Connect with us

Kota Malang

Kampung Topeng, Salah Satu Destinasi Wisata Kota Malang yang Mulai Ditinggalkan

Diterbitkan

||

Memontum Kota Malang – Kampung tematik di Kota Malang menjadi salah satu jujukan wisata yang paling diminati, salah satunya adalah Kampung Topeng. Wisata yang berlokasi di Kelurahan Tlogowaru, Kecamatan Kedungkandang, ini telah diresmikan sejak Februari 2017 lalu. Namun sayangnya setelah lebih dari 4 tahun dibuka, kampung tematik kini terlihat mulai ditinggalkan wisatawan atau pengunjung.

Dari keterangan salah satu pengrajin topeng di Kampung Topeng, Wahyu Setyawan, merosotnya jumlah pengunjung saat pandemi menjadi alasan terbesar tak terurusnya salah satu destinasi wisata Kota Malang ini.

Baca Juga:

“Dulu kami sempat adakan acara wilujeng-an pada bulan Oktober lalu. Sempat rame beberapa hari tapi habis itu sepi lagi. Ya sampai sekarang ya begini sama sekali tidak ada yang datang,” ujar Wahyu, Jumat (18/06).

Pemandangan memprihatn seperti banyaknya rerumputan liar tumbuh tinggi di sekitaran area permainan anak Kampung Topeng nampak terlihat. Padahal banyak bangunan unik yang mampu memiliki daya tarik tersendiri bagi pengunjung. Contohnya dua topeng raksasa yang menjadi ikon utamanya.

“Ya warga sini sudah berusaha merawatnya, tapi mau bagaimana lagi tidak ada pengunjung. Ekonomi disini juga makin merosot akhirnya kita memilih mengerjakan apa yang bisa menghasilkan uang,” imbuhnya.

Diakui Wahyu, sebelumnya Kampung Topeng mampu menarik animo pengunjung hingga 500 orang perharinya. Tidak sekedar hanya berjalan-jalan, pengunjung juga bisa melakukan wisata edukasi berupa pembuatan dan pewarnaan topeng.

“Pengunjung hanya cukup membayar sebesar Rp 5 ribu saja, mereka bisa menikmati tampilan topeng-topeng khas Malangan,” sambungnya.

Dari segi pengelolaan, dikatakan Wahyu, sebenarnya Kampung Topeng berada dibawah pengelolaan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dan Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinsos-P3AP2KB) Kota Malang. Namun dia mengungkapkan kini dari kedua belah pihak belum ada sama sekali perhatian terkait makin sepinya dan mirisnya kondisi Kampung Topeng ini.

“Penduduk disini kan memang warga binaan dari Dinsos-P3AP2KB. Kemudian, agar bisa berkembang jadilah Kampung Topeng ini yang dikelola oleh Pokdarwis. Tapi sekarang ya begini,” paparnya.

Terakhir pria 18 tahun itu hanya bisa berharap Pemerintah Kota (Pemkot) maupun pihak terkait kembali menilik Kampung Topeng yang saat ini terkesan mangkrak. “Saya berharap pihak-pihak terkait bisa minimal lihat kondisinya, kemudian bisa membantu untuk mengembangkan. Jadi bisa jalan lagi wisatanya disini,” harap Wahyu. (mus/ed2)

Lanjutkan Membaca
Advertisement
klik untuk berkomentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *