang memasukan Perda dan harus menunggu,” paparnya.

Kami juga menyayangkan, ujarnya, kenapa pihak Bappelitbangda tidak hadir jika diundang. Untuk ke depan, kita panggil beliaunya untuk hearing bersama.

“Kita akan mengawal ini, karena Perda ini tujuannya untuk melindungi masyarakat agar lingkungan batu tetap terjaga. Buktinya, dengan kita juga melakukan sidak-sidak bangunan yang berada di lahan hijau,” tambahnya.

Yang pasti, ujarnya, dalam waktu dekat ini kita akan lakukan hearing bersama. Jika Perda ini nanti tidak sesuai dengan aturan dan aspirasi masyarakat, bisa jadi kita lakukan perubahan lagi. “Sebelum Perda ini disahkan, akan kita ulas lagi,” paparnya. (bir/sit)

Lanjutkan Membaca
Advertisement
klik untuk berkomentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *