Connect with us

Hukum & Kriminal

Terancam Dieksekusi, Pihak Pemenang Lelang Minta PN Malang Bertanggung Jawab

Diterbitkan

||

Dr Yayan Riyanto SH MH usai persidangan. (gie)

Memontum Kota Malang – Sidang perlawanan Eko Budi Siswanto warga Jl Indragiri, Surabaya melalui kuasa hukumnya Dr. Yayan Riyanto, SH, MH, kembali berlangsung di PN Malang, Kamis (6/5/2021) pukul 15.00.

Tak tanggung-tanggung, dalam mempertahankan tanah miliknya di lokasi bekas Kampus STIE seluas 5.035 m2 di Jl MT Haryono Gang XIX, Kelurahan Dinoyo, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, Yayan kembali melayangkan 16 bukti surat kepada majelis hakim.

Baca juga:

“Kalau dalam persidangan sebelumnya kami menyerahkan 12 bukti surat, kali ini kami kembali menyerahkan 16 bukti surat. Saat ini sudah ada 28 bukti surat. Dalam persidangan selanjutnya kami masih akan kembali menyerahkan 2 bukti surat. Bahwa kita ini benar telah membeli lelang eksekusi Pengadilan Negeri Malang,” ujar Yayan.

Karena sebelumnya telah muncul ‘Aanmaning’ pengosongan, maka pihaknya melakukan perlawanan dan meminta supaya PN Malang bertanggung jawab.

“Pak Budi beli lelang eksekusi PN Malang 2013, namun sampai saat ini perkara masih terus berlanjut. Klien kami sebagai pembeli lelang beritikad baik meminta pertanggung jawaban PN Malang dan perlindungan hukum. Bahwa sertifikat tanah juga sudah atas nama klien kami. Sedangkan sertifikat atas nama Maryati sudah dibatalkan BPN,” ujar Yayan.

Pada Tahun 2013, kliennya membeli tanah tersebut seharga sekitar Rp 6 miliar. “Belinya Rp 6 miliar lebih. Mungkin saat ini harganya bisa 4 kali lebih. tanah tersebut juga sudah pernah akan dibangun apartemen bahkan unitnya juga habis terjual. Namun karena ada permasalahan ini, klien kami terpaksa mengembalian uang pemesanan apartemen. Karena ada permasalahan ini klien kami sebagai pembeli lelang, sangat dirugikan,” ujar Yayan.

Seperti diberitakan sebelumnya, Advokat Dr. Yayan Riyanto, SH, MH meminta supaya PN Malang tidak melakukan eksekusi lahan seluas 5.035 m2 milik kliennya Eko Budi Siswanto warga Jl Indragiri, Surabaya yang terletak di JL MT Haryono Gang XIX, Kelurahan Dinoyo, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang. Hal itu dikarenakan pihaknya masih mengajukan Peninjauan Kembali (PK). “Stop eksekusi tunggu hasil PK,” ujar Yayan.

Lahan itu adalah milik klienya sebagai pemenang lelang oleh PN Malang Tahun 2013. Rencananya lahan tersebut untuk pembangunan Apartemen Taman Melati. “Klien kami merupakan pembeli lelang setelah lahan itu dijual oleh PN Malang tahun 2013 lalu, sekitar Rp 6 miliar,” ujar Yayan.

Mantan Ketua DPC Peradi RBA Malang itu, menjelaskan Eko Budi membeli dua bidang tanah yang dulu milik Meriyati (68) warga Jalan KH Hasyim Ashari Malang, dari lelang eksekusi pengadilan di KPKNL Malang.

“Perkara No 137/Pdt.G/2003/PN.Mlg yang menyeret dua bidang tanah itu masuk dalam lelang eksekusi pengadilan, telah mempunyai kekuatan hukum tetap. Tapi Meriyati masih tidak puas. November 2013, ia mengajukan perlawanan, namun PN Malang memutuskan perlawanan itu tidak dapat diterima,” ujar Yayan.

Saat itu, PN Malang melakukan eksekusi lahan bekas bangunan kampus STIE dan STT, sesuai penetapan tanggal 3 September 2014 No 35/Eks/2013/PN.Mlg atas permohonan Eko Budi sebagai pemenang lelang. BPN Kota Malang juga menerbitkan sertifikat pengganti, bulan Desember 2014 dan menyatakan sertifikat milik Meriyati dicabut dan tidak berlaku.

“Mariyati mengajukan gugatan ke PTUN Surabaya. Gugatan tidak diterima. Termasuk upaya bandingnya juga menemui jalan buntu. Tahun 2014, ia menggugat KPKNL, termasuk klien kami di PN Malang. Tapi hakim menyatakan gugatan itu juga tidak dapat diterima. Termasuk upaya Peninjauan Kembali (PK) juga ditolak,” ujar Yayan.

Namun pad 18 September 2017, Meriyati dan Loedi Harianto, suaminya kembali menggugat Menteri ATR/Kepala BPN, KPKNL, Pemkot Malang, dan Eko Budi sebagai pemilik lahan, dengan No Perkara: 169/Pdt.G/2017/PN.Mlg.

“Gugatannya ditolak. Tapi upaya bandingnya diterima oleh PT Surabaya. Padahal harusnya Ne Bis In Idem, namun kenapa bandingnya tetap diterima ,” ujarnya.

Hakim PT Surabaya menerima permohonan banding itu, dan membatalkan putusan PN Malang No Perkara: 169/Pdt.G/2017/PN.Mlg. “Amar putusannya, menerima dan mengabulkan gugatan mereka sebagian, menyatakan Meriyati sebagai pemilik lahan dan menyatakan tidak sah sertifikat pengganti, risalah lelang hingga klien kami harus mengosongkan lahan itu,” ujar Yayan.

Yayan menyebut kini pihaknya melalui advokat di Jakarta, kliennya sudah melakukan upaya kasasi terhadap putusan PT Surabaya itu, termasuk Menteri ATR/Kepala BPN, KPKNL dan Pemkot Malang.

“Permohonan kasasi ditolak. Sekarang, klien kami kembali mengajukan upaya PK dengan beberapa dasar,” tegasnya. Yakni, Pasal 4 Peraturan Menkeu No 27/PMK.06/2016 yang menegaskan bila lelang yang telah dilaksanakan sesuai ketentuan, tidak dapat dibatalkan dan Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA) No 7/2012 butir IX yang berbunyi perlindungan harus diberikan kepada pembeli beritikad baik sekalipun kemudian diketahui bahwa penjual adalah orang yang tidak berhak atas objek itu.

“Putusan PT Surabaya sangat bertentangan dengan aanmaning yang diterima klien kami, termasuk perintah pengosongan. Objek itu sudah dibeli dari lelang eksekusi PN Malang yang dilaksanakan di KPKNL Malang,” ujar Yayan. (gie)

Lanjutkan Membaca
Advertisement
klik untuk berkomentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *