Connect with us

Kota Malang

Evaluasi Penanganan Covid-19, BOR RS Rujukan di Kota Malang Turun

Diterbitkan

||

Memontum Kota Malang – Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 4 dibeberapa kota di Jawa dan Bali diperpanjang hingga Senin (30/08) ini. Selama penerapannya, Wali Kota Malang, Sutiaji, berujar bahwa sampai saat ini, daerah kepemimpinannya telah menunjukkan tren perkembangan penanganan Covid-19.

“Sebenarnya saya tidak peduli level-levelan, yang terpenting saya inginkan ada relaksasi. Saya lihat tren kita saat ini kan sudah turun,” ungkapnya pada awak media ketika ditemui di Balaikota.

Baca Juga:

Ia berujar bahwa tingkat kasus positif di Kota Malang sama dengan daerah yang berstatus level 3. Bahkan jika dibandingkan dengan Surabaya, Kota Malang sudah menunjukkan jumlah yang kecil, hanya 547 kasus aktif.

“Angka kematian pun sudah turun menjadi 7 persen. Sementara kesembuhan kita hampir 90 persen,” terang orang nomor satu di Kota Malang itu.

Untuk Bed Occupancy Rate (BOR) Kota Malang juga telah menunjukkan penurunan. BOR bagi warga Kota Malang sendiri hanya tinggal 22 persen.

“Sedangkan BOR akumulatif di angka 50 persen. Kalau sesuai standart, 60 persen saja sudah bagus, kita malah di bawah itu,” tambah Sutiaji.

Pemilik kursi N1 itu menguraikan bahwa RSUD Kota Malang dari 40 bed, hanya terisi 13. Kemudian RS Dr Syaiful Anwar (RSSA) dari 144 tempat tidur, 80 yang terisi.

“Terus lagi di RS Marsudi Waluyo dari 39, yang terpakai 8 bed. RS Lavalette dari 69 bed, terisi 32 bed, dan RS Hermina dari 37 terisi 10 saja. Jadi akumulatif insyaallah kita sekitar 50 persen BORnya,” papar Sutiaji.

Selain itu, jumlah pasien Covid-19 yang menjalani isolasi mandiri (Isoman) pun juga tinggal 31 belum dibawa ke isolasi terpusat (Isoter).

“Kasus aktif sekarang 547, yang dirawat di RS rujukan ada 263, yang luar kota ada 43. Kemudian yang berada di Isoter 210, jadi sianya 31 orang itu masih Isoman,” bebernya.

Terakhir, ia menekankan akan terus berupaya memindahkan pasien Isoman ke Isoter, meski banyak kendala yang terjadi di lapangan.

“Ada beberapa pasien yang tidak bisa mandiri, karena sudah tua dan tuna netra. Kalau di Isoter kan harus mandiri mengurus diri sendiri. Sehingga beberapa belum bisa dipindahkan,” ujar Sutiaji. (mus/ed2)

Lanjutkan Membaca
Advertisement
klik untuk berkomentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *