Connect with us

Kota Malang

Sulit Mendapat Pendonor Plasma Konvalesan, UTD PMI Kota Malang Tak Miliki Stok

Diterbitkan

||

Memontum Kota Malang – Terapi plasma konvalesan hingga saat ini masih menjadi salah satu cara pengobatan pasien Covid-19. Di Kota Malang sendiri, cukup sulit untuk mendapatkan pendonor plasma konvalesan.

Bahkan, dikatakan Kepala Unit Transfusi Darah (UTD) Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Malang, dr Eny Sekar Rengganingati, pihaknya tidak pernah memiliki stok plasma konvalesan. “Jadi, setiap ada pendonor plasma konvalesan, langsung diambil dan disalurkan ke rumah sakit (RS). Paling lama di sini, hanya berkisar dua hari,” ungkapnya, Jumat (14/05) tadi.

Untuk mendapatkan pendonor yang memenuhi syarat, pun juga sangat sulit. Rata-rata, hanya 10 persen pendonor yang akhirnya berhasil lolos screening.

Baca Juga:

“Jadinya kami sehari cuma ada 2 sampai 3 pendonor plasma konvalesan. Tetapi, pernah juga tidak ada sama sekali. Dan itu tidak pernah libur atau berhenti, kami buka terus. Karena orang sakit, juga tidak ada liburnya,” katanya.

Dijelaskan dr Eny, dalam sekali mendonor, rata-rata plasma yang diambil sebanyak 400 mililiter. Pasalnya, terkadang ketika mencapai 400 mililiter, alat apherisis sudah tidak mampu mengeluarkan plasma lagi.

“Sebenarnya, tergantung alat dan pendonornya. Standarnya memang diambil 600 mililiter, tapi kadang 400 mililiter sudah tidak mau keluar lagi,” tambahnya.

Mensiasati pemenuhan akan kebutuhan plasma konvalesan, UTD PMI pun sering mengadakan screening pendonor dengan menggaet beberapa instansi.

“Kami selalu berupaya untuk mengajak penyintas Covid-19 mau mendonorkan plasmanya. Jadi sering kita buat acara screening donor plasma konvalesan, karena memang tidak bisa saat itu juga donor. Harus ada seleksinya dan biasanya 24 jam setelah screening baru kita hubungi apakah yang bersangkutan bisa atau tidak mendonorkan plasmanya,” urainya. Tidak hanya menggelar acara screening donor plasma konvalesan, namun pihaknya juga sering mengagendakan sosialisasi. Supaya masyarakat, apalagi penyintas lebih peduli untuk menolong pasien Covid-19. “Biasanya setelah sosialisasi, kita ajak masyarakat untuk membuat pojok informasi,” terangnya. (mus/sit)

Lanjutkan Membaca
Advertisement
klik untuk berkomentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *