Connect with us

Pendidikan

Hari Pertama PTM, Wali Kota Sutiaji Tinjau Langsung ke Empat Sekolah

Diterbitkan

||

Hari Pertama PTM, Wali Kota Sutiaji Tinjau Langsung ke Empat Sekolah

Memontum Kota Malang – Pembelajaran Tatap Muka (PTM) tingkat SD dan SMP dimulai hari ini (19/4). Untuk memantau sejauh apa kesiapan sekolah, Wali Kota Malang, Sutiaji, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud), Suwarjana, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes), dr Husnul Muarif, Ketua Komisi D DPRD Kota Malang, Wanedi, dan Sekretaris Komisi D DPRD Kota Malang, Rokhmad, mengunjungi empat sekolah. Keempatnya adalah SDN Kauman 1, SD Muhammadiyah 1, SMPN 3 Malang, dan SMPN 6 Malang.

Wali Kota Sutiaji menyampaikan terimakasih kepada wali murid, guru, dan siswa, dimana jajak pendapat yang pernah dilakukan beberapa bulan lalu menunjukkan 86 persen sekolah menginginkan tatap muka. “Saya sebelumnya sudah nyampaikan metode PTM dengan mengambil sampling protokol kesehatan (prokes) di SMP 8 dan SMA 2. Setelah itu karena Covid-19 mengganas, saya tidak membolehkan PTM dulu. Namun saat ini sudah ada rambu-rambu, jadi kami membuat kebijakan di SD dan SMP PTM, tentu kuncinya itu adalah prokes,” ungkapnya.

Baca juga:

Lebih lanjut, pemilik kursi N1 itu menyampaikan bahwa tingkat Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) di Indonesia, khususnya di Kota Malang meningkat seiring dengan terus dilakukannya daring. Namun hal tersebut bukan menjadi alasan atau faktor utama pihaknya memutuskan PTM. “Alasan masuknya adalah karena saat ini pengendalian Covid-19 sudah mulai terpantau dengan baik. Semua guru di Kota Malang ini sudah vaksinasi, jadi harapannya antibodi sudah terbentuk, sehingga bertugas saat PTM kali ini tidak ada transmisi virus,” bebernya.

Orang nomor satu di jajaran Pemerintah Kota (Pemkot) Malang itu menekankan bahwa prokes menjadi yang utama saat PTM. “Selain itu bagaimana kita mengontrol rasa yang was-was berlebihan. Dan masih ada beberapa catatan yang saya berikan untuk sekolah terkait dengan prokesnya,” jelas Sutiaji.

Beberapa catatan tersebut antara lain adalah antisipasi kerumunan saat siswa keluar dan masuk sekolah. Sehingga anak-anak bisa melakukan cek suhu terlebih dahulu baru cuci tangan agar menghindari kerumunan di washtafel. Jika sekolah menerapkan sistem masuk secara shift atau rombel, diharapkan untuk diberi jeda waktu 15 hingga 30 menit.

“Memang ini pekerjaan agak berat untuk tenaga pendidik dan sekolah. Namun untuk seterusnya, sekolah saya harap bisa ciptakan situasi yang nyaman, tidak ada trauma yang berlebihan, dan happy,” tandasnya.

Sementara itu, Kepala Sekolah SDN Kauman 1, Dra Umi Kulsum MPd, menjelaskan bahwa pihaknya sudah menata sedemikian rupa agar saat siswa masuk dan keluar sekolah tidak berkerumun. “Kami menata ada 4 rombel, jeda mereka masuk adalah 15 menit. Misal rombel kelas 2 masuk jam 07.00, rombel selanjutnya masuk 07.15,” jelasnya.

Karena siswanya mencapai 552, pihaknya juga menerapkan metode hybrid. Dimana bernomor ganjil akan PTM, sedangkan nomor genap akan daring, begitu sebaliknya di hari besok. “Jadi mereka seminggu dua kali ke sekolah, karena gantian ganjil genap. Nah untuk Jumat kita daring semua, pemantapan materi,” pungkasnya.

Senada dengan hal tersebut, penetapan ganjil genap juga dilakukan SMPN 6 Malang. “Jadi kami model sistem ganjil genap untuk kelas 7 dan 8, hari ini ganjil, besok genap. Kalau kelas 9 mereka sudah selesai pembelajaran, jadi setelah Ujian Sekolah tinggal menyelesaikan tugas yang belum lengkap,” kata Kepala Sekolah SMPN 6 Malang, Risna Widyawati SPd.

Dalam sehari siswa SMPN 6 Malang mengikuti 3 hingga 4 mata pelajaran dengan durasi PTM pukul 08.00 hingga 12.00 “Kita istirahat sekali, 15 menit. Tapi mereka tidak boleh keluar kelas, ditunggu oleh gurunya,” jelasnya. (hms/mus/ed2)

Lanjutkan Membaca
Advertisement
klik untuk berkomentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *