Connect with us

Pemerintahan

Simposium Inovasi Pelayanan Publik Jatim, Ini Pengalaman yang Dibagikan Bupati Trenggalek

Diterbitkan

||

Simposium Inovasi Pelayanan Publik Jatim, Ini Pengalaman yang Dibagikan Bupati Trenggalek
SIMPOSIUM: Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin, saat berbagi pengalaman dalam simposium inovasi nasional pelayanan publik di Grand City Mall Surabaya.

Memontum Trenggalek – Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin, berbagi pengalaman perjalanan memimpin Kabupaten Trenggalek, dalam Simposium Inovasi Pelayanan Publik Provinsi Jatim Grand City Mall Surabaya.

Bukan tanpa alasan, kehadiran Bupati muda di festival inovasi ini. Karena, Bupati Arifin dianggap sangat inovatif dalam memimpin daerahnya. Bahkan, setelah melakukan kompetisi inovasi (Trenggalek Inovation Fest), inovasi di Trenggalek mampu tumbuh subur.

Mengawali ceritanya, suami Novita Hardini itu, menyampaikan kalau kemampuan anggaran di suatu kabupaten atau kota, itu besar tentunya tidak akan ada banyak masalah. Namun yang terjadi di Trenggalek, justru sebaliknya.

Karena kemampuan anggarannya minim, tambahnya, tentu menjadi suatu masalah. Belum lagi, kritikan netizen dan masalah yang lainnya. Semua ini, dijawab dengan lahirnya inovasi.

Awal menjabat sebagai Bupati Trenggalek, bupati yang sangat konsen terhadap inklusifitas di daerahnya, itu menginginkan kinerja ASN berdasar survey kepuasan masyarakat. Ada penilaian langsung dari masyarakat atas layanan yang diberikan kepada masyarakat, sehingga kinerja ASN bisa sesuai harapan masyarakat.

“Bupati adalah jabatan politis yang dipilih oleh masyarakat, yang memiliki jangka waktu. Dipilih rakyat, tentunya tugas saya memberikan layanan yang terbaik kepada masyarakat. Sedangkan ASN, merupakan jabatan biroktaris yang jangka waktunya sampai mereka pensiun. Maka dari itu saya ingin iklim birokrasi ini bisa menyatu dengan iklim politis dalam menjawab tantangan masyarakat,” ucap Bupati Arifin, Jumat (19/11/2021) sore.

Lebih lanjut dirinya menambahkan, setiap ASN kredit poinnya kepuasan masyarakat. Yang menilai langsung masyarakat. Bila kreditnya 80 persen, maka TPP yang diberikan 100 persen. Tentunya, untuk bisa melayani dengan optimal, susah. Maka dari itu, manfaatkan tekhnologi guna mempermudah kerja dalam melayani masyarakat.

“Saya tidak ingin inovasi yang lahir sebagai program bupati. Melainkan, inovasi ini lahir guna wujudkan cita cita Indonesia,” lanjut pria yang akrab disapa Gus Ipin itu.

Inovasi tidak akan sukses, tambahnya, tanpa kolaborasi. Semakin kreatif suatu negara, maka semakin makmur suatu negara tersebut. “Ingin membangun Trenggalek bareng-bareng, tentunya upaya ini perlu mendengarkan masukan dari semua lapisan masyarakat,” imbuhnya.

Tidak mungkin bisa menyasar semua, sambungnya, kelompok yang mewakili ini adalah perempuan. Pendidikan anak, gizi keluarga dan masih banyak urusan yang lainnya tidak lepas peran dari sosok perempuan.

“Kenapa fokus perempuan, menurut survey kalau perempuan berpenghasilan 90 persen pendapatan itu akan kembali ke keluarga. Karena itu, Trenggalek fokus ke perempuan,” tegas Bupati.

Dari sini, imbuhnya, maka lahir Musrena Keren (Musyawarah Perencanaan Perempuan, Anak, Disabilitas dan Kelompok Rentan) di Trenggalek. Perempuan, anak, disabilitas dan kelompok rentan diberikan wadah untuk bisa ikut berpartisipasi dalam pembangunan. Hasil Musrena Keren, dibawa ke forum-forum musrenbang.

Musyawarah ini sendiri, dilaksanakan sebelum musrenbang desa, kecamatan hingga tingkat kabupaten. Sehingga, dengan begitu usulan mereka terwadahi dalam forum perencanaan itu. Tidak hanya menyediakan wadahnya, disediakan juga sekolahnya.

“Sepeda Keren (Sekolah Perempuan, Anak, Disabilitas dan Kelompok Rentan), perempuan dan kelompok rentan ini didorong agar meningkatkan kapasitasnya dengan pendidikan vokasi,” paparnya.

Baca juga :

Sehingga, ujarnya, mereka mampu mengambil peran lebih dalam keluarga. Tujuannya, tentunya meningkatkan kesejahteraan keluarga.

“Selain ruang untuk perempuan dan kelompok rentan ada juga festival gagasan, mewadahi kelompok muda yang suka mengkritisi pemerintah, untuk ikut sumbangsih gagasan. Dengan begitu, perencanaan pembangunan di Trenggalek lebih aspiratif,” terangnya.

Masih kata Mas Ipin-sapaan akrabnya, gagasan lain yang dilakukan, mengeliminer praktik rentenir dengan Kredit Gangsar (Pedagang Pasar) dengan bunga 0 persen. Praktik rentenir kepada pedagang pasar menggelitik keprihatian dari bupati muda itu. Bukannya memperkuat, justru banyak pedagang yang terjerat oleh praktik ini karena bunga yang mencekik.

Dengan menggandeng Bank Daerah (BPR Jwalita), ujar Nur Arifin, menggagas Kredit Gangsar tersebut. Sistem yang dilakukan tanggung renteng, sehingga antar pedagang bisa saling mengingatkan.

“Dengan program ini banyak pedagang mengakses program ini. Bahkan dari kredit yang mula mula sedikit, hingga punya anggunan untuk pinjaman modal yang lebih besar. Menariknya tidak ada yang nunggak angsuran,” jelas Mas Ipin.

Selain itu juga, kontroversi keberadaan minimarket berjejaring. Bupati Arifin membuat inovasi regulasi minimarket berjejaring ini, tidak boleh dimiliki perorangan. Namun, harus berdiri di atas koperasi sehingga yang menikmati keuntungannya banyak orang.

Yang paling mencolok lainnya adalah upaya penanganan masalah kemiskinan. Karena, kemampuan anggaran yang dimiliki sangat minim, tentunya penanganan kemiskinan tidak dapat dilaksanakan secara maksimal.

Selain itu, tambahnya, sistem penganggaran pemerintah yang harus melalui mekanisme penganggaran sebelumnya, menjadikan penanganan kemiskinan tidak dapat dilakukan cepat.

Tidak bisa seperti ini, mantan pengusaha peralatan rumah tangga ini, membuat sebuah gerakan. Alasannya, penanganan kemiskinan tidak bisa ditunda-tunda atau harus menunggu ada uangnya. Dari permasalahan ini lahirlah GERTAK (Gerakan Tengok Bawah Masalah Kemiskinan). Dengan program ini penanganan kemiskinan bisa dilakuan lebih masif lagi. Bahkan demi mewujudkan ini, dirinya rela mengorbankan ruang kerjanya untuk membuat Posko GERTAK.

“Tentunya gerakan ini perlu dukungan anggaran agar penanganan kemiskinan berjalan. Kemudian bapak 3 anak ini menginisiasi sedekah rizqi ASN bekerjasama dengan BAZNAS. Dari sebulan anggaran yang masuk ke BAZNAS hanya sebesar Rp 11 juta, sekarang menjadi Rp 6 miliar,” ungkapnya.

Gerakan ini, tambahnya, semakin lengkap dengan adanya gerakan sedekah informasi dengan membentuk Pasukan Pink. Sebuah komunitas sosial media diajak berkontribusi dalam penanganan kemiskinan tersebut.

Karena upaya yang dilakukan itu, sempat penurunan kemiskinan Trenggalek tertinggi di Jatim, meskipun beberapa waktu lalu naik lagi karena pandemi

Upaya lain, terangnya, di Trenggalek keluarga yang bisa menjaga kesehatannya dibayar. Caranya, dengan mengkolaborasikan beberapa program pemerintah seperti PKH. ” Kami tidak ingin anggaran negara ini habis untuk kegiatan kuratif melainkan bisa lebih digunakan masyarakat dalam menjaga kesehatannya,” papar Mas Ipin.

Upaya yang dilakukan Bupati Arifin di Trenggalek ini, pun mendapatkan banyak tanggapan dari banyak pihak. Seperti Eni, salah satu ASN Pemkab Tulungagung, yang ikut hadir dalam kegiatan ini yang merasa tertarik bagaimana Trenggalek mengakomodir perempuan serta bagaimana mendorong perempuan ini menjaga 12 indikator kesehatan keluarga. (mil/sit)

Lanjutkan Membaca
Advertisement
klik untuk berkomentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *