Connect with us

KREATIF MASYARAKAT

Mengingat Pertempuran 10 November, Strategi Gerilya Salah Satu Faktor Kemenangan Indonesia Lawan Sekutu

Diterbitkan

||

Memontum Surabaya – Strategi gerilya menjadi salah satu faktor utama kemenangan Indonesia melawan sekutu pada pertempuran 10 November. Mengingat pada saat itu, kepentingan sekutu juga ditunggangi oleh Inggris. Otomatis, kesiapan perang sekutu dan Inggris sangat mumpuni bila dibandingkan dengan Indonesia.

Dosen Ilmu Hubungan Internasional Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jatim (UPN) Surabaya, Probo Darono Yakti, menceritakan bahwa faktor kemenangan Indonesia salah satunya didorong oleh doktrin keamanan Indonesia, yakni Hankamrata. Salah satu strategi yang diterapkan adalah perang gerilya. 

Baca juga:

“Indonesia baru merdeka beberapa bulan. Sementara sumber daya, resource itu masih sangat terbatas. Jadi dalam kondisi yang sangat terpepet, senjata seadanya, mulai dari bambu runcing, senjata api itu pun juga rampasan dari penjajah Jepang,” kata Probo-sapaan akrabnya, Rabu (10/11/2021). 

Jadi, dirinya menjelaskan, berdasarkan keterbatasan sumber daya itu tadi, akhirnya strategi hack the system dengan perang gerilya. Strategi itu disempurnakan dengan adanya gerakan grass root jadi kuncinya. Dalam pertempuran 10 November di Surabaya, pemuda yang bertempur bukan hanya datang dari Surabaya. Namun dari berbagai wilayah.

“Ada yang dari Sidoarjo, Gresik, Mojokerto, massa itu kan semakin terkonsentrasi ke Surabaya. Menggempur sekutu yang diboncengi Inggris,” ujar lulusan Universitas Airlangga jurusan Hubungan Internasional ini.

Lebih lanjut, Probo menilai, value utama dari kemenangan dan pertempuran 10 November adalah bondo nekat atau bonek. Sebab, untuk melawan sekutu dengan tank baja dan senjata yang jauh lebih canggih, pejuang asli Surabaya hanya berbekal alat seadanya atau membonek.

“Senjata Sekutu dan Inggris ada tank baja dan lain sebagainya. Kita itu cuma bondo nekat. Value utamanya, dalam kondisi terdesak, gerakan massa dari berbagai suku agama ras, itu punya 1 visi yang sama. Semangatnya 17 Agustus 1945. Konsentrasinya disitu,” terang dia. 

Semangat pejuang kemudian terus disulut oleh pahlawan-pahlawan seperti Residen Soedirman, Roeslan Abdul Ghani, KH Hasyim Asy’ari. Peran tokoh ini adalah memperkuat basis massa. Mereka bisa menggemakan semangat dan gelora. “Ada 300 ribu pemuda yang tewas di depan Jalan Pahlawan. Di Tugu Pahlawan kan ada makam pahlawan yang tidak dikenal. Secara saintifik, perang gerilya,” tegas dia.

Sementara itu, menurut dia, pertempuran 10 November merupakan awal implementasi strategi gerilya. Secara konseptual, sebelum kemerdekaan, belum ada strategi gerilya secara nyata. “Kalau dulu, sebelum merdeka, itu kan belum ada yang bisa mengatakan Diponegoro (salah satu pahlawan nasional) berjuang demi Indonesia. Dulu kan negara belum terbentuk. Kepentingannya untuk mengusir Belanda,”jelasnya. 

Setelah merdeka, lanjut dia, kepentingan atau interestnya untuk Indonesia. Penggunaan grass root, senjata rampasan atau tradisional seperti busur dan panah, sama semua.”Setelah merdeka, semua berupaya untuk Indonesia tidak dijajah dan bisa berdiri secara merdeka,” ungkapnya. (ade/gie)

Lanjutkan Membaca
Advertisement
klik untuk berkomentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *