Connect with us

SEKITAR KITA

DP5A Gelar Sosialisasi Deteksi Dini Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak

Diterbitkan

||

Memontum Surabaya – Dinas Pengendalian Penduduk, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP5A) bersama Bunda Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Kota Surabaya menggelar sosialisasi deteksi dini pencegahan dan penanganan kekerasan terhadap perempuan dan anak di masa pandemi Covid-19.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala DP5A Surabaya, Antiek Sugiharti, mengatakan bahwa kegiatan sosialisasi ini memiliki target pada Bunda Paud yang berada di 154 kelurahan di Kota Surabaya. “Bunda Paud yang berinteraksi dengan anak-anak. Sehingga kami akan bekali, kami berikan triknya, supaya ibu bisa mendeteksi sejak dini apakah anak didiknya di lingkungan tersebut menjadi korban atau pelaku kekerasan,” ujar Antiek Sugiharti, Selasa (12/10/2021).

Selain itu dirinya juga menyampaikan, bahwa kegiatan ini adalah kegiatan dari dana alokasi khusus Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Anak Republik Indonesia, dari Kegiatan Kekerasan Perempuan dan Anak, Khususnya Korban Tindak Pidana Perdagangan Orang.

Baca juga:

Lebih lanjut, Antiek juga memaparkan bahwa di masa pandemi angka kekerasan pada anak meningkat dan angka permintaan atau rekomendasi pernikahan dini juga ikut meningkat. “Latar belakang inilah, yang mendasari kegiatan kami, saat ini adalah bagaimana cara mendidik anak, bagaimana hak dan kewajiban pada anak,” ujarnya.

Dirinya menekankan, bahwa Bunda Paud memiliki peran penting dalam membimbing dan mendampingi anaknya. “Kami berharap Bunda Paud sebagai pembimbing dan pendamping perjalanan anak-anak di usia dini, sehingga kalau sudah mendapatkan bekal atau pengetahuan anak-anak ini dengan cara yang tepat dan benar, Insyaallah anak-anak ini akan menjadi lebih baik,” harapnya. 

Sementara itu, Bunda PAUD Kota Surabaya, Rini Indriyani Eri Cahyadi mengatakan, bahwa Pandemi Covid-19 memiliki dampak yang sangat luar biasa kepada anak-anak. Sebab, anak-anak disibukkan dengan pembelajaran secara daring yang membuat mereka semakin leluasa memanfaatkan gadget.

“Kebiasaan memakai gadget dan tidak jauh dari media sosial (Medsos) sudah menjadi kebiasaan sehari-hari. Salah satu pengaruh negatifnya adalah dari Medsos, memicu munculnya pembullyan, karena kekerasan pada anak tidak hanya secara fisik, tetapi juga secara mental,” ujar Rini.

Selain itu, Rini menjelaskan bahwa kekerasan mental yang terjadi biasanya dilakukan tanpa disadari oleh anak-anak. Alhasil anak-anak tersebut mulai terbiasa melakukan hal itu secara berulang-ulang.

“Tanpa disadari oleh anak-anak tersebut bisa membuat anak-anak melakukan pembullyan di media sosial, parahnya pembullyan yang mungkin mereka tidak tahu, lalu ikut-ikutan sehingga menjadi kebanggan, nah itu yang perlu kita antisipasi dan kita deteksi,” terangnya.

Menurut Rini, para Bunda Paud harus mempunyai kekuatan yang luar biasa dengan kepedulian dan empatinya untuk memberikan pendampingan dan pengetahuan kepada anak-anak sejak usia dini. “Saya rasa disinilah tugas kita sebagai Bunda Paud bisa memberikan pendampingan dan pengetahuan. Kemudian bagaimana kita harus bisa menyampaikan hal itu kepada anak-anak dengan cara komunikasi yang mudah dipahami,” ungkapnya.

Lebih lanjut dirinya menjelaskan, bahwa permasalahan kekerasan mental pada anak bisa berlanjut hingga anak tersebut tumbuh dewasa. Maka peran orang tua juga dirasa cukup penting untuk tumbuh kembang anak.

“Ini akan sangat berpengaruh dengan kehidupan mereka kelak. Jika dari kecil mereka mendapatkan pembullyan atau kekerasan secara mental, maka akan mempengaruhi sikap dan kebiasaan ketika mereka sudah dewasa,” ucapnya. (ade/gie)

Lanjutkan Membaca
Advertisement
klik untuk berkomentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *