Connect with us

KREATIF MASYARAKAT

Disabilitas Surabaya Melawan Keterbatasan dengan Berkarya dari Hati Lewat Dunia Seni

Diterbitkan

||

Memontum Surabaya – Komunitas Mata Hati merupakan komunitas disabilitas di Surabaya yang berlokasi di jalan Rungkut Asri. Walau mereka mempunyai keterbatasan fisik bukan berarti menjadi penghalang mereka untuk berkarya. Dengan melawan keterbatasan mereka terus berkaya dari hati lewat dunia seni.

Mereka hampir setiap hari para penyandang disabilitas tersebut berkumpul untuk berlatih alat musik, maupun berlatih tari dan drama bersama.

Baca Juga:

Rutinitas kegiatan yang dilakukan oleh para penyandang disabilitas adalah kegiatan sehari-hari yang dituntut oleh para relawan Komunitas Mata Hati untuk mandiri. Seperti, memasak, makan, belajar, dan berinteraksi dengan banyak orang.

Salah satu relawan Komunitas Mata Hati, Dian Ika Riani mengatakan, bahwa konsep mengasihani para penyandang disabilitas harus mulai dihindari. Hal ini berakibat buruk dan menyebabkan para penyandang disabilitas menjadi tidak menghargai.

“Prinsipnya hidup mereka tidak hanya di sekitar teman-teman difabel saja, tapi juga membaur bersama masyarakat lainnya. Kita harus melihat mereka dari sisi yang lain, artinya memang mereka difabel yang memiliki perbedaan kemampuan, bukan ketidakmampuan,” terangnya Dian Ika saat ditemui, Selasa (24/08) tadi.

Selain itu, kata dia, bahwa penyandang disabilitas atau difabel seperti tunanetra juga tidak melulu beraktifitas sebagai tukang pijit, melainkan juga kegiatan lainnya, seperti konter kreator.

“Sebetulnya mereka ini sudah melek teknologi. Untuk tunanetra misalnya, mereka sudah paham dengan IT friendly. Tunanetra melalui teknologi handphonenya mereka sudah bisa mandiri, dengan screen reader yaitu membaca apapun yang ada di layar,” ucapnya.

Kemudian untuk tunarungu, lanjut dia, bahwa kecanggihan teknologi juga bisa membuat mereka berkomunikasi dengan mudah, sama halnya dengan tunadaksa yang juga dimudahkan dengan alat bantu.

“Tunarungu juga bisa video call bisa text juga, ada fitur enkripsi ya mengubah suara menjadi teks. Teman-teman daksa kan sudah ada tongkat atau kaki palsu atau lainnya, mereka sudah kita anggap tidak memiliki dis (disabilitas, red) tapi sudah able (mampu), melalui teknologi,” jelasnya.

Dari kemampuan ini lah, Dian Ika bersama relawan yang lainnya membantu untuk memberikan sosialisasi kepada masyarakat tentang edukasi dan pesan-pesan yang ingin disampaikan oleh para penyandang disabilitas lewat dunia seni. “Kita butuh untuk menyuarakan ini. Sosialisasi difabel ini harus terus-terusan, kami menyuarakan itu dengan berbagai bentuk, tapi karena kita di seni, jadi kita mengarahkan melalui musik, tari, dan drama untuk menyampaikan pesan,” tambahnya. (ade/ed2)

Lanjutkan Membaca
Advertisement
klik untuk berkomentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *