Connect with us

Lumajang

Datangi Lokasi Bencana Semeru, Panglima TNI Petakan Tempat Pengungsian dan Pencarian Korban Tertimbun

Diterbitkan

||

Datangi Lokasi Bencana Semeru, Panglima TNI Petakan Tempat Pengungsian dan Pencarian Korban Tertimbun

Memontum Lumajang – Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa, turun ke Kabupaten Lumajang, guna melihat kondisi pasca terjadi awan panas guguran (APG) Gunung Semeru. Bersama Kepala BNPB, Letnan TNI Suharyanto, Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa, Kapolda Jatim, Irjen Pol Nico Afinta, Plh Sekdaprov, Heru Tjahjono, Bupati Lumajang, Thoriqul Haq serta jajaran Forkopimda Jatim beserta Forkopimda Lumajang, Panglima TNI langsung menggelar rapat terbatas di Kantor Kecamatan Pasirian, Minggu (05/12/2021).

“Saya beserta Ibu Gubernur (Jawa Timur, red), Kepala BNPB, Kapolda Jatim kemudian Kepala BIN Daerah, Komandan Korem hingga Bapak Bupati, barusan saja secara spesifik kita melihat, sebetulnya daerah mana yang memungkinkan lebih bagus untuk dijadikan tempat menampung pengungsi. Ini, jalur yang kita pakai relatif mudah. Karena jalur yang kita pakai, adalah aliran lahar dingin karena warnanya putih. Dan titik tandanya, adalah di Jembatan Gladak Perak. Kita lihat batas terbawah, material berhenti atau matrial yang keluar dari Semeru,” tegasnya.

Ditambahkannya, secara umum intinya kita harus menangani ini dari dua sisi. Yaitu, dari Kabupaten Lumajang ke Gladak Perak. Kemudian dari sisi Kabupaten Malang, juga sampai titik ke Gladak Perak.

“Jadi, alat berat yang tadi kita dorong, itu sengaja kita dorong dari dua arah. Alat berat ini, dari Bataliyon Zipur X Kostrad. Diantaranya, 3 buldoser, 6 ekskavator, 7 dam truk, 3 backhoe loader, 2 kendaraan RO untuk menjernihkan air menuju Lumajang. Sementara dari arah Kabupaten Malang, Batalyon Zipur V, juga mengirim alat berat hampir sama, namun jumlahnya lebih sedikit dari arah Kabupaten Malang. Semua, akan mentok ke Gladak Perak. Ini nanti, dua posko yang kemudian akan dimanage BNPB,” tambah Panglima TNI.

Khusus kendaraan RO, tambahnya, adalah alat untuk menjernihkan air. Jadi, ketika ada kolam atau sumber air lokasi pengungsian, maka bisa dijernihkan hingga menjadi air layak minum. Tidak hanya untuk mandi, tapi bisa diminum.

Baca juga :

“Kita juga membawa dua alat light locater atau termo light locater. Jadi, alat untuk mendeteksi suhu tubuh, dari korban yang tertimbun,” paparnya.

Sementara itu, Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menyampaikan penggunaan SOP normatif tanggap darurat yang menjadi prioritas adalah pencarian dan penyelamatan (search and rescue). Pelaksanaan SOP tersebut, membutuhkan banyak tim karena banyak wilayah yang memiliki medan relatif berat. Sehingga membutuhkan alat berat untuk melakukan evakuasi.

“Juga dibutuhkan tim dengan tingkat keterampilan yang cukup, supaya mengetahui lapisan-lapisan di bawah masih panas dan aroma belerang masih kuat. Sehingga, perhatian dari tim SAR sangat penting,” ujarnya.

Dirinya menambahkan, untuk titik pengungsian membutuhkan tempat yang lebih aman. Sementara kebutuhan lain seperti tim kesehatan juga harus memiliki central posko kesehatan yang mendistribusikan secara mobile. Posko tersebut harus mampu mengakomodir kebutuhan kesehatan para korban. “Ketenangan bagi para pengungsi saat ini adalah yang terpenting. Terkait kerugian, nanti diharapkan dapat segera diidentifikasi dengan tepat,” paparnya.

Sementara itu dalam kesempatan sama, Kepala BNPB, Letnan TNI Suharyanto, menjelaskan bahwa sudah ada 14 korban meninggal dunia. “Proses pencarian akan terus lakukan dan dilakukan,” paparnya. (adi/sit)

Lanjutkan Membaca
Advertisement
klik untuk berkomentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *