Connect with us

SEKITAR KITA

Resah PPKM Diperpanjang, Pelaku Seni di Trenggalek Jual Alat Manggung

Diterbitkan

||

JUAL: Lapak para pelaku seni di Trenggalek yang menjual peralatan hingga pakaian (memontum.com/mil)

Memontum Trenggalek – Sebagai aksi penolakan lantaran penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 4 terus diperpanjang. Sejumlah pelaku seni di Kabupaten Trenggalek rela menjual semua perlengkapan saat masih menerima tawaran manggung.

Seperti yang diketahui selama pandemi Covid-19, hampir 2 tahun lamanya mereka tak pernah mendapat pekerjaan (job). Tak heran, hal itu membuat mereka kesal dan berinisiatif menjual semua perlengkapan saat manggung demi menyambung hidup.

Baca Juga:

“Kita tau mulai awal pandemi tepatnya tahun 2019, semua acara yang menimbulkan kerumunan tidak diperbolehkan. Baik hajatan maupun event. Dan sudah selama itu kami semua tidak bekerja,” ungkap salah satu pekerja seni, Sugeng Kuncahyo saat dikonfirmasi, Senin (23/08) tadi.

Adapun peralatan yang dijualnya meliputi, kamera, barongan, kendang, sepatu, pakaian hingga aksesoris lainnya.

Bertempat di trotoar seputaran Alun-Alun Trenggalek, para pekerja seni ini nampak antusias menjual barang-barangnya.

“Setau saya, PPKM level 4 ini diperpanjang lagi sampai 23 Agustus. Bahkan kita juga tidak tau bakal ada PPKM level 5,6,7 atau tidak. Padahal kami semua ini bisa makan kalau ada job. Sedangkan ini sama sekali tidak ada,” tegasnya.

Cak Kun sapaan akrabnya menjelaskan karena semua peralatan yang digunakan saat bekerja tidak bisa lagi memberikan pemasukan. Akhirnya mereka lebih memilih menjual semua barang-barang itu demi memenuhi kebutuhannya sehari-hari.

“Kalau saya dalam kelompok kesenian ini bergerak di bidang dokumentasi, jadi yang saya jual kamera ini yang hampir 2 tahun tidak digunakan,” kata Cak Kun.

Dalam aksinya itu, para pekerja seni juga tampak menjual peralatan sesuai profesi seni masing-masing. Misalnya pemain kendang, yang menjual kendangnya. Juga artis atau penyanyi yang menjual pakaian, sepatu (high heels) dan juga aksesoris lain. Pihaknya berharap agar Pemerintah bisa memberikan solusi atas pekerjaan yang selama ini dijalani para pelaku seni. “Kita hanya ingin pekerjaan kami kembali bisa dilakukan. Meski harus dengan aturan atau kebijakan yang ada, itu saja,” harap Cak Kun. (mil/ed2)

Lanjutkan Membaca
Advertisement
klik untuk berkomentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *