Connect with us

Kabar Desa

Kawasan Cokroaminoto Probolinggo Kawasan Favorit para Pemburu Takjil

Diterbitkan

||

Memontum Probolinggo – Bagi yang gemar memburu hidangan buka puasa alias takjil di Kota Probolinggo, Kawasan Cokroamininoto Kecamatan Kanigaran tentu sudah tak asing di telinga. Cokroaminoto boleh dibilang salah satu lokasi berburu takjil paling banyak didengar.

Para pedagang menempati lapak di tepi jalan. Memasuki hari pertama Ramadhan langsung diserbu para pemburu takjil sejak petang. Pukul 15.20 WIB, tak lama usai bubaran kantor, para pedagang langsung sibuk melayani kedatangan para pegawai yang hendak membungkus takjil sebagai bekal buka puasa, Selasa (13/04).

Baca juga:

Sejam berselang, arus lalu lintas di sekitarnya pun terkena imbas dari ramainya pembeli yang merubungi pedagang. Setidaknya ada puluhan lapak pedagang yang menjual aneka menu takjil. Menu-menu takjil yang ditawarkan bukan hanya menu lazim semacam bubur, kolak, gorengan. Di situ ada juga nasi rames, pepes ikan, gudeg, dan lainnya.

“Di sini memang lengkap, variatif makanannya. Terus, yang terpenting di sini itu bersih. Sudah terkenal juga kan di sini. Hampir tiap Ramadhan memang sengaja sempat-sempatin setidaknya 1-2 kali ke sini,” ujar Maya.

Maya menempuh jarak cukup jauh dari lokasi tempat kerjanya, demi berburu takjil. “Ini segini murah pula, cuma Rp45 ribu, jaminan kenyang,” terangnya sambil mengangkat tangannya yang menenteng beberapa kantong plastik berisi takjil.

Pembeli lainnya, Harso juga menyoroti beragamnya menu takjil di Cokro. Menurut dia, hal itu menyebabkan pengunjung sepertinya tak perlu banyak berkeliling untuk menambah daftar buruan. Itu pula sebabnya dia ogah belanja takjil di tempat lain. “Di sini sudah ada semuanya,” ujarnya.

Sekitar 10 menit jelang waktu buka puasa, aktivitas berburu takjil di Cokroaminoto mulai sepi. Bukan karena minimnya pembeli, melainkan para pedagang mulai kehabisan barang dagangannya.

Waktu untuk berdagang dan menyiapkan dagangan selama sebulan Ramadhan di Cokroaminoto memang cukup ketat. Mereka harus gesit bergerak demi efisiensi waktu. “Hari ini saya telat. Saya sampai jam setengah tiga sore,” sesal Yani yang juga menjajakan kolak, es pisang ijo, dan berbagai minuman dingin lain di samping aneka gorengan. (geo/ed2)

Lanjutkan Membaca
Advertisement
klik untuk berkomentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *