Connect with us

SEKITAR KITA

Ketua Forum Puspa Trenggalek Ajak semua Elemen Berkolaborasi Cegah Perkawinan Anak

Diterbitkan

||

Memontum Trenggalek – Menjadi nara sumber dalam kampanye pencegahan pernikahan anak yang digelar PD Nasyiatul Aisyiyah, Ketua Forum Puspa Trenggalek, Novita Hardini, mengajak seluruh elemen berkolaborasi cegah perkawinan anak.

Menurut Ketua Puspa Trenggalek, bahwa kasus utama stunting bukan hanya kurang gizi. Akan tetapi juga faktor lainnya. “Banyak sekali penyebab, utamanya perkawinan anak. Karena anak di bawah usia (19 tahun), seharusnya rahimnya belum siap. Lalu, mentalnya juga belum siap. Tentunya, ini akan meningkatkan peluang anak lahir stunting,” ungkap Novita saat dikonfirmasi usai kegiatan, Kamis (04/11/2021).

Inisiator Sepeda Keren Trenggalek ini menyampaikan jika hal itu yang harus diutamakan oleh Pemerintah Kabupaten Trenggalek. “Dan mengajak kepada semua pihak untuk berkolaborasi, bekerjasama dalam mengkampanyekan pencegahan pernikahan dini di Kabupaten Trenggalek,” imbuhnya.

Tidak hanya mengedukasi, tetapi menggerakkan masyarakat, utamanya Tim Penggerak PKK tidak henti-hentinya memberikan sosialisasi pentingnya makanan yang sehat, bergizi seimbang di setiap keluarga. Selain itu, juga merubah sudut pandang dan kepercayaan masyarakat, anggapan susu formula lebih penting, padahal ASI sangat penting sekali bagi perkembangan anak. Terus vitamin-vitamin juga penting bagi ibu hamil.

“Kita dari Forikan juga tak henti-henti mengkampanyekan gemar makan ikan. Kegiatan-kegiatan ini rutin kita lakukan di 14 kecamatan. Harapannya bisa menurunkan angka stunting yang ada di Kabupaten Trenggalek,” jelas ibu 3 anak ini.

Sebelum pandemi, lanjutnya, angka stunting di Trenggalek masih tinggi. Ditambah pandemi menjadikan ekonomi lesu dan menurun. “Maka ini semakin berat lagi kita perjuangkan. Maka dari itu Pemkab Trenggalek tidak bisa sendiri, perlu kolaborasi dari semua pihak,” tegasnya.

Terlebih, pernikahan anak dampak negatifnya tidak hanya pemerintah saja tapi juga setiap keluarga itu sendiri. Sehingga, ini bukan hanya tanggungjawab pemerintah daerah, melainkan juga tanggung jawab semua lapisan masyarakat yang ada.

“Mari sama-sama mengupayakan stop pernikahan anak di Kabupaten Trenggalek,” ajak istri Bupati Trenggalek ini.

Terakhir, penggiat perempuan ini mengucapkan terima kasih kepada Nasyiatul Aisyiyah Trenggalek, yang ikut membantu pemerintah dalam upaya pencegahan pernikahan anak. Dirinya juga mengajak tidak hanya organisasi perempuan saja untuk ikut berpihak pada perempuan, anak dan kelompok rentan. Sehingga pembangunan yang inklusif di Trenggalek bisa terwujud. (mil/gie)

Lanjutkan Membaca
Advertisement
klik untuk berkomentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *