Connect with us

SEKITAR KITA

Kasus DBD Situbondo Selama 2021 di Angka 465

Diterbitkan

||

Kasus DBD Situbondo Selama 2021 di Angka 465

Memontum Situbondo – Potensi penyebaran kasus demam berdarah (DBD) di Kabupaten Situbondo perlu diantisipasi. Itu karena, kondisi musim hujan, bisa memicu atau berpotensi akan munculnya jentik nyamuk tersebut.

Dari data yang dihimpun memontum.com dari Dinas Kesehatan Situbondo, menyebutkan bahwa penyebaran penyakit berbahaya itu sejak awal tahun 2021 hingga saat ini, tercatat total 465 kasus DBD. Dimana, kesemuanya tersebar di beberapa Kecamatan. Untuk itu, Dinas Kesehatan (Dinkes) menghimbau agar semua elemen segera melakukan pencegahan sejak dini.

“Musim hujan saat ini perlu ditingkatkan kewaspadaannya terkait penularan DBD,” ucap Kadinkes Situbondo, Dwi Herman Susilo, Rabu (24/11/2021).

Ditambahkan Dwi, salah satu pencegahannya adalah memberantas sarang nyamuk dan melakukan tindakan 3M. Yakni, menguras, menutup tempat pembuangan air dengan rapat, dan membuang sampah yang berpotensi menjadi sarang nyamuk.

Menurutnya, jika ada warga yang mengalami demam beberapa hari, diharapkan segera melakukan pemeriksaan. Itu dilakukan, untuk memastikan kondisi sekaligus mendapatkan penanganan. Sehingga, tidak berakibat fatal.

”Pencegahan lain dengan membunuh jentik, sehingga tidak meluas. Kalau fogging (penyemprotan) hanya dapat membunuh nyamuk dewasa. Jika hanya nyamuk dewasa yang mati, tentu upaya fogging tidak efektif,” imbuhnya.

Sementara itu, Kasie Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Menular Dinkes Situbondo, Heryawan, menjelaskan bahwa rincian 465 kasus, juga sampai mengakibatkan pasien meninggal dunia.  Seperti Januari, ada 111 kasus, dengan 1 orang meninggal. Sedangkan Februari, kasus DBD sebanyak 197 dengan angka kematian 1 orang. Selanjutnya, kasus DBD Maret dan April, masing-masing sebanyak 98 dan 82 kasus dengan angka kematian 1 orang.

Baca juga :

Sementara Mei dan Juni 2021, kasus DBD diangka 44 dan 12 kasus, dengan angka kematian nol atau nihil. “Mulai Mei, angka penderita DBD menurun. Namun, empat bulan pertama atau dari Januari-April, angka penderita DBD cukup tinggi,” jelasnya.

Heryawan kembali menjelaskan, dalam empat bulan terakhir, mulai Juli hingga Oktober, kasus penderita DBD semakin menurun. Buktinya, Juli dan Agustus penularan DBD hanya 4 kasus. Sedangkan September hanya 3 kasus DBD. “Pada Oktober, tidak ditemukan warga yang menderita DBD, juga tidak ada warga yang meninggal disebabkan penyakit DBD,” katanya.

Diterangkan, penyakit DBD biasanya terjadi pada hari ke empat dengan kondisi badan panas tinggi sampai 38-40 celcius. Namun, ketika memasuki hari kelima, suhu panas badan baru mulai turun. Kondisi inilah, justru berbahaya bagi orang tua yang biasanya menganggap anak tersebut sudah sembuh.

“Kebiasaan lain jika ada anak sakit DBD, tidak segera merujuk ke rumah sakit atau faskes lainnya. Sebaliknya, baru merujuk anak ke RS saat kondisi sudah memburuk,” terang Heryawan.

Potensi penyebaran DBD di Situbondo, juga menjadi perhatian Ketua Komisi IV DPRD Situbondo, Arifin. Dirinya mengatakan, Dinas Kesehatan (Dinkes) segera mengambil langkah-langkah pencegahan. Seperti, melakukan fogging atau pencegahan lainnya dengan baik. Sebab, saat ini sudah memasuki musim hujan.

“Langkah cepat, pertama tentunya pencegahan, bagi daerah atau kecamatan bahkan desa ada kasus DBD itu harus menjadi perhatian khusus Dinas Kesehatan. Kami akan melakukan fungsi control untuk mendukung langkah Dinkes. Jadi, titik-titik mana saja yang sudah ditangani kasus DBD tersebut,” paparnya. (her/sit)

Lanjutkan Membaca
Advertisement
klik untuk berkomentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *