Connect with us

Kota Malang

Pendonor Ginjal Warga Temas Kota Batu Wadul ke Nelly Tokoh Kota Malang

Diterbitkan

||

Ita Diana warga Temas Kota Batu saat Wadul kepada Nelly tokoh Kota Malang

Memontum Kota Malang Ita Diana (41) warga Jalan Wukir Gang V RT 03 RW 02 Kelurahan Temas, Kecamatan Batu, Kota Batu ibarat sudah jatuh ketiban tangga. Sudah rela mendonorkan ginjal karena berharap akan dilunasi oleh pihak penerima ginjal, tapi bukannya dilunasi hutangnya, malah diintimidasi akan dilaporkan ke pihak berwajib. Kini dia pun wadul ke salah satu tokoh warga Malang.

Ita Diana mengkisahkan, ini bermula saat dia kalut dengan beban hutang sebesar Rp 350 juta, karena usahanya yang bangkrut. Sekitar bulan Februari, dia menjenguk temannya yang sakit di Rumah Sakit Saiful Anwar Kota Malang. Saat dirinya tiduran di mushola RSSA, dia berkenalan kepada salah satu staf dokter RSSA. Dia ditawari sebuah solusi transplantasi ginjal.

Kemudian dia diajak oleh staf tersebut berkenalan dengan salah seorang dokter RSSA bernama dr Rifai. Perkenalan dengan dr Rifai ini, awal terjadinya transaksi transplantasi ginjal. Sehingga dia mau mendonorkan dengan imbalan sebesar Rp 350 juta akan dilunasi.

Seminggu sebelum transplantasi ginjal dia diinapkan di sebuah guest house belakang rumah sakit namanya Jurnas. Akhirnya proses transplantasi ginjal tanggal (24/2/2017) mulai pukul 07.00-11.00 di RSSA Malang berjalan lancar, dengan ginjal sebelah kiri didonorkan.

Ginjalnya didonorkan ke salah satu warga Kota Malang bernama Erwin warga Jl Kaliurang Kota Malang. Pendonor mengaku bersedia mendonorkan ginjalnya, karena dirayu sang dokter dan istri Erwin, bernama Ninik yang menjanjikan semua hutangnya Rp 350 jutaan.

”Nanti semua tanggungan ibu akan saya lunasi. Itu ucapan Bu Ninik kepada saya, ” ungkap Ita.

”Selama menginap, saya diberi uang senilai 75.000 rupiah per hari selama tujuh hari. Mulai sebelum operasi pada tanggal 17 Februari 2017 sampai tanggal 24 Februari 2017, ” paparnya.

Operasi transplantasi ginjal dilakukan di lantai tiga paviliun kelas satu RSSA Malang, dengan waktu operasi mulai 07.00 wib sampai 11.00 wib.

”Tanda tangan di depan dokter Rifai, ” katanya.

”Kalau ada kesepakatan lain diluar tanggung jawab kami, dokter bilang gitu,” kata Ita.

Namun, saat ini Ita menyesali semuanya. Pasalnya, usai operasi transplantasi, janjinya yang pernah diutarakan saat mendonorkan ginjal kepada Erwin tidak ditepati.

”Organ saya berikan karena dia berjanji mau melunasi hutang saya sebesar 350 jutaan. Eh tahunya kayak gini, saya merasa ditipu,” ungkap Ita kepada wartawan.

Karena tak kunjung ia peroleh, kemudian ia menagih janji yang diharapkan. Tetapi dibantah oleh pihak penerima ginjal baik oleh Ninik maupun Erwin. Bahwa ucapan itu hanya di mulut saja dan tidak ada hitam di atas putih. Dia diusir dengan maki-makian yang menyakitkan hati.

Meski tidak ada hitam di atas putih, Ita meminta agar keluarga Erwin segera menepati janjinya.

”Saya sudah mondar-mandir tiga kali menagih janji kekurangan uang itu,” ungkapnya.

Istri Kasiadi ini menyesali perbuatannya mendonorkan ginjal kepada Erwin. Karena dia merasa diintimidasi oleh pihak penerima ginjal dan dokter, bahwa akan dibawa ke ranah hukum.

Ita juga mengaku, sejak peristiwa tersebut, salah satu staf dr Atma memberikan bantuan pendidikan kepada anaknya melalui transfer rekening selama enam bulan dengan nilai per bulan Rp 500.000 .

Bahkan Ita berencana akan berangkat menjadi tenaga kerja wanita keluar negeri agar bisa melunasi hutang-hutangnya, meski berangkat dengan satu ginjal.

Nelly, tokoh Kota Malang ini, mengaku akan membantu secara ikhlas dan mencarikan solusi bagi Ita korban transplantasi ginjal ini. Rencananya dalam waktu dekat pihaknya akan membuka aksi peduli Ita dengan mengajak semua komponen di Malang menyisihkan penghasilannya agar bisa meringankan beban yang ditanggung korban transplantasi ginjal ini. (met/yan)

Lanjutkan Membaca
Advertisement
klik untuk berkomentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *