Connect with us

Kota Malang

Sikapi Instruksi Menko Marvest, Wali Kota Sutiaji Sampaikan Kendala Sosial Luar Biasa

Diterbitkan

||

Memontum Kota Malang – Wali Kota Malang, Sutiaji, bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) menghadiri Rakor Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 4 secara virtual dari NCC Balai Kota. Dalam rapat yang dipimpin oleh Menko Marvest itu, tiap daerah yang menerapkan PPKM Level 4 diharapkan membuat Isolasi Terpadu (Isolter).

“Diharapkan tiap kecamatan ada 1 Isolter, namun sulit. Saya kira malah tidak perlu,” ungkap Wali Kota Sutiaji, usai mengikuti rakor, Jumat (23/07) malam.

Baca Juga:

Menurutnya ketika Isolter dihadirkan, pasti ada pertimbangan bagaimana tenaga kesehatannya. Bahkan untuk penentuan tempat Isolter juga tak semudah yang dibayangkan.

“Kemarin saja kami sudah rencanakan Guest House Radho Suite untuk jadi tempat isolasi, warga menolak. Padahal sudah saya terangkan yang disitu adalah pasien yang telah menjalani 10 hari isolasi dan tinggal sisa 4 hari. Jadi gejala klinis sudah tidak ada, baru dari Safe House Kawi digeser ke Guest House Radho Suite itu,” jelasnya.

Lanjut Sutiaji, ia sangat menyayangkan warga yang menolak keputusan tersebut. Pasalnya, saat ini kondisi sudah darurat, banyak Rumah Sakit (RS) rujukan covid-19 yang overload. Karena Fasilitas Layanan Kesehatan (Fasyankes) untuk pasien Covid-19 sudah penuh, banyak warga yang harus isolasi mandiri (Isoman) di rumah.

“Ini untuk kemanusiaan, ada saudara kita menjerit butuh bantuan masa kita biarkan. Memang kendala sosial luar biasa. Lucu saya kira kalau berkata Pancasilais tapi begini saja menolak,” sesal pemilik kursi N1 itu.

Dirinya sangat berharap warga memaklumi keputusan Pemerintah Kota (Pemkot) Malang untuk membuat Radho Suite sebagai tempat isolasi. Karena berbagai pertimbangan pun telah dikaji oleh pihaknya.

“Aksesnya mudah kalau dari Safe House Kawi ke Radho Suite. Jadi yang sudah tidak ada gejala apa-apa digeser kesana, karena syaratnya kan 14 hari isolasi. Saya akan upayakan jadi disana,” tegasnya.

Oleh karena itu, dibanding membuat Isolter, Sutiaji lebih memilih menguatkan PPKM Mikro. Dimana lokalisir warga yang Isoman dapat terpantau dengan apik dan ada rasa gotong royong antar warga. “Seperti di Kelurahan Gadang itu bagus, yang positif ada 40 an tapi yang isoman 101, karena orang serumah kontak erat juga Isoman. Dan para warga lainnya peduli, dibuat Dapur Umum, asupan makanan tercukupi. Harusnya seperti itu, dan tentu memenuhi syarat untuk melakukan Isoman di rumah,” kata Sutiaji. (mus/ed2)

Lanjutkan Membaca
Advertisement
klik untuk berkomentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *