Connect with us

KREATIF MASYARAKAT

Anggota TNI Marinir Sukses Budidaya Lebah Madu

Diterbitkan

||

Memontum Probolinggo – Pekarangan rumah Praka Marinir, Rofi Dwi Segara warga Rt 01/Rw 03 Jalan Tambora Kelurahan Kademangan, Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo memiliki sekitar 450 kotak kayu yang berisi sarang lebah (stup). Hanya bermodal kotak kayu untuk tempat stup lebah, Praka Marinir Rofi bisa meraih omzet hingga jutaan rupiah per bulan, terutama saat musim panen madu tiba.

Agar menghasilkan madu alami, lebah-lebah yang dibudidaya, katanya, tidak perlu dikasih makanan. Dia hanya butuh menunggu frame (tempat bertelur anakan lebah) penuh dan siap panen setiap satu bulan sekali.

Baca Juga:

“Kalau dikasih makan seperti gula, hasil madunya akan jelek, banyak kadar airnya. Kalau punya saya dibiarkan saja, langsung menyerap sari bunga dari tanaman sekitar,” ujar Rofi saat ditemui, Minggu (11/07).

Pria yang juga anggota Marinir yang berdinas di Sidoarjo ini bercerita, usaha budidaya lebah bisa dikatakan tidak perlu mengeluarkan modal produksi, bila semua bahan pembuatan sarang sudah dimiliki. Pembudidaya hanya cukup membuat kotak sarang dari kayu yang lunak seperti randu dan sengon sebagai sarang lebah.

Selebihnya, hanya menunggu manisnya madu dan anakan lebah yang bisa diracik menjadi kuliner. Dalam budidaya lebah, kata Praka Marinir Rofi, yang perlu diperhatikan harus rutin memanen madu dan frame anakan lebah. Bila tidak dipanen, koloni lebah akan pergi dari sarangnya.

“Harus rutin dipanen sebulan sekali. Kalau tidak, frame dalam sarang akan penuh, dan lebah dipastikan akan mencari sarang lain,” ujarnya.

Selain itu, agar koloni lebah tidak kabur, hanya perlu memastikan tidak ada semut dan kupu-kupu yang masuk ke dalam sarang. Praka Rofi mulanya hanya seorang yang suka minum madu, alasannya sangat jelas di Alquran juga diterangkan barang siapa yang suka minum madu insyaallah tubuh menjadi sehat dan imun sangat kuat, selain itu juga bisa menyembuhkan segala macam penyakit. Baru pada tahun 2018-an dia coba membuat stup di sekitar pekarangan rumahnya hingga saat ini.

Ratusan stup yang dibuatnya, tidak langsung bisa ditempati koloni lebah. “Caranya, memasuki bulan September sampai Oktober menghadapi musim hujan, sebagian besar lebah melakukan hijrah untuk mencari sarang baru,Stup-stup yang sudah dibuat harus ditebar di kebun-kebun agar cepat ditempati lebah. Baru kemudian dipindahkan di dekat pekarangan rumah,” jelasnya.

Baru pada bulan November sampai Februari saat musim madu, Rofi sudah bisa langsung panen raya. Selama empat bulan masa panen, produktivitas madu akan meningkat setiap bulannya, satu stup bisa menghasilkan hingga 3 liter. Dari 450 stup yang dimiliki, rata-rata  bisa mendapatkan 1.200 liter madu siap dikonsumsi.

Ke depan, Praka Rofi menginginkan diwilayahnya bisa menjadi wisata budidaya lebah yang bisa menjadi tempat edukasi. Hanya saja, sebagian besar masyarakat masih suka memilih mencari madu di hutan dengan cara konvensional. “Cita-cita saya di sini bisa jadi tempat jujukan edukasi. Kemarin sempat ada perusahaan yang siap menerima dalam jumlah besar, tapi saya belum sanggup, karena di sini masih sedikit yang budidaya lebah,” ujar Rofi. (geo/ed2)

Lanjutkan Membaca
Advertisement
klik untuk berkomentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *