Connect with us

Kota Malang

Lobby Balai Kota Malang Dipenuhi Musisi Nusantara Pecinta Alam

Diterbitkan

||

Memontum Kota Malang – Kolaborasi Pemkot (Pemkot) Malang, Museum Musik Indonesia (MMI), dan Perumda Air Minum Tugu Tirta Kota Malang dalam Pojok Karya yang berlokasi di Lobby Balaikota terus berlanjut. Kali ini mengusung tema hari Lingkungan Hidup, MMI menampilkan biografi dan karya musisi-musisi Indonesia yang getol menyuarakan pesan-pesan alam serta lingkungan.

Wali Kota Malang, Sutiaji, merespon positif inisiasi kolaborasi dari ketiga pihak tersebut. “Tentu saya mengapresiasi dan mewadahi. Sekaligus memberi penajaman bahwa lobby bak etalase yang bertempat di Gedung Balai Kota memang banyak kunjungan,” ungkapnya, Sabtu (19/06).

Baca Juga:

Sehingga, lanjut Sutiaji, Lobby Balai Kota bisa diposisikan sebagai wahana dan duta infografis maupun informasi tentang ragam issue.

“Dan ini menurut saya bagus, mengawinkan antara literasi musisi nusantara dengan isu-isu kekinian,” tambah Sutiaji.

Terdapat 10 musisi yang biografinya dipajang pada Lobby Balaikota. “Di antaranya Ully Sigar Rusadi, Gombloh, The Rollies, Iwan Fals, The Gembells, Rita Ruby Hartland, Koes Plus, Frankie and Jane, Deddy Stanzah, dan Tina Silvana. Mereka semua legendaris,” jelas Ketua MMI, Hengki Herwanto.

Seperti putaran-putaran sebelumnya, MMI menyajikan catatan perjalanan musisi tanah air dengan menyesuaikan tema yang diusung.

Hengki pun menjelaskan alasan beberapa nama tersebut dipilih untuk ditampilkan dalam Pojok Karya yang berlangsung hingga 10 Juli 2021 itu.

“Pertama ada Ully Sigar Rusady, beliau adalah musisi dan aktivis lingkungan hidup. Salah satu lagu ciptaannya berjudul Harmoni Kehidupan terpilih menjadi Duta Indonesia ke Festival Pop Singer di Jepang tahun 1978,” ujar Hengki.

Kemudian Iwan Fals, seorang musisi sekaligus pencipta lagu dan kritikus yang menjadi salah satu legenda di Indonesia. Selanjutnya ada Tina Silvana yang merupakan penyanyi asal kota Malang bersuara khas dan unik.

“Debutnya mencuat setelah melahirkan album pertamanya berjudul Di Bukit Panderman. Dimana itu merupakan sebuah bukit yang elok di kaki Gunung Kawi Kota Batu yang biasa didaki oleh para pendaki gunung tingkat pemula,” sambungnya.

The Rollies, sebuah grup musik jazz rock, pop, soul funk yang berhasil menorehkan tinta emas saat lagu Kemarau ditetapkan menerima penghargaan Kalpataru di tahun 1979.

Lanjut, ada penyangi Ritta Rubby Hartland yang banyak merilis album yang bertemakan tentang alam, sosial dan lingkungan hidup.

“Ada band legendaris Koes Plus juga kita tampilkan di Pojok Karya. Mereka telah membuat Danau Kolam Susuk semakin dikenal melalui lagu mereka yang berjudul Kolam Susu. Danau itu memang asli ada, di Nusa Tenggara Timur. Melihat keindahan yang alami dan keunikan kolam tersebut, salah satu personelnya Yon Koeswoyo terkesima dan kemudian mengabadikan kolam tersebut dalam lagu berjudul Kolam Susu,” bebernya.

Biografi penyanyi Lestari Alamku, Gombloh, juga terpajang disana. Maha karya almarhum Gombloh mengingatkan bahwa menjaga dan merawat kembali kelestarian alam patut untuk dilakukan.

Berikutnya ada group musik tahun 1960, The Gembells yang pernah membawakan lagu Balada Kalimas. Karya lagu-lagu The Gembells banyak yang bertema tentang kritik sosial, dan salah satu judul lagu Peristiwa Kaki Lima yang dicekal oleh pemerintah pada saat itu.

“Terus ada Franky Hubert Sahilatua & Jean Mauren Sahilatua atau biasa di kenal dengan nama Franky & Jane. Mereka memiliki kelebihan penulisan lirik yang naratif dengan tema pemujaan akan alam,” jelas Hengki. Terakhir ada, Deddy Stanzah yang melalui lagu Sepercik Api, dia seakan mengucapkan salam bagi dunia. (mus/ed2)

Lanjutkan Membaca
Advertisement
klik untuk berkomentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *