Connect with us

Pendidikan

Dispendik Surabaya Tugaskan Tim Satgas Mandiri untuk Awasi PTM

Diterbitkan

||

Memontum Surabaya – Dinas Pendidikan Surabaya (Dispendik) telah menugaskan Tim Satgas Mandiri Sekolah selama pelaksanaan Kegiatan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas di Surabaya.

Kepala Dispendik Kota Surabaya, Supomo, mengatakan bahwa tim satgas mandiri sekolah bertujuan untuk mengawasi jalannya PTM terbatas. 

baca juga

Dalam penerapannya, mereka berjalan beserta kepala sekolah masing-masing untuk melakukan pengamatan serta pemantauan pada siapapun yang berada di lingkungan sekolah.

Supomo menjelaskan, jika ditemukan tanda-tanda tidak sehat pada seseorang, satgas mandiri pihak sekolah wajib melakukan beberapa tindakan. “Kalau siswa (yang sedang tidak sehat), kita minta untuk mengikuti daring dari rumahnya. Kalau dia guru, bisa mengajar daring dari rumah,” kata Supomo, Minggu (26/09/2021).

Lebih lanjut Supomo menyebutkan, ada 213 sekolah swasta dan negeri di Kota Surabaya. Seluruhnya, telah menggelar PTM terbatas sedari diperkenankan pasca lolos asesmen dan simulasi PTM terbatas.

“Mulai Senin (20/09/2021), 112 sekolah, baik negeri maupun swasta. Ditambah Jenjang SMP, 213 sekolah, terus bertambah dan dinamis, seiring selesainya asesmen,” ujarnya.

Supomo meyakini, seluruh penerapan dan pelaksanaan PTM terbatas sudah menerapkan prokes ketat. Ia mengaku, enggan tergesa-gesa membuka PTM terbatas suatu sekolah sebelum dinyatakan lolos asesmen dan menggelar simulasi PTM. 

Selain itu, Supomo pun tak mau PTM terbatas justru menimbulkan klaster baru di kota pahlawan. Maka dari itu, ia memastikan agar setiap sekolah melakukan evaluasi harian.

Lebih lanjut dirinya mengatakan, nantinya hasil dari evaluasi tersebut langsung dilaporkan pada Dispendik Kota Surabaya, mulai dari kondisi sekolah hingga penerapan prokes. 

Ditambahkan, biasanya pakar datang ke sekolah untuk memantau langsung pelaksanaan PTM terbatas. Sehingga, mereka bisa mengikuti perkembangan PTM dan bisa lebih tepat dalam mengevaluasi. 

“Biasanya, kita rapat sama pakar seminggu sekali (untuk mengevaluasi PTM terbatas),” tuturnya.

Sementara itu, Supomo mengaku lega, lantaran hasil evaluasi selama PTM terbatas dalam 2 minggu belakangan lebih tak ditemukan klaster baru. Kendati, masih ada beberapa siswa yang bandel lantaran kurang disiplin dalam menerapkan prokes.

“Alhamdulillah sudah sesuai prokes. Terkadang, siswa lupa (dengan prokes), kami ingatkan,” terangnya. (ade/sit)

Lanjutkan Membaca
Advertisement
klik untuk berkomentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *