Connect with us

SEKITAR KITA

Tidak Ingin Musibah Nataru Terulang, Polrestabes Surabaya Gelar Rakor untuk Rencana Pengamanan

Diterbitkan

||

Tidak Ingin Musibah Nataru Terulang, Polrestabes Surabaya Gelar Rakor untuk Rencana Pengamanan

Memontum Surabaya – Polrestabes Surabaya dan Pemkot Surabaya melakukan Rapat Koordinator (Rakor) dengan perhimpunan para Gereja, Jogoboyo dan Fungsi lintas sektoral terkait dalam rencana pengamanan natal dan tahun baru (Nataru) 2022 di Surabaya.

Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol Akhmad Yusep Gunawan, mengatakan bahwa Kota Surabaya pernah mengalami situasi yang kurang nyaman saat proses kebaktian. Seperti bom bunuh diri dan aksi teror tahun 2018 lalu. Menurutnya, ini menjadi catatan penting.

“Terkait situasi di tengah pandemi Covid-19, bahwa pola pengamanan Natal dan tahun baru kami persiapkan dari awal untuk proses pelaksanaannya berjalan dengan baik dan tidak terjadi transmisi Covid-19,” jelasnya, seusai Rakor di Polrestabes Surabaya, Senin (15/11/2021).

Yusep juga menyampaikan, bahwa pihaknya berencana akan menentukan pola terkait kesehatan dan keamanan. Sehingga, saat kebaktian dan Natal, setiap umat akan menggunakan fasilitas digital.

“Menggunakan undangan yang sudah tercatat dan melalui barcode. Artinya, ini untuk memastikan bahwa yang diundang pihak gereja adalah betul yang hadir. Hal itu, juga untuk mengantisipasi potensi-potensi yang tidak diinginkan,” ujarnya.

Baca juga :

Lebih lanjut Yusep juga menjelaskan, untuk pola keamanan di Gereja, pihaknya memastikan kegiatan itu terjaga. Yaitu, membuat konsep pengamanan ring dan berlapis serta melakukan upaya pembatasan.

“Pembatasan dilakukan dalam rangka PPKM dan mengantisipasi potensi, sekat kota dan wilayah lingkungan gereja,” jelasnya.

Selain itu, untuk tahun baru, pihaknya akan upayakan aktivitas masyarakat untuk menghindari adanya transmisi terkait gelombng 3 penyebaran Covid-19 di Surabaya. “Kita akan kita konsepkan proses pembatasan maupun penyekatan, kita akan lihat efektifnya seperti apa tanpa mengurangi fasilitas ruang, tetap berjalan dengan baik,” ujarnya.

Demikian tempat wisata, sesuai ketentuan PPKM, yang pembatasannya jelas dilakukan, baik dari aplikasi peduli lindungi maupun ketaatan masyarakat terhadap regulasi yang berlaku. “Keamanan Covid-19 tergantung masyarakat untuk saling mengingatkan, saling membantu, dan bergotong royong untuk memastikan Surabaya tetap aman dari covid dan berbagai gangguan kamtibmas,” ungkapnya.

Sementara itu, Persekutuan Gereja-Gereja dan Lembaga-lembaga Injil Indonesia Kota Surabaya atau Pendeta, Samuel Kusuma, menyampaikan dengan pertemuan ini pihaknya akan memberitahu ke semua anggota gereja di Kota Surabaya.

Samuel menjelaskan, untuk sistem barcode sendiri, pihaknya pakai sistem online. Lalu, sekitar 1 minggu sebelumnya jemaat wajib mengisi daftar hadir. Itu dilakukan di semua gereja yang melakukan online atau hybrid.

“Karena dibatasi sesuai ketentuan, sekarang 75 persen, kebanyakan yg hadir dibawah 50 persen, itu biasanya gereja-gereja menengah ke atas. Kalau dari gereja kecil – kecil itu onsite lah, kita juga lakukan untuk manula untuk tidak melakukan ibadah di gereja terlebih dulu,” jelasnya. (ade/sit)

Lanjutkan Membaca
Advertisement
klik untuk berkomentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *