Connect with us

KREATIF MASYARAKAT

Hidup Seorang Diri, Perempuan Paruh Baya Situbondo tetap Berjuang Hidup sebagai Pemecah Batu

Diterbitkan

||

Memontum Situbondo – Usia tua tidak menghalangi semangat untuk tetap bekerja. Gambaran itulah, yang sekilas nampak pada diri Nadiye.

Ya, meski sudah memasuki kepala enam, namun Nadiye tetap menekuni pekerjaannya sebagai pemecah batu di Desa Kotakan, Kecamatan Situbondo. Pekerjaan itu terpaksa digelutinya, memang karena tidak ada pilihan.

Baca juga:

Di tengah panasnya terik sinar matahari siang itu, Nadiye tampak sibuk memecahkan batu plontos untuk dijadikan menjadi batu koral. Meski harus menguras tenaga di usianya yang sudah senja, namun dia dengan sabar tetap menekuninya. 

Baginya, itulah satu-satunya pekerjaan yang tidak memandang usia. Dengan harapan, dari pekerjaannya itu juga, bisa untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Di usia Nadiye yang sudah 62 tahun, sosok yang yang satu ini tinggal seorang diri di Dusun Krajan Desa Kotakan Situbondo. Nadiye sendiri, sadar harus tetap banting tulang agar kebutuhan setiap harinya terpenuhi. 

“Saongguna, tenaga bule pon tak kuat. Mon alako mecah beto. Tape beremma pole tadek se ekalakoa pole. (Sebenarnya, tenaga saya sudah tidak kuat lagi bekerja sebagai tukang memecah batu. Karena saya sudah tua. Tapi apa daya tidak ada pekerjaan lain, selain menekuni pekerjaan sebagai tukang pecah batu),” tutur Nadiye dengan Bahasa Madura, Sabtu (02/10/2021).

Nadiye mengaku, penghasilan yang didapatnya tidak seberapa besar. Dia baru dapat penghasilan, jika batu coral hasil pecahannya itu sudah laku.

“Jadi, setiap harinya belum tentu mendapatkan penghasilan. Kalau ada pembeli atau tengkulak, baru bisa mendapat penghasikan,” ucap Nadiye.

Perempuan paruh baya ini menjelaskan, bahwa harga jual batu coral miliknya, hanya sekitar Rp 190 ribu dalam satu pick upnya. Sementara untuk mendapatkan satu pick up, dirinya harus bersusah payah mengumpulkan batu coral selama enam hari. 

“Untuk mendapatkan penghasilan sesuai harapan. Saya harus bersusah payah mengumpulkan batu coral hingga terkumpul satu pick up. Baru setelah itu, saya dapat penghasilan sekitar Rp 90 ribu setelah dipotong modal. Pekerjaan itu, saya kerjakan selama lima hari hingga enam hari,” tuturnya.

Sementara itu, kolega Nadiye, Haera, yang juga tukang pecah batu, menyampaikan bahwa Nadiye adalah sosok seorang yang tekun. Sebagai bukti, sang teman tersebut selalu bekerja tepat waktu. Nadiye bekerja mulai pukul 08.00 hingga sore hari. 

Haera menambahkan, selama bekerja dengan Nadiye, tidak banyak keluhan hidup yang disampaikan. Hanya sesekali, Nadiye mengeluh karena hidupnyabyang sendirian dan tidak punya siapa-siapa.

“Dia menjalani hidup hanya seorang diri, untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Orang seperti Nadiye, harusnya juga mendapat perhatian dari sekelilingnya,” paparnya. (her/sit)

Lanjutkan Membaca
Advertisement
klik untuk berkomentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *